Solusi bagi korban banjir saat krisis air bersih – ‘Alhamdulillah dikasih air seperti ini’

Posted on

Fitri Susanti berulang kali mengucap syukur. Setelah sebulan lebih kewalahan akibat banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, dia akhirnya menemukan sumber air bersih yang cukup untuk kebutuhan keluarga.

“Alhamdulillah, alhamdulillah. Ini untuk membuat susu formula anak. Selama ini kami kekurangan air bersih, terutama untuk minum,” ujar Fitri saat menampung air pada Jumat (09/01).

Fitri merupakan salah satu warga yang terbantu oleh Instalasi Pengolahan Air Mobile (IPA Mobile), alat khusus yang didatangkan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) ke lokasi banjir dan longsor di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Dengan alat itu, air Sungai Tamiang yang keruh dan bercampur lumpur bisa diolah menjadi jernih dalam hitungan menit.

Hasilnya dibagi-bagikan gratis kepada warga, seperti Fitri.

Sebelum alat itu tiba, air bersih langka di kawasan itu sejak banjir melanda November 2025 lalu.

Warga sudah melakukan berbagai cara untuk mengakses air bersih. Ada yang mengendapkan air sungai, ada pula yang berjalan kaki berkilo-kilometer mencari bantuan—meski tak jarang hasilnya nihil.

Bagi Fitri dan keluarganya, mereka sempat menggunakan air sumur bekas banjir untuk keperluan mandi, cuci dan kakus. Tak lama kemudian, kulit mereka gatal-gatal.

“Untuk mandi kami air sumur. Gatal-gatal saya, anak saya tadi itu gatal-gatal juga kepalanya. Tidak bisa dipakai,” ujar Fitri kepada wartawa Nanda Fahriza Batubara yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Hal serupa dialami Tania, warga Kecamatan Karang Baru. Dia masih ingat betul betapa sulitnya memperoleh air bersih setelah banjir bandang menghantam. Ibu Tania, Mulia (67), bahkan sempat diare selama dua pekan—diduga karena mengonsumsi air kotor.

“Ya Allah, luar biasa kali perjuangan kemarin. Kami kesusahan cari air. Berebut. Alhamdulillah dikasih air seperti ini. Rasanya, ya Allah, bersyukur kali,” ujar Tania.

Bagaimana cara kerjanya?

IPA Mobile ITB dirancang seminimalis mungkin agar gampang diangkut menggunakan kendaraan.

Di Kecamatan Karang Baru, alat ini diangkut dengan truk dan diparkir sekitar 30 meter dari tepi Sungai Tamiang—sungai yang dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk diolah.

Dari situ, air baku disedot menggunakan mesin pompa lalu dialirkan melalui selang menuju wadah berbentuk persegi berisi sejumlah sekat beserta komponen. Di sinilah filtrasi berlangsung.

Setelah melewati proses penyaringan, air bersih langsung disalurkan ke tangki-tangki pengungsian di sekitar.

Dari situ, air baku disedot menggunakan mesin pompa lalu dialirkan melalui selang menuju wadah berbentuk persegi berisi sejumlah sekat beserta komponen. Di sinilah filtrasi berlangsung.

Setelah melewati proses penyaringan, air bersih langsung disalurkan ke tangki-tangki pengungsian di sekitar.

Dengan panjang, lebar dan tinggi sekitar 2 meter, IPA Mobile ITB mampu memproduksi air bersih sebanyak 2 liter per detik atau setara 7.000 liter per jam. Kapasitas sebesar itu mencukupi kebutuhan harian untuk sekitar 800-1.600 orang.

Di samping kapasitas, air bersih yang diproduksi alat ini juga sudah teruji dari segi kualitas. Tingkat kejernihannya tercatat 0.19 Nephelometric Turbidity Unit (NTU).

IPA Mobile ITB juga dilengkapi instrumen tambahan yang mampu mengolah air baku menjadi air yang bisa langsung diminum. Bagi beberapa warga, rasa air yang dihasilkan lebih enak ketimbang air sumur bor di tempat mereka.

“Kalau di sumur bor itu rasanya agak bau lumpur atau tanah. Kalau ini, walaupun disedot, disaring lagi. Enak airnya memang,” ujar Diah, warga Kecamatan Karang Baru.

Di lokasi bencana, IPA Mobile ITB dioperasikan oleh kakak-adik asal Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Keduanya adalah Yudo Rianto (57) dan Adi Bowo (50). Peran mereka memastikan kelancaran produksi air bersih sekaligus pendistribusiannya.

Sejauh ini, kata Yudo, tidak ada masalah serius yang menghambat. Kendala-kendala teknis yang sebelumnya sempat terjadi, seperti ketersediaan pipa yang ideal dan lokasi parkir truk, dapat diatasi.

Meski demikian, Yudo berharap warga bisa kembali mendapat bantuan tandon air dan selang tambahan agar pendistribusian lebih optimal.

Saat ini, ketersediaan dan kapasitas tangki yang tersedia sangat terbatas, tidak sebanding kapasitas produksi alat yang besar.

“Kalau bisa tangki dan selang air ditambah lagi, jadi warga tidak perlu capek-capek berjalan ke sini. Tinggal ke depan tendanya saja bisa langsung dapat air,” ujar Yudo.

Dari mana ide menciptakan alat ini?

IPA Mobile ITB dikembangkan sejak 2000. Inovasi ini digagas dua profesor dari kampus ITB, Bagus Budiwantoro dan Edwan Kardena. Karya mereka sudah beberapa kali diterjunkan ke lokasi bencana, termasuk saat tsunami di Aceh pada 2004 silam.

Menurut Bagus, IPA Mobile ITB merupakan hasil kolaborasi yang idenya terbentuk berdasarkan pengalaman panjang musibah di Indonesia. Karena berada di wilayah yang rentan bencana, Indonesia dianggap perlu melakukan terobosan teknologi jitu.

Hal itu mendorong Bagus beserta rekan-rekannya di ITB menciptakan alat pengolah air portabel yang mampu berfungsi efektif dalam keadaan darurat untuk menjawab tantangan krisis air bersih semasa bencana.

“Dari situlah kami berpikir bahwa kami harus bisa buat yang mobile, karena kondisinya harus segera,” ujar Bagus saat diwawancarai pada Jumat (09/01).

Menurut Bagus, IPA Mobile ITB diadopsi dari teknologi high-rate yang umum digunakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dalam negeri.

Alat ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga sehingga lebih efisien dari segi bentuk dan efektif secara hasil.

Dari sisi regulasi, sistem kerja IPA Mobile ITB mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 dan hasil produksinya diklaim telah memenuhi standar air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/SK/IV/2010. Alat ini sudah memiliki hak paten dan telah terdaftar resmi.

“Terciptalah teknologi yang memang relatif lebih mumpuni, dari segi kapasitas dan kualitas. Kalau teknologi konvensional, jika kondisi airnya seperti di Sungai Tamiang itu, berhenti dulu prosesnya. Tapi kalau teknologi ini bisa langsung jalan,” ujar Bagus.

Kualitas air bersih yang diproduksi IPA Mobile ini, kata Bagus, bergantung pada sumber air baku. Semakin baik kualitas sumbernya, maka semakin bagus pula hasilnya. Meski sudah teruji secara kejernihan, Bagus menyarankan warga untuk tetap memasaknya sebelum diminum.

“Saat ini belum diuji di laboratorium air sungai itu mengandung apa saja. Tapi paling tidak kalau untuk mandi, sudah aman. Tidak ada masalah. Kalau kondisi sungainya bagus, tidak mengandung logam berat, itu bisa langsung diminum,” ujar Bagus.

“Tapi bagi warga yang membutuhkan air minum siap saji, kami juga sediakan alatnya saat ini di lokasi bencana,” sambungnya.

Dengan kapasitas yang besar, Bagus berharap warga di sekitar IPA Mobile memperoleh banyak bantuan tangki air agar manfaat alat ini bisa dirasakan lebih maksimal.

“Supaya warga tidak antre di sekitar alat kita dan jauh-jauh berjalan. Kalau ada banyak tangki, warga bisa jalan sebentar dari tenda untuk mendapatkan air,” ujarnya.

Bukan hanya dimanfaatkan membantu warga terdampak bencana, lanjut Bagus, IPA Mobile ini juga tersedia bagi pihak yang ingin membeli. Meski begitu, Bagus tidak membeberkan harganya.

“Kalau alat ini harus dimanufaktur dulu, karena bukan tangki air, tapi tangki proses. Jadi butuh waktu dan harganya tidak murah juga,” ujarnya.

Bagaimana upaya pemerintah menyediakan air bersih?

Menurut Menteri Pekerjaan Umum RI, Dody Hanggodo, penyediaan air bersih menjadi salah-satu fokus utama pemerintah dalam penanganan pascabencana. Sejauh ini, otoritas telah membangun puluhan unit sumur bor di sejumlah kabupaten terdampak.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, terdapat 24 titik sumur bor yang sedang dikerjakan BWS Sumatera I. Jumlah tersebut belum termasuk 57 titik sumur bor yang juga tengah dibuat Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Aceh.

Selain di Kabupaten Aceh Tamiang, pembuatan sumur-sumur bor juga tersebar di Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Bener Meriah. Kedalamannya bervariasi, tergantung ketersediaan akuifer.

“Pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut perbaikan infrastruktur yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat kembali mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar, terutama air bersih,” ujar Dody melalui keterangan resmi, Selasa (13/1/2026).

Di samping membuat sumur bor, pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan air bersih warga di Kabupaten Aceh Tamiang dengan mendistribusikan bantuan melalui puluhan unit truk tangki.

Pemerintah juga mengirim dua unit IPA Mobile Setta lengkap dengan toren air.

IPA Mobile Setta adalah alat pengolah air portabel yang jug memiliki fungsi serupa dengan IPA Mobile buatan ITB.

Hingga 30 Desember 2025, terdapat delapan unit armada mobil tangki berkapasitas 4.000 liter dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang beroperasi mendistribusikan air bersih di Kabupaten Aceh Tamiang. Delapan kecamatan diklaim telah memperoleh layanan.

Selain mobil tangki BNPB, pendistribusian air bersih juga didukung oleh kendaraan Pemadam kebakaran (Damkar) Pemkab Aceh Tamiang. Jumlahnya sebanyak delapan unit berkapasitas 4.000 liter serta satu unit berkapasitas 16.000 liter.

Kabupaten Aceh Tamiang termasuk salah-satu daerah Aceh yang mengalami dampak kerusakan terparah akibat banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025 lalu.

Berdasarkan data Data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, sebanyak 6.052 orang masih mengungsi di Kabupaten Aceh Tamiang pada Senin (19/1).

Saat ini, Kabupaten Aceh Tamiang masih berstatus Tanggap Darurat Bencana hingga 3 Februari 2026 mendatang.

Mengapa air bersih harus jadi prioritas?

Pakar kebencanaan dari Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan bahwa penyediaan air bersih untuk para penyintas maupun warga terdampak bencana adalah kebutuhan mendesak. Begitu pula dengan sanitasi.

Sayangnya, menurut Eko, dua kebutuhan itu sering abai saat pemulihan awal pada penanganan darurat bencana. Padahal, tahap pemulihan tidak melulu sebatas urusan permukiman, infrastruktur, atau sosial-ekonomi.

“Kalau kita lihat, memang ada kegagapan di awal dan ini menjadi proses yang selalu menjadi tantangan kita untuk memperbaiki. Ketersediaan air dan sanitasi bagi warga,” ujar Eko, Sabtu (17/01).

Menurut Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Avianto Amri, terdapat risiko penyakit yang mengintai pengungsi jika tidak segera mendapatkan akses air bersih. Misalnya diare, leptospirosis, penyakit kulit, ISPA, flu dan lain sebagainya.

“Sehingga air bersih ini merupakan sesuatu yang krusial untuk bisa dipenuhi dalam setiap kejadian bencana, terutama untuk banjir dan longsor,” ujar Avianto saat diwawancarai secara terpisah pada Sabtu (17/01).

Dalam upaya pemenuhan air bersih bencana Sumatra, Avianto menyarankan pemerintah agar melakukan restorasi atau merehabilitasi sumur-sumur warga terdampak alih-alih membuat sumur bor baru.

Selain lebih murah dari sisi harga, pengelolaan sumur konvensional juga lebih mudah dan praktis untuk jangka panjang.

Sumur warga yang telah terkontaminasi banjir, kata Avianto, dapat dibersihkan dan diperbaiki menggunakan teknik dan standar yang telah ada. Biayanya, menurut Avianto, sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta per sumur—tidak sampai Rp150 juta seperti biaya pembuatan sumur bor baru yang dianggarkan pemerintah.

“Kalau kita lihat dari update oleh pemerintah, kami agak heran dengan fokus pemerintah dalam membangun sumur bor yang harganya bisa sampai ratusan juta,” ujar Avianto.

Pembuatan sumur bor, kata Avianto, sebaiknya dilakukan di lokasi-lokasi relokasi, hunian sementara kolektif yang sebelumnya tidak memiliki sumur bor atau sumber air lainnya.

Pembuatan fasilitas ini juga harus diikuti dengan pembentukan komite sehingga pengelolaan sumur bor berkelanjutan dan awet.

Wartawan Nanda Fahriza Batubara berkontribusi dalam artikel ini.

  • Korban banjir Sumatra krisis air bersih, apakah air hujan dan sungai bisa dikonsumsi?
  • Lebih dari 165.000 korban banjir Sumatra masih bertahan di pengungsian, hunian sementara belum memadai
  • Pemerintah tolak bantuan asing, pemulihan wilayah terdampak banjir-longsor di Sumatra diprediksi butuh 30 tahun
  • Pascabanjir dan longsor di Sumatra, warga mencuci di parit – Ancaman penyakit menular mengintai
  • Pengungsi Aceh Tamiang kesulitan air bersih, buang air besar di tanah – ‘Saya pakai genangan banjir’
  • Gelombang penyakit ancam anak-anak korban banjir Sumatra di tengah capaian imunisasi dasar yang sangat rendah
  • Pengungsi Aceh Tamiang kesulitan air bersih, buang air besar di tanah – ‘Saya pakai genangan banjir’
  • Korban banjir Sumatra krisis air bersih, apakah air hujan dan sungai bisa dikonsumsi?
  • Lebih dari 165.000 korban banjir Sumatra masih bertahan di pengungsian, hunian sementara belum memadai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *