
KONTAN.CO.ID. Harga Bitcoin (BTC) bertahan di kisaran US$93.000 setelah sempat terkoreksi hingga mendekati US$92.000.
Pelemahan ini dinilai lebih sebagai proses pembersihan leverage dan penyesuaian sentimen investor yang terlalu optimistis, bukan awal dari pembalikan tren besar.
Pada perdagangan terbaru Selasa (20/1) mengutip Coinmarketcap pukul 06.36 WIB, Bitcoin tercatat berada di level US$92.616 atau turun 2,12% dalam 24 jam terakhir.
Saham Barsama Zatta (ZATA) Terbang 34%, Rencana RUPSLB Jadi Sorotan
Koreksi tajam yang terjadi saat pembukaan pasar Asia berhasil mengguncang posisi leverage tanpa merusak struktur pasar secara keseluruhan.
Data on-chain dan derivatif menunjukkan pergerakan ini lebih menyerupai reset struktural ketimbang distribusi panik.
Likuidasi Leverage, Bukan Tekanan Jual Spot
Penurunan harga dari US$95.300 ke US$91.800 atau sekitar 3,7% memicu likuidasi posisi long Bitcoin senilai sekitar US$233 juta dalam 24 jam terakhir.
Meski demikian, tekanan jual di pasar spot terpantau relatif terbatas, menandakan pasar tengah menormalkan risiko, bukan mengalami kepanikan massal.
Dijaga orang Terkaya Indonesia, Penurunan Harga Dua Saham Ini Berbalik Arah
Peneliti Bitcoin, Axel Adler Jr., mencatat Advanced Sentiment Index Bitcoin anjlok tajam dari 80% ke 44,9%.
Indeks ini menggabungkan sejumlah indikator seperti volume-weighted average price (VWAP), net taker volume, open interest, dan volume delta.
Menurut Adler, indeks tersebut sempat berada di zona sangat bullish pada periode 13–15 Januari, sejalan dengan terbentuknya puncak harga lokal di sekitar US$97.000.
Turunnya indeks di bawah ambang netral 50% mencerminkan melemahnya kondisi risk-on di pasar.
“Stabilisasi harga membutuhkan pemulihan indeks secara konsisten di atas 50%. Namun jika terus turun menuju area 20%, peluang koreksi yang lebih dalam akan meningkat,” jelas Adler dilansir dari laman Cointelegraph.
BEI Ungkap Ada Perusahaan Konglomerasi Siap IPO, Ini Kondisi Pipeline 2026
Open Interest Turun, Sentimen Mendingin
Data menunjukkan open interest Bitcoin kembali turun ke level awal tahun di sekitar US$28 miliar.
Hal ini mengindikasikan bahwa posisi leverage lama sedang dilikuidasi atau ditutup, bukan karena masuknya agresif posisi short baru.
Sementara itu, cumulative volume delta (CVD) di pasar futures masih sedikit meningkat dibandingkan open interest, sedangkan CVD pasar spot relatif datar. Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan jual dari pasar spot masih terbatas.
Cek Saham Net Sell Terbesar Asing Saat IHSG Catat Rekor Tertinggi Lagi, Senin (19/1)
Beli Saat Koreksi atau Tinggalkan Pasar?
Dari sisi teknikal, Bitcoin masih membentuk pola higher high dan higher low pada grafik harian.
Area US$92.000–US$93.000 dinilai sebagai zona permintaan (order block) penting sekaligus area retest support VWAP bulanan. Zona ini berpotensi menjadi level higher low sebelum upaya lanjutan menuju US$100.000.
Data Hyblock Capital juga menunjukkan sekitar US$250 juta posisi long bersih terisi di dekat level US$92.000 dalam sehari terakhir.
IHSG Ukir Rekor Baru Lagi, Cermati Saham Net Buy Terbesar Asing di Awal Pekan Ini
Hal ini mengindikasikan adanya minat beli saat harga terkoreksi, bukan aksi kapitulasi investor.
Dalam jangka pendek, pergerakan harga diperkirakan akan berkonsolidasi di dalam rentang order block tersebut selama Bitcoin mampu bertahan di atas US$90.000.
Dengan pasar saham AS libur pada Senin, arah pergerakan yang lebih jelas berpotensi muncul pada Selasa, membuka peluang bagi pelaku pasar bullish untuk kembali mengambil alih kendali.



