
Bencana hidrometeorologi di Sumatra telah merusak belasan ribu hektare kebun kopi arabika di dataran tinggi Gayo, Aceh. Hal ini disebut berdampak pada kondisi ekonomi para petani hingga berpotensi menciptakan kelangkaan pasokan kopi di pasaran nasional dan internasional.
Bagaimana kisah para petani kopi Gayo bertahan hidup di tengah sumber utama kehidupan mereka diterjang bencana November lalu?
Sumiaji, 45 tahun, tengah memanggul tiga jerigen bekas oli dengan dahan kayu. Dia mengambil air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dari kebun kopi miliknya, di Kampung Paya Reje Temi Delem, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah.
Bersama tiga petani kopi lainnya, dia berjalan pulang menapaki jalan yang menyisakan bebatuan dan gelondongan kayu, yang masih tak bisa dilalui kendaraan.
Bencana alam November lalu telah merusak sebagian besar lahan kebun miliknya yang ditanami dengan kopi arabika Gayo, alpukat, dan kerap diselingi dengan cabai.
Dari satu hektare lahan miliknya kini hanya tersisa 20% tanaman kopi.
“Sudah enggak ada lagi kebunnya. Tanahnya hilang, kopinya hilang, sekitar 500 batang. Rata-rata umur kopinya sudah lima tahun dan tujuh tahun,” kata bapak tiga anak dan istri yang menderita stroke.

Padahal, kopi menjadi andalan utama bagi dirinya untuk ‘mengepulkan asap’ di rumahnya.
“Dampaknya, sulit mengatakan. Cuma kebun satu-satunya yang kita punya, cuma kopi harapan kami, yang lain enggak ada. Dan sekarang enggak ada lagi kebun kita bang, akibat longsor,” kata Sumiaji yang berkebun sejak 2004 lalu.
Sebagai perantau, Sumiaji yang berasal dari Aceh Tamiang tidak memiliki kerabat untuk mengadukan nasib dan membantu dirinya.
“Sedih bang, karena saudara enggak ada, satu-satunya saya perantau ke sini, sejak 1996,” ujarnya.

Sebelum bencana menghantam, dia mengenang bahwa kebun kopi miliknya sedang dalam masa panen. Di panen terakhir, dia mendapatkan Rp200.000 per kaleng (sekitar 10 bambu).
“Biasanya saya dapat sekitar 50-an kaleng hasil panen biasanya, sekitar Rp7 jutaan sekali panen. Sekarang sudah tidak ada lagi,” keluhnya.
Kini untuk menghidupi keluarganya, Sumiaji bekerja menjadi pemetik kopi upahan milik warga lain, atau orang Gayo menyebutnya dengan ongkosen.
“Pokoknya selama rusak kebun saya, ongkosen mengutip. Ongkosen…pokoknya sehari-hari itulah, mengutip kopi di kebun tetangga,” ujarnya.
Mungkin Anda tertarik:
- Perubahan iklim membuat kopi arabika berkualitas tinggi semakin sulit didapatkan di Indonesia?
- Petani kopi Gayo Aceh keluhkan panen menurun ‘akibat perubahan iklim’
- Pemerintah dianggap glorifikasi Umar Patek bikin bisnis kopi – ‘Seratusan eks napi terorisme ulangi kejahatannya’
Di tengah kondisi hidupnya yang telah berubah total, Sumiaji tak berharap banyak dari pemerintah.
Yang terpenting baginya, dia tetap berjuang untuk melanjutkan hidup.
“Enggak kita minta kepada pemerintah, dikasihnya alhamdulillah, enggak dikasihnya bagaimana mau kan? Yang penting kita berjuang ,” tegasnya.
Sumiaji tetap akan memilih menjadi petani meski belum tahu dimana akan berkebun.
Fasilitas produksi rusak dan pengiriman berhenti
Selain petani, dampak bencana juga dirasakan Hendrika Fauzi, 34 tahun, pengusaha pengolah buah kopi merah menjadi green bean (biji kopi mentah), bernama Harvest Coffee di Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah.
Hendrika menjual biji kopi arabika mentahnya dengan beragam aroma ke Medan, Jakarta hingga Kalimantan.
Fasilitas produksi kopi milikinya yang sedang dalam proses pembangunan sejak Juli 2025 lalu kini rusak.
Lumpur menyelimuti lahan jemur kopi miliknya dan banjir merendam rumah produksi kopinya.
“Secara fasilitas kita, rusak di pagar dan lantai jemur. Tidak bisa dipakai hari ini karena berlumpur. Dan tentu itu akan mempengaruhi volume produksi,” ucap Hendrika.

