IHSG anjlok, Dahlan Iskan: Saya bisa bayangkan marahnya Prabowo

Posted on

Jakarta, IDN Times – Akhir pekan penutup Januari 2026 berjalan tidak biasa. Gejolak pasar modal menempatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam tekanan berat dan memunculkan kepanikan di berbagai lini.

Penurunan tajam IHSG terjadi sejak Rabu (28/1/2026), ketika indeks merosot lebih dari tujuh persen hingga memicu penghentian sementara perdagangan. Tekanan berlanjut pada Kamis. IHSG kembali melemah dan ditutup di kisaran 8.300 poin dengan akumulasi penurunan melampaui delapan persen.

Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mengatakan secara historis, posisi tersebut masih lebih tinggi dibandingkan level IHSG setelah Prabowo Subianto dilantik menjadi Presiden RI. Namun, koreksi dalam waktu singkat menghadirkan tekanan besar, baik bagi pelaku pasar maupun otoritas. Situasi itu membentuk atmosfer tegang di pusat-pusat pengambilan keputusan ekonomi.

Dahlan Iskan menggambarkan akhir pekan tersebut sebagai periode penuh kepanikan. Ia menilai kondisi pasar menempatkan semua pihak dalam posisi serba salah.

“Saya bisa bayangkan betapa marah Presiden Prabowo. Tapi, saay tidak bisa membayangkan apakah cukup kalau hanya handphone yang harus dilempar,. Tapi, dalam hal ini, siapa yang harus dilempar sesuatu?” ujar Dahlan dilansir dari laman Catatan Harian Dahlan Disway, Minggu (2/1/2026).

1. Siapa pun akan panik

Dengan anjloknya IHSG lebih dair 7 persen membuat siapa saja akan panik. Bahkan, Dahlan menyebut, situasi ini seperti menampar wajah Presiden Prabowo.

“Bagaimana cara menyelamatkannya? Wajah Presiden Prabowo seperti ditampar terang-terangan di atas panggung dunia,” ucap dia.

Sorotan kemudian mengarah ke regulator. Dahlan kemudian mengutip pernyataan CIO Danantara Pandu Syahrir menyampaikan pandangan di Prasasti Economic Forum 2026.

“Katakanlah ada yang goreng-goreng saham. Jangan pemainnya yang disalahkan. Tidak ada gunanya,” ujar Pandu di Jakarta. “Pemain hanya memanfaatkan peluang yang tersedia,” tambahnya.

2. Tanda kepanikan terlihat

Dahlan mengatakan, tanda kepanikan pertama terlihat dari keluarnya peraturan dari pemerintah, yakni dana asuransi boleh banyak dipakai membeli saham. Pembelian bisa sampai 20 persen. Dulunya, aturan tersebut sangat dibatasi, maksimal hanya 5 persen untuk main saham.

Arah kebijakan tersebut bertujuan mendorong permintaan saham di tengah tekanan jual, terutama melalui lembaga besar seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Di atas kertas, langkah tersebut seolah masuk akal. Dana asing yang keluar dari bursa diharapkan tergantikan dana domestik. Harga saham yang sedang turun juga membuka peluang keuntungan di masa depan.

Namun pasar membaca kebijakan itu secara negatif. Kekhawatiran muncul terkait risiko dana asuransi, mengingat pengalaman pahit kasus Asabri dan Jiwasraya.

Di sisi lain, pasar global menunggu pembenahan mendasar. Lembaga pemeringkat Morgan Stanley Capital International merinci empat pekerjaan rumah bagi Bursa Efek Indonesia, mulai dari transparansi data, peningkatan porsi saham beredar bebas, keterbukaan struktur kepemilikan, hingga penguatan tata kelola. MSCI memberi tenggat hingga Mei untuk melihat perbaikan nyata sebelum melakukan evaluasi ulang.

Risikonya tidak kecil. Jika perbaikan dinilai tidak memadai, BEI berpotensi turun kelas dari kategori Emerging Market ke Frontier Market. Posisi tersebut menempatkan Indonesia sejajar dengan sejumlah bursa di negara berkembang paling awal. Meski demikian, penurunan kelas belum bersifat pasti dan masih bergantung pada langkah pembenahan dalam waktu dekat.

3. Situasi semakin rumit

Situasi kian rumit setelah muncul pengunduran diri pejabat kunci. Jumat sore, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar menyatakan mundur. Langkah dilakukan setelah Iman Rachman meninggalkan jabatan Direktur Utama BEI.

Kondisi tersebut terasa ironis di tengah pidato-pidato Presiden Prabowo yang kerap mengkritik peran asing. Kali ini, lembaga asing justru memberi tekanan nyata terhadap pasar modal Indonesia. Sabtu dan Minggu berubah menjadi hari penuh manuver di balik layar. Bursa memang libur, namun dinamika kebijakan dan komunikasi berjalan tanpa jeda. Akhir pekan itu menjadi penentu arah kepercayaan pasar.

Respons pasar baru akan terlihat saat perdagangan dibuka kembali pada Senin (2/2/2026). Menanti pembukaan bursa menjadi fase krusial untuk melihat sejauh mana langkah-langkah darurat mampu menahan tekanan dan memulihkan kepercayaan pelaku pasar.

Daftar 48 Emiten yang Kena Suspensi dan Denda Rp150 Juta dari BEI Daftar Pejabat Pasar Modal dan Keuangan RI yang Mundur 2 Pesan Prabowo ke Investor usai Bursa Saham Anjlok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *