
Terobosan Energi: Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Masa Depan?
Kabar gembira bagi para pejuang lingkungan dan penggiat daur ulang! Pemerintah telah mengambil langkah maju dengan melegalkan pengolahan sampah menjadi energi terbarukan. Kebijakan ini disambut hangat karena membuka jalan bagi pemanfaatan limbah, khususnya sampah plastik, sebagai sumber bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Landasan hukum untuk inovasi ini adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang penanganan sampah perkotaan melalui pengolahan sampah menjadi energi terbarukan berbasis teknologi ramah lingkungan. Perpres ini diharapkan menjadi angin segar bagi pengembangan energi bersih di Indonesia.
“Ini adalah angin segar bagi para pelaku waste to energy,” ungkap Heru Susanto, seorang peneliti dari Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan, bagian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Beliau menyampaikan pendapatnya kepada wartawan BBC News Indonesia, Yuli Saputra.
Heru, yang fokus pada penelitian pengolahan sampah plastik menjadi BBM, optimis bahwa Perpres yang disahkan pada 10 Oktober 2025 ini akan memacu produksi dan pemasaran BBM yang berasal dari sampah plastik. Namun, ia juga menekankan bahwa perjalanan untuk menjadikan BBM plastik ini sebagai bahan bakar umum masih panjang dan penuh tantangan.
Indonesia dan Masalah Sampah Plastik
Fakta yang mencengangkan: Indonesia termasuk dalam lima besar negara penghasil sampah plastik terbanyak di dunia.
Bahkan, studi dari University of Leeds yang dipublikasikan di jurnal Nature pada September 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil polusi plastik terbesar ketiga di dunia, dengan total 3,4 metrik ton per tahun.
Laporan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) juga menyoroti bahwa Indonesia adalah penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah China, dengan menghasilkan 3,2 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola setiap tahunnya. Tragisnya, 1,29 juta ton dari jumlah tersebut berakhir di lautan.
Mengenal BBM dari Sampah Plastik: Inovasi Bernama Petasol
Sebenarnya, ide mengolah sampah plastik menjadi BBM bukanlah hal baru. Metode pirolisis – yaitu proses pemanasan tanpa oksigen untuk mengubah plastik menjadi gas – telah lama digunakan oleh berbagai pihak.
Salah satu contohnya adalah Bank Sampah Banjarnegara (BSB), yang sejak 2014 telah memproduksi minyak bakar dari sampah plastik menggunakan mesin pirolisis rakitan bernama Faspol, hasil karya Budi Trisno Aji. Mesin ini terus dikembangkan untuk menghasilkan BBM yang lebih berkualitas.
Meskipun Faspol mampu menghasilkan bensin, BSB lebih memfokuskan produksinya pada BBM setara solar yang mereka beri nama Petasol – kependekan dari PE (Polyethylene, jenis plastik) to solar.

Hebatnya, replika Faspol – yang kini sudah mencapai generasi ke-6 – telah dibuat oleh setidaknya 55 kelompok masyarakat, terutama para pegiat sampah, di berbagai daerah. Salah satunya adalah Bank Sumberdaya Sampah (BSS) Induk Melong 26 Cimahi, yang menggunakan Faspol Gen-6 berkapasitas 100 kilogram.
Sejak Februari 2025, BSS Melong telah mengolah 30 ton sampah plastik menjadi BBM setara solar menggunakan reaktor Faspol.
“Dengan kapasitas 100 kilogram, kami bisa menghasilkan antara 60 liter hingga 90 liter per hari jika plastiknya bersih. Jika plastiknya cenderung kotor, kami menghasilkan minimal 70 liter per hari,” jelas Wahyu Dharmawan, pendiri BSS Induk Melong 26 Cimahi, saat ditemui di lokasi produksi Petasol di Kota Cimahi, Sabtu (11/10).
Baca juga:
* Ilmuwan ITB ubah bungkus mi instan menjadi bahan bakar minyak
* Mahasiswa Indonesia juara dunia teknologi mobil berbahan bakar sampah plastik
Saat ini, Petasol produksi BSS Melong masih digunakan secara terbatas oleh beberapa pemilik kendaraan. Pemasaran secara luas masih menunggu petunjuk teknis dari Perpres No. 109/2025.
Namun, Wahyu menegaskan bahwa tujuan utama BSS Melong memproduksi Petasol adalah untuk mengurangi timbulan sampah plastik bernilai rendah yang selama ini terabaikan.
Wahyu menjelaskan bahwa sampah plastik bernilai rendah (SPLV) mendominasi timbulan sampah nasional. Di Pulau Jawa saja, sekitar 45%-65% dari total timbulan sampah plastik adalah jenis ini.
“Kami berharap sampah plastik bernilai rendah ini tidak dibakar, dibuang ke sungai, atau dibawa ke TPA karena ukurannya besar tapi ringan,” kata Wahyu.
Oleh karena itu, masyarakat yang ingin menggunakan Petasol harus menyetor sampah plastik terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mendorong sirkular ekonomi, sesuai dengan amanat undang-undang.
“Petasol digunakan oleh mereka yang sudah setor sampah plastik. Ini adalah wujud sirkular ekonomi. Tujuan kami adalah memproses sampah plastik bernilai rendah menjadi BBM, mengembalikannya kepada masyarakat, dan mereka berhak membelinya,” jelas Wahyu.
Menariknya, pengguna Petasol saat ini justru banyak dari kalangan pemilik kendaraan premium. Selain itu, Petasol juga telah digunakan sebagai bahan bakar alat berat, traktor petani, dan perahu nelayan.
Bagaimana Proses Pembuatan Petasol?
Proses pembuatan Petasol memakan waktu beberapa hari dan melibatkan beberapa tahapan, mulai dari pemilahan sampah plastik hingga pengemasan.
Sampah plastik yang terkumpul dibersihkan, dikeringkan, dan dipilah berdasarkan jenisnya.
Untuk memproduksi Petasol, BSS Melong memanfaatkan sampah plastik dengan kode 2 High Density Polyethylene (HDPE), kode 4 Low Density Polyethylene (LDPE), kode 5 Polypropylene (PP), dan Kode 6 Polystyrene (PS). Contohnya adalah kantong kresek, styrofoam, dan kemasan mie instan. Sementara itu, plastik kode 3 Polyvinyl Chloride (PVC) dihindari karena mengandung unsur klorida yang bersifat korosif pada mesin.

Setelah dipilah, sampah plastik dimasukkan ke dalam tabung reaktor Faspol yang sudah dipanaskan dengan kayu bakar. Proses “memasak” dimulai ketika suhu mencapai 100 derajat Celsius, dan bisa mencapai 450 derajat Celsius di akhir proses.
Pemanasan ini memecah rantai polimer plastik menjadi molekul hidrokarbon yang lebih pendek dan menghasilkan uap. Katalis terkadang ditambahkan untuk meningkatkan rendemen atau konversi material kasar menjadi minyak bakar.
Baca juga:
* Kebijakan 10% etanol pada BBM dikhawatirkan memperparah deforestasi dan konflik lahan
* Limbah plastik bisa dimanfaatkan menjadi bahan bangunan, bagaimana caranya?
* Stok BBM di SPBU swasta nyaris nihil, apa dampak dugaan monopoli terhadap konsumen?
Sebagai gambaran, rendemen sampah plastik kotor berkisar antara 45%-55%. Dengan menambahkan katalis, rendemen bisa ditingkatkan hingga lebih dari 80%, atau 1 kilogram sampah plastik menghasilkan 0,8 liter minyak bakar. Katalis juga membantu meningkatkan selektivitas BBM yang dihasilkan, yaitu bensin dan solar, bukan lilin atau arang.
Uap panas dari reaktor kemudian dialirkan ke kondensor untuk didinginkan. Mesin Faspol menggunakan air sebagai media pendingin. Proses pendinginan ini mengubah uap menjadi cair atau minyak bakar.
“Kemudian, melalui proses pendinginan, fraksinasi, dan destilasi, dihasilkan bensin dan BBM setara solar. Dari situ, kami mematangkan produk menjadi Petasol dengan treatment tertentu. Setelah melalui berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk menghasilkan BBM alternatif setara solar,” tutur Wahyu.


Minyak bakar yang keluar dari keran Faspol diproses lebih lanjut untuk menghasilkan Petasol melalui beberapa tahapan penyaringan. Proses ini disebut ‘treatment‘, di mana zat absorbent dan aditif ditambahkan.
“Treatment ini melibatkan pembersihan katalis awal, penambahan absorbent dan aditif untuk menghilangkan tar yang berpotensi menyebabkan waxing atau melilin pada BBM. Kami juga menghilangkan kadar sulfur, keasaman, dan aroma. Aroma sampah plastik bernilai rendah setelah menjadi BBM berbeda dengan BBM dari minyak mentah,” papar Wahyu.
Setelah proses treatment, minyak bakar tersebut berubah menjadi BBM terbarukan setara solar yang diberi label Petasol.
Apakah Petasol Aman dan Laik Sebagai BBM?