Akibatnya, produksi kopi yang dihasilkan rumah produksinya kini hanya satu hingga dua ton, dari yang sebelum bencana bisa mencapai 50 ton per bulannya.
“Kalau diangkakan kerusakan itu berkisar sekitar Rp50-70 juta. Karena kita harus bangun ulang, pagar yang rusak kemudian pembersihan, kita sewa eskavator lagi dan sebagainya. Kemudian ada masuk material timbun lagi, peratan dan sebagainya,” ujar Hendrika.
Bencana juga telah menghentikan penjualan kopi miliknya. Pasalnya, akses jalan nasional keluar dan masuk Aceh Tengah terputus akibat bencana dalam waktu lama.
“Pertama tidak jalannya usaha, karena transportasi tidak ada, pembelian penjualan tidak ada dan sebagainya, itu jelas secara usaha terhenti dan baru berjalan dari Senin kemarin,” kata Hendri.
“Kerugian sektor bisnis dari penghitungan kita selama kurang lebih 38 hari, itu kita bisa mencapai angka 100 juta. Karena biasa kita per bulan bisa produksi pengiriman kopi satu sampai tiga ton per minggu. Karena tidak ada pengiriman maka kita berhenti di sana,” tambahnya.

Dampak lainnya, kata Hendrika, adalah nasib lima karyawannya, empat kolektor, dan puluhan petani yang mengantungkan hidup pada kopi.
Dia bilang dari sekitar 10 dari 40 hektare kopi milik rekan petani rusak parah. Hendrika kini terus berusaha mencari cara untuk merubah keadaan di tengah keterbatasan listrik dan jaringan komunikasi.
“Tetap masih optimis, kita masih punya harapan besar untuk bisa bangkit secara ekonomi, namun perlu adanya support ya, tentu dari semua pihak, terutama mungkin dari pemerintah. Kita berharap bahwa dari pemerintah bisa cepat memperbaiki akses,” kata Hendrika.
Dengan akses yang normal, ujarnya, setiap kopi dari petani akan mudah dijual, sehingga rantai ekonomi masyarakat kembali berjalan.

Dataran Tinggi Gayo di Aceh, meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, merupakan daerah penghasil kopi arabika Gayo yang terkenal.
Berdasarkan data Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh Tengah, ada sekitar 52.076 hektare kebun kopi di daerah ini.
Dengan jumlah petani kopi sekitar 39.475 orang, Aceh Tengah mampu memproduksi 36.532 ton kopi arabika Gayo pada 2021.
Sementara mengacu pada data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Bener Meriah luas areal perkebunan kopi di Bener Meriah sekitar 50.000 hektare, dan sekitar 7.000 hektare di Gayo Lues.
Sebelum bencana, harga kopi red cherry atau kopi gelondongan (petik merah) mencapai Rp250.000 per bambu.
Namun harga itu anjlok saat bencana menyerang, menjadi sekitar Rp150.000 hingga Rp190.000 per bambu.
Kini harga perlahan naik usai dua ruas Jalan Nasional Takengon-Bireuen maupu Takengon-Aceh Utara dapat dibuka sementara waktu.
Perputaran uang kopi Gayo terhenti
Kesulitan yang sama juga dirasakan eksportir kopi asal Takengon, Aceh Tengah, Armiyadi.
Bencana November lalu menyebabkan usaha ekspor kopinya terhenti. Penyebabnya mulai dari ketiadaan arus listrik, jaringan seluler dan internet yang terbatas hingga akses jalan yang terputus
“Kami 40 hari sampai kemarin tidak melakukan transaksi, jual beli dan pengiriman barang. Karena pada waktu itu tidak ada jalan yang masih tersambung. Selama 40 hari itu kita semua operasi di perusahaan itu stop, sehingga perputaran uang itu tidak ada,” ujar Armiyadi, Pimpinan PT Asa Coffee Gayo.

