
caristyle.co.id Gelombang protes yang mengguncang Iran sejak akhir Desember terus menelan korban. Lembaga pemantau berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan jumlah korban tewas dalam unjuk rasa nasional tersebut telah meningkat menjadi 646 orang hingga Senin waktu setempat.
Dalam laporan terbarunya, HRANA juga mencatat 10.721 orang ditangkap hingga hari ke-16 aksi protes yang berlangsung hampir di seluruh wilayah Iran. Angka ini menunjukkan eskalasi serius dalam respons aparat keamanan terhadap demonstrasi yang awalnya dipicu persoalan ekonomi.
Tak hanya korban jiwa dan penangkapan massal, HRANA menyoroti pembatasan informasi yang semakin ketat. Iran dilaporkan mengalami pemadaman internet selama lebih dari 100 jam, sebuah langkah yang dinilai membatasi akses publik terhadap informasi serta menyulitkan pemantauan independen atas situasi di lapangan.
Aksi protes pecah pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran, menyusul anjloknya nilai mata uang rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi masyarakat. Dalam waktu singkat, demonstrasi meluas ke berbagai kota besar dan kecil, mencerminkan akumulasi kekecewaan publik terhadap inflasi tinggi, pengangguran, dan daya beli yang terus tergerus.
Pemerintah Iran menanggapi aksi tersebut dengan narasi keamanan. Pejabat setempat menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan, dengan menyebut demonstran sebagai ‘perusuh bersenjata’ yang dituding melakukan serangan di ruang publik.
Tuduhan ini berulang kali disampaikan Teheran untuk membenarkan tindakan penertiban yang keras.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump menyatakan pemerintahannya tengah memantau situasi Iran secara intensif.
“Kami sedang mempertimbangkan opsi yang sangat kuat,” kata Trump pada Minggu (12/1), seraya menambahkan bahwa ia menerima laporan perkembangan Iran hampir setiap jam.
Di tengah tensi internasional itu, respons kawasan terlihat beragam. Turki mengambil pendekatan yang lebih hati-hati dengan menyerukan penahanan diri semua pihak, menekankan pentingnya stabilitas regional, serta mendorong dialog sebagai jalan keluar.
Ankara menyatakan keprihatinan atas keselamatan seluruh warga Iran, termasuk kelompok etnis yang memiliki kedekatan historis, dan menegaskan komitmen pada diplomasi serta prinsip non-intervensi.
Krisis ini menegaskan dampak kemanusiaan dan politik dari salah kelola ekonomi yang berkelindan dengan pengetatan internal. Sementara tekanan eksternal meningkat dan ruang sipil menyempit, masa depan stabilitas Iran kini berada di persimpangan antara reformasi, represi, dan dinamika geopolitik yang kian rumit. (*)



