
caristyle.co.id JAKARTA. Meski Bank Indonesia (BI) telah banyak menurunkan suku bunga acuan (BI rate) sepanjang 2025, nyatanya pertumbuhan kredit tak seberapa signifikan. Itu terjadi lantaran permintaan kredit memang juga masih cenderung lesu.
Sepanjang 2025, BI memangkas suku bunga acuan sebanyak 125 bps. Hingga Desember 2025, BI rate berada di level 4,75%.
Namun begitu, kredit perbankan hanya tumbuh 7,74% secara tahunan pada November 2025. Jika dibandingkan, pertumbuhan kredit pada November 2024 lebih signifikan mencapai 10,79% secara tahunan.
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai, suku bunga memang bukan satu-satunya faktor penentu laju kredit. Menurutnya, faktor yang lebih krusial adalah kemauan debitur untuk menarik pinjaman.
Kredit Melambat, Bank Besar Genjot Pendapatan Non Bunga untuk Jaga Laba
Nah saat ini, permintaan kredit dinilai masih lebih lemah dibanding periode sebelum-sebelumnya.
“Pertumbuhan kredit didorong oleh banyak hal dan suku bunga adalah salah satunya, tetapi keinginan debitur untuk meminjam dana bisa dibilang lebih penting,” ujar Pranjul dalam media briefing, Senin (12/1/2026).
Meski demikian, Pranjul mencermati permintaan kredit sebenarnya membaik jelang akhir tahun 2025. Setelah menyentuh level pertumbuhan terendah dalam tiga tahun terakhir, yakni pada Juli 2025 yang hanya tumbuh 7,03% secara tahunan, pertumbuhan kredit berhasil melaju mendekati batas bawah target pertumbuhan kredit yang dipasang BI di 8%–11% untuk 2025.
Seiring itu, permintaan dari sektor korporasi mulai meningkat. Pranjul bilang permintaan juga banyak datang dari usaha kecil. Meski, BI mencatat kredit UMKM justru terkoreksi 0,64% secara tahunan pada November 2025.
Berdasarkan tujuan penggunaan, Pranjul melihat permintaan kredit investasi dari usaha kecil masih cukup tinggi. Namun, peningkatan tersebut belum merata di seluruh segmen.
Di sisi lain, permintaan kredit rumah tangga masih relatif lemah. Kondisi ini, menurut Pranjul, berkaitan erat dengan pertumbuhan upah serta permintaan masyarakat terhadap barang konsumsi tahan lama.
Strategi Bank Sentral Dorong Bank Turunkan Bunga Kredit
“Penjualan mobil cukup lemah, jadi tak mengherankan kalau kredit konsumer juga agak lesu,” jelasnya.
Pranjul bilang lemahnya kredit konsumsi tersebut di antaranya tertahan oleh kinerja kredit korporasi, khususnya dari segmen usaha kecil, yang menunjukkan tren lebih solid.
Ke depan, Pranjul memperkirakan pertumbuhan kredit berpotensi meningkat seiring membaiknya pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal. Pasalnya, pertumbuhan kredit sangat berkorelasi dengan PDB nominal, yang merupakan kombinasi pertumbuhan ekonomi riil dan inflasi.
Pada 2025, inflasi tercatat sangat rendah akibat penurunan harga komoditas. Namun pada 2026, inflasi diperkirakan kembali normal seiring efek basis yang menyesuaikan.
“Pertumbuhan GDP bisa di kisaran 1%–1,5% lebih tinggi pada 2026, dibanding pada 2025,” katanya.
Dengan demikian, Pranjul memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2026 juga bakal lebih tinggi sekitar 1–1,5 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya, meski belum tentu langsung menembus dua digit.
Janji Bankir Pangkas Suku Bunga Kredit di Tahun 2026



