
caristyle.co.id Mayoritas investor institusi menilai Bitcoin masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued), meskipun harganya telah terkoreksi tajam sejak puncak pasar kripto pada Oktober lalu.
Temuan ini disampaikan Coinbase dalam laporan Charting Crypto Q1 2026 sebagaiman dilansir dari Cointelegraph Senin (26/1/2026).
Coinbase mencatat sekitar 70% investor institusi menilai Bitcoin masih undervalued ketika diperdagangkan di kisaran US$85.000–US$95.000.
IHSG Menguat 0,27% ke 8.975 pada Senin (26/1/2026), ANTM, AMMN, DSSA Top Gainers LQ45
Penilaian ini muncul di tengah kinerja Bitcoin yang tertinggal dibandingkan aset lindung nilai tradisional seperti emas dan perak, serta pasar saham.
Survei Coinbase yang melibatkan 75 investor institusi dan 73 investor independen, dilakukan pada periode awal Desember hingga awal Januari, menunjukkan 71% investor institusi dan 60% investor independen merasa Bitcoin masih undervalued.
Sebanyak 25% investor institusi menilai Bitcoin berada pada valuasi wajar, sementara hanya 4% yang menganggap aset kripto terbesar tersebut overvalued.
Saat ini, harga Bitcoin berada di kisaran US$87.600, turun lebih dari 30% dari rekor tertingginya di level US$126.080 pada Oktober lalu, berdasarkan data CoinGecko.
Sejak kejatuhan pasar kripto pada 10 Oktober yang menghapus lebih dari US$19 miliar posisi berleverage, harga aset digital cenderung bergerak sideways hingga melemah.
Sentimen pasar kripto juga belum menunjukkan pemulihan berarti. Harga masih kesulitan menguat di tengah ancaman tarif baru dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Timur Tengah.
Jelang Rapat FOMC, Begini Proyeksi Rupiah untuk Besok (27/1)
Coinbase memperingatkan tren ini berpotensi berlanjut. “Ketegangan geopolitik meningkat di berbagai kawasan, dan eskalasi konflik terutama yang berdampak pada pasar energi dapat menekan sentimen investor,” tulis Coinbase dalam laporannya.
Sebaliknya, aset safe haven justru mencatatkan reli kuat. Harga emas menembus rekor baru di atas US$5.000 per ons pada Senin, sementara perak telah menggandakan nilai pasarnya sejak Oktober. Di sisi lain, indeks saham Standard & Poor’s 500 hanya naik moderat sekitar 3%.
Investor institusi cenderung bertahan dan beli saat koreksi
Meski volatilitas tinggi, investor institusi tetap menunjukkan keyakinan jangka panjang terhadap kripto.
Sekitar 80% responden institusi menyatakan akan mempertahankan kepemilikan aset kripto mereka atau bahkan menambah posisi jika pasar kembali terkoreksi hingga 10%.
Anak Usaha Energi Mega Persada (ENRG) Temukan Minyak di Wilayah Kerja Malacca Strait
Lebih dari 60% investor institusi juga mengaku telah mempertahankan atau meningkatkan eksposur kripto mereka sejak Oktober, saat Bitcoin mencetak rekor harga tertinggi.
Ke depan, investor melihat peluang masih terbuka. Sebanyak 54% responden menilai siklus pasar kripto saat ini berada dalam fase akumulasi atau bahkan masih dalam kondisi bear market.
Harapan dorongan dari kebijakan moneter
Meski arah kebijakan moneter global masih diliputi ketidakpastian, Coinbase memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada 2026.
Indeks ESG Berpeluang Rebound pada 2026, Ini Saham Pilihan Analis
Langkah tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi aset berisiko, termasuk kripto.
Secara makro, Coinbase menilai kondisi ekonomi AS relatif solid. Inflasi konsumen tercatat stabil di level 2,7% pada Desember, sementara pertumbuhan produk domestik bruto riil melampaui 5% pada kuartal IV, yang dinilai dapat mendukung prospek pasar kripto ke depan.



