
Lebih dari 700 orang tewas di Iran sejak perang pecah pada Sabtu (28/2) lalu. Data itu dilaporkan oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA), lembaga pemantau HAM berbasis di Amerika Serikat (AS), dalam pembaruan terbarunya pada Senin (2/3).
Dalam laporan tersebut, HRANA menyebut hingga Senin sore waktu timur AS, sedikitnya 742 warga sipil dilaporkan meninggal dunia, termasuk 176 anak-anak. Selain itu, lebih dari 900 warga sipil lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
“Setidaknya 85 orang tewas dalam 24 jam terakhir, dan kami masih memverifikasi ratusan laporan kematian lainnya,” demikian seperti dilansir CNN.
Mereka menegaskan bahwa analisis ini masih bersifat awal dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Selain korban jiwa, HRANA juga melaporkan kerusakan sejumlah bangunan dalam 24 jam terakhir. Di antaranya sebuah masjid di Karaj, sebuah kota dekat Teheran, lalu beberapa bangunan permukiman, kantor gubernur di selatan ibu kota, serta Dermaga Shahid Bahonar di Bandar Abbas yang berada di Selat Hormuz. Pemerintah Iran juga mengklaim sejumlah rumah sakit di Teheran mengalami kerusakan.

Untuk target militer, CNN mengutip laporan HRANA bahwa markas komando penegakan hukum Kurdistan dan pusat komando penjaga perbatasan Kurdistan di Sanandaj turut menjadi sasaran. Pangkalan udara di Isfahan serta sebuah pangkalan militer di Teheran juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Media internasional seperti CNN menyatakan tidak bisa memastikan kebenaran data tersebut secara langsung.