Wahyu Dharmawan, pendiri BSS Induk Melong 26 Cimahi, memastikan bahwa Petasol telah lolos uji 17 parameter yang disyaratkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), termasuk uji spesifikasi BBM, senyawa, dan emisi. Petasol juga telah melalui uji performa untuk memastikan keamanan dan kelaikannya pada kendaraan.
“Kami memastikan 17 parameter terpenuhi, kemudian dilakukan dyno test atau uji performa, di mana BBM digunakan pada kendaraan yang melaju terus menerus sepanjang 40.000 kilometer. Setiap 10.000 kilometer, performanya diuji. Setelah aman dan nyaman digunakan untuk jangka panjang, produk ini dianggap layak dikonsumsi,” terang Wahyu.
Proses uji ini memakan waktu hingga bertahun-tahun. Uji performa saja memakan waktu empat tahun, dan BRIN turut mengawal selama proses tersebut.

Heru Susanto, peneliti BRIN, menambahkan bahwa Petasol telah memenuhi 17 parameter sesuai Keputusan Dirjen Migas Nomor 146.K/10/DJM/2020 Tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Solar yang Dipasarkan di Dalam Negeri.
Parameter yang diuji meliputi cetane number, densitas, viskositas, water content, sulfur content, dan lainnya. Pengujian dilakukan di laboratorium BRIN, Lemigas, dan Sucofindo.
“Secara hasil uji laboratorium, bahan bakar yang dihasilkan oleh mesin kami dan diproses lebih lanjut sudah setara dengan Dexlite atau B0 sesuai standar yang dikeluarkan oleh Ditjen Migas. Namun, kami tidak bisa mengklaim secara resmi karena terkait regulasi. Persyaratan yang kami ujikan sudah match semua,” klaim Heru.
Heru juga menegaskan bahwa Petasol secara teknis sudah terbukti laik dan aman. Selama empat tahun digunakan sebagai BBM mobil operasional kantor, tidak ada kendala yang ditemukan.
“Tampaknya lebih irit, lebih nyaman, dan tarikannya lebih enteng,” tambahnya.

Mutu dan kualitas Petasol telah dituangkan dalam beberapa makalah dan jurnal ilmiah. Merek produk Petasol juga telah dipatenkan, termasuk paten untuk mesin Faspol, katalis, dan Life Cycle Assessment (LCA) atau paten terkait dampak lingkungan suatu produk.
Dalam lingkup terbatas, Petasol telah digunakan untuk BBM berbagai kendaraan, mulai dari excavator di Karimun Jawa, traktor petani, hingga perahu nelayan di Semarang.
Beberapa pengendara mobil di Cimahi, Jawa Barat, juga menggunakan Petasol. Salah satunya adalah Rahman, yang mengaku menggunakan BBM sintetis ini untuk kendaraan operasional kantor sejak Maret 2025. Menurutnya, Petasol lebih irit dan nyaman digunakan dibandingkan BBM konvensional.
“Dari segi akselerasi dan keiritan, beda jauh sama [solar] Pertamina. Biasanya saya habis 30 liter per minggu, tapi sekarang pakai Petasol, 30 liter bisa lebih dari satu minggu. Tenaganya juga lebih bagus, di tanjakan atau jalan lurus lebih enak dari Pertamina,” kata Rahman, seorang sopir berusia 28 tahun.
Baca juga:
* Kisah warga Grobogan mandiri energi berkat gas rawa, mungkinkah jadi solusi kelangkaan elpiji 3kg?
* Kota di Jepang memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber energi
* ‘Jangankan di Banten, kami menolak geothermal di mana pun’ – Mengapa proyek geothermal di Indonesia menuai penolakan warga?
Dari segi harga, Petasol bersaing dengan solar produk Pertamina. Namun, karena durasi tempuhnya lebih panjang, Petasol menjadi lebih irit.
Rahman menghitung bahwa satu liter solar biasanya habis dalam jarak tempuh delapan kilometer, sedangkan Petasol bisa mencapai 13 kilometer. Selain itu, ada keuntungan lain dari Petasol.
“Kalau dihitung dari pemakaian per liter, mungkin hampir sama dengan solar. Tapi keuntungannya ada di akselerasi dan kenyamanan. Efek ke mesin lebih enak, lebih halus, tidak terlalu berisik. Kalau solar biasa berisik, tapi kalau Petasol tidak terlalu berisik,” jelas Rahman.
Namun, Petasol belum bisa dibeli secara bebas. Setiap kali ingin mengisi Petasol, Rahman harus pergi ke BSS Melong.
“Harapan ke depannya, cabangnya bisa diperbanyak, biar tidak terlalu sulit mendapatkannya,” harap Rahman.
Peluang Petasol Dijual Bebas
Secara teknologi dan sumber daya, Wahyu mengaku siap memasarkan Petasol secara luas.
Mesin pirolisis kapasitas besar hingga 4 ton per batch sudah siap diaplikasikan. Bahkan, tahun depan rencananya akan digarap mesin dengan kapasitas 10-15 ton per batch.
Sementara itu, sumber daya sampah plastik juga cukup tersedia.
Mengacu pada data sampah Kementerian Lingkungan Hidup, potensi SPLV nasional mencapai 13.491 ton per hari atau 10% dari total timbulan sampah yang berjumlah 134.914 ton per hari. Wahyu menghitung, jika rendemen atau konversi SPLV 40%, maka akan dihasilkan 5,4 juta liter BBM pirolisis.
Secara ekonomi, jika BBM pirolisis dijual minimal Rp10.000 per liter, nilai transaksinya mencapai minimal Rp50 miliar per hari. Petasol, menurut Wahyu, memiliki kualitas di atas solar produksi Pertamina sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Kalau BBM di negara ini cetane number-nya 53, kami minimal 53 sampai 56 tergantung komposisi sampah plastik yang kami gunakan.”
“Kami sudah menemukan nilai kalori, dan jika disetarakan dengan energi, seharusnya Petasol punya harga di atas atau sekitar Rp18.000-an, lebih tinggi dari yang ada di pasaran saat ini,” sebut Wahyu.
Namun, saat ini BSS Melong menjual Petasol dengan rata-rata cetane number 54 seharga Rp11.000 per liter.
Menurut Wahyu, Petasol memiliki peluang besar untuk dipasarkan, apalagi permintaannya cukup tinggi.
“Saat ini sudah ada demand yang cukup besar, 50-100 kiloliter per hari,” ungkap Wahyu.

Dengan dukungan teknologi, sumber daya, dan peluang pemasaran yang besar, Petasol menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi masalah sampah plastik, menyediakan sumber energi terbarukan, serta mewujudkan ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan.
Terbitnya Perpres 109/2025 membuka peluang Petasol dan energi terbarukan lainnya dipasarkan secara luas, serta menjadi dasar untuk pengembangan mesin pirolisis lebih lanjut.
“Langkah selanjutnya, kami menjadi lebih tenang dan yakin untuk melakukan replikasi (Faspol) di lokasi lain dan menjual secara bebas, karena ada dasarnya. Jadi, tidak dihantui oleh pasal peniruan atau pemalsuan terkait dengan solar,” ungkap Heru.
Namun, perjalanan untuk menjual Petasol secara terbuka masih panjang.

Tantangan pertama adalah pemerintah belum mengeluarkan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) pirolisis, yang diperlukan jika Petasol akan dijual bebas. Wahyu mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu aturan pemerintah terkait hal ini.
“SNI untuk pirolisis memang belum ada di Indonesia. Kami menantang pemerintah untuk mengeluarkan SNI terkait dengan pirolisis. Kami berjuang agar SNI untuk pirolisis ada.”
“Jika SNI bukan bagian yang dipersyaratkan, maka kami akan segera eksekusi untuk kapasitas besar,” ungkap Wahyu.
Pakar Konversi Energi ITB, Tri Yus Widjajanto, mengatakan bahwa masih banyak aturan yang perlu diterbitkan terkait perizinan dari kementerian teknis, seperti Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian.
“Di tingkat perpres kan cuma instruksi saja. Kemudian di kementerian masih harus disusun aturan teknisnya. Untuk menyusun aturan pelaksanaannya, dirjen di bawahnya akan menentukan. Kalaupun ada spesifikasi khusus, harus diterbitkan dulu. Dari sisi administrasinya juga masih panjang, butuh proses. Apalagi ini baru bulan ini terbitnya. Mungkin baru tahun depan akan keluar segala macam juknis (petunjuk teknis) dari level dirjen,” kata Tri.
Tri juga menyoroti kebijakan tarif di daerah yang ditengarai menjadi hambatan lain. Kebijakan tarif sampah yang dikeluarkan pemerintah daerah akan membuat harga Petasol sulit bersaing dengan BBM konvensional.
“Biasanya dinas kebersihan menentukan tarif. Jadi, sampahnya tidak bisa diambil secara gratis, tapi dihargai karena mereka merasa kalau itu diolah menghasilkan sesuatu yang punya nilai ekonomi. Beberapa kali rencana mendirikan pembangkit listrik tenaga sampah terkendala karena sampahnya tidak gratis, sehingga secara keekonomian tidak masuk,” jelasnya.
