
caristyle.co.id – , JAKARTA — Harga buyback emas Antam menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) baru pada Senin (19/1/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia Senin (19/1/2026), harga buyback emas Antam naik Rp36.000 ke Rp2.545.000. Posisi itu menjadi rekor ATH terbaru pada 2026.
Sebelumnya, harga buyback emas Antam yang menjadi acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menembus rekor ATH di Rp2.521.000 pada Kamis (15/1/2026).
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
: : Harga Emas Antam Hari Ini (19/1) Terbang Rp40.000, Dibanderol Rp2,70 Juta per Gram
Adapun, harga buyback emas Antam mengikuti pergerakan mahar logam mulia di pasar global.
Diberitakan Bisnis sebelumnya, harga emas naik 1,4% ke level US$4.660,81 per ounce pada pukul 7.08 pagi waktu Singapura Senin (19/1/2026), setelah menyentuh rekor US$4.662,30. Sementara, harga perak menguat 2,7% ke US$92,5145.
Trump sebelumnya mengumumkan tarif 10% untuk barang-barang dari negara-negara termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, yang akan berlaku mulai 1 Februari dan naik menjadi 25% pada Juni 2026.
Langkah ini memicu kekhawatiran akan pembalasan dari Eropa, yang dapat menyebabkan perang dagang besar-besaran, sehingga mendukung permintaan aset aman berupa logam mulia.
Langkah ini menuai kecaman cepat dari para pemimpin Eropa, yang sekarang siap untuk menghentikan persetujuan perjanjian perdagangan yang disepakati tahun lalu.
Bloomberg melaporkan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron mungkin akan meminta aktivasi instrumen anti-koersi Uni Eropa, yang dinilai sebagai alat pembalasan paling ampuh blok tersebut.
“Hasil dari ketegangan perdagangan baru ini masih belum jelas, tetapi yang sudah lama terbukti adalah bahwa tidak ada lagi kepastian perdagangan atau tarif. Yang jelas adalah bahwa perang dagang besar-besaran antara Uni Eropa dan AS hanya akan menyisakan pihak yang kalah,” tulis para analis termasuk Carsten Brzeski, kepala makro global di ING Bank, dalam sebuah catatan kepada klien.