Baca juga:
* ‘Mitos’ biodiesel ramah lingkungan – Papua dan Kalimantan berpotensi jadi sasaran utama penggundulan hutan
* Setengah juta rumah tangga Indonesia hidup tanpa listrik, bisakah energi bersih jadi solusi?
Pemasaran Petasol akan menghadapi tantangan berikutnya ketika dipasarkan secara luas.
Mau tidak mau, produsen Petasol harus menggandeng SPBU milik Pertamina yang memiliki jaringan luas. Kondisi tersebut akan berpengaruh pada harga Petasol.
“Misalnya, kalau mau dijual sebagai bensin, kalau hasil akhirnya harganya di atas harga bahan bakar yang sekarang beredar, kan tidak ada yang mau beli. Kalaupun mau mendirikan SPBU sendiri, mahal. Jaringan yang seluas itu pasti akan minta dijualkan ke Pertamina. Nah, Pertamina pasti ingin membelinya di bawah MOPS (Mean of Plats Singapore) karena dari situ dia akan mendapatkan marjin. Pertamina kan sebagai persero harus untung dan dividen juga. Jadi, ujung akhirnya nanti ekonominya bisa memberikan prospek untuk membuat produk ini layak jual atau tidak,” papar Tri.

Kendati nanti bisa dijual bebas dan bermanfaat dari sisi lingkungan, Petasol tidak akan bisa menggantikan BBM konvensional sepenuhnya. Sumber daya sampah plastik yang bisa diolah terbatas, dan Petasol akan menghadapi persaingan dengan BBM alternatif lainnya.
“Sekarang ini bahan bakar masih kebanyakan dari fosil, minyak bumi, tapi ke depan mulai banyak muncul bahan bakar alternatif, seperti pernyataan Menteri ESDM yang akan menggunakan Etanol 10% dan Biodiesel 50% tahun depan. Itu pasti akan menjadi saingan. Padahal jumlahnya cukup besar. Kalau di Biodiesel 50% itu sudah 19 miliar liter. Apakah dari proses pirolisis ini bisa mencapai volume sebesar itu? Jadi, masih panjang banget untuk dipasarkan ke umum,” ujarnya.
Namun, setidaknya Petasol bisa mengurangi volume impor BBM, di tengah tingginya kebutuhan BBM dalam negeri yang mencapai sekitar 38 miliar liter per tahun, baik untuk solar maupun bensin.
“Kalau bisa menggantikan 1% saja, atau kalau 10%, luar biasa, karena 10% itu 3,8 miliar liter. Tapi sepertinya tidak mungkin. Satu persen saja sudah cukup lumayan akan mengurangi impor bahan bakar,” sebutnya.
Petasol dan Dampak Terhadap Lingkungan
Penggunaan mesin pirolisis sempat memicu kekhawatiran soal dampaknya terhadap lingkungan.
Terkait hal ini, Wahyu menegaskan bahwa emisi yang dihasilkan mesin pirolisis dengan pemanasan tertutup lebih rendah dibandingkan pembakaran terbuka. Sejauh ini, tidak ada keluhan dari lingkungan sekitar.
“Kalau untuk pembakaran terbuka, nilai emisinya sekitar 1.8 CO2 equivalent. Mesin pirolisis kami hanya 0,38 CO2 equivalent. Artinya, jauh lebih minim daripada pendekatan thermal lainnya,” ujar Wahyu.
Pakar Konversi Energi ITB, Tri Yus Widjajanto, menyatakan hal senada.
Proses pembakaran di mesin pirolisis tidak melibatkan oksigen sehingga tidak memunculkan emisi CO2. Namun, emisi CO2 akan tetap timbul ketika BBM pirolisis dijadikan bahan bakar kendaraan.
“Nanti kalau sudah menjadi bahan bakar ya akan menghasilkan CO2 juga. Tapi setidaknya bisa mengurangi karena tidak menggunakan bahan baku secara langsung dari energi fosil, walaupun plastik asalnya dari minyak bumi atau energi fosil juga,” ucap Tri.
Wartawan di Bandung, Yuli Saputra, berkontribusi untuk artikel ini.
* Ilmuwan ITB ubah bungkus mi instan menjadi bahan bakar minyak
* Mahasiswa Indonesia juara dunia teknologi mobil berbahan bakar sampah plastik
* Kebijakan 10% etanol pada BBM dikhawatirkan memperparah deforestasi dan konflik lahan