Selain harus membayar gaji karyawan, ekspor yang sudah direncanakan juga tertunda selama satu hingga dua bulan pascabencana.
Kerugian omset yang dialami perusahaannya mencapai Rp10-50 juta per hari jika dibandingkan dalam situasi normal, dan terjadi selama 40 hari pascabencana.
“Kita mungkin tidak menyebut sebagai kerugian karena ada korban yang lebih rugi dari sisi rumah hilang, lahan yang hilang dan termasuk nyawa yang hilang. Nyawa kita bagus, lahan kita bagus, bisnis kita bagus, hanya terhenti,” ucapnya.
Armiyadi melihat belum ada upaya yang dilakukan pemerintah terhadap para petani dan pengusaha kopi Gayo yang terdampak akibat bencana.
Para petani dan pengusaha kopi, sebutnya, berjuang dengan dirinya sendiri untuk bangkit, tanpa bantuan dari pemerintah.
“Contoh sekarang dari sisi pertanian, apakah pupuk sudah ada, pupuk subsidi? Apakah sekarang bibit sudah ada? Lahan pertani yang luasnya satu rante atau dua rante [25 x 25 meter], kemarin itu tidak bisa dipanen dan itu hangus semuanya,” lanjut Armiyadi.
“Modal itu bisa saja adalah modal sendiri atau modal pinjaman. Ketika panennya itu hangus dan tidak bisa dipanen, bagaimanakah langkah awal petani memulai hidup? Ini coba pertanyakan,” ungkapnya.

Dia pun berpandangan agar ada bantuan stimulan kepada petani yang lahan kopinya rusak, gagal panen. Tujuannya agar mereka bisa memulai kembali usaha kopi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat empat daerah penyumbang ekspor kopi terbesar Indonesia pada 2024 lalu, dengan total US$1,6 miliar.
Daerah terbesar dari Lampung senilai US$840 juta dan posisi keempat ditempati Aceh dengan US$155 juta, yang salah satunya berasal dari kopi Gayo.
Sedangkan, lima negara tujuan ekspor kopi Indonesia terbesar adalah Amerika Serikat, Mesir, Malaysia, Belgia dan Rusia.
Belasan ribu hektar lahan kopi rusak, apa upaya pemerintah?
Kepala Dinas Perkebunan Aceh Tengah, Sabrin menyebut ada sekitar 12.868 hektare lahan pertanian kopi yang rusak, merujuk data sementara per 8 Januari 2025.
Dia menambahkan lahan pertanian kopi terdampak bencana terparah terletak di Kecamatan Kebayakan (dari Mendale hingga Lelabu), kemudian di Kecamatan Bintangg dan Rusip Antara.
“Tetapi data ini bergerak, dan sekarang kita sedang mendata by name, by address. Sampai hari ini by name by address terdata 4.500 hektare lebih,” kata Sabrin.
Berangkat dari itu, Sabrin mengklaim bahwa pemerintah telah membahas program berjangka untuk menyelesaikan urusan pertanian, khususnya bagi petani kopi.

“Untuk jangka pendeknya kita telah usulkan intensifikasi bagi kebun-kebun yang tidak terkena longsor yang terdampak bencana. Dan ini kita telah ajukan ke pusat,” kata Sabrin.
Sedangkan jangka menengah, pihaknya telah mengajukan pemberian bibit kopi, pemberian pupuk dan upah orang kerja per hari (HOK) selama mengerjakan lahan berdasarkan besaran tertentu.
Mengenai lahan yang rusak seperti pada kasus Sumiaji, pihaknya akan membicarakan lebih lanjut kepada pemerintah secara berjenjang.
“Sementara pemerintah pusat, sudah ada pembicaraan lebih lanjut, bahwa mereka akan mengganti populasi yang hilang bagi lahan yang masih bisa ditanami. Dan disamping pemberian bibit, mungkin akan diberikan pupuk, dolamit, karena kan keasaman [tanah] agak tinggi,” ucapnya.
Sabrin bilang program yang sudah direncanakan itu akan dilaksanakan tahun ini.
“Kita berharap program tersebut segera turun, agar kesejahteraan petani kopi bangkit kembali,” ujarnya.
Potensi kelangkaan kopi di pasar nasional dan internasional
Rangkaian masalah yang dihadapi itu, kata pengamat dan pelaku usaha kopi, Uzair berpotensi menyebabkan pasokan kopi arabika Gayo berkurang drastis dalam beberapa bulan ke depan.
“Ada 13.000 hektare kebun kopi terdampak. Itu sangat berpengaruh besar ke produksi kopi Gayo,” kata pria 55 tahun yang juga menjadi pelaku usaha kopi di Banda Aceh.
Penurunan jumlah produksi itu, tambah Uzair, berpotensi menyebabkan kelangkaan peredaran kopi Gayo di pasar nasional hingga internasional.
“Memang dalam waktu dekat ini mungkin belum terasa. Tapi saat stok-stok lama habis maka akan terjadi kelangkaan peredaran dan pasokan kopi Gayo. Walaupun produsen nasional dan dunia akan mencari sumber lain di pasar global,” katanya.
Kelangkaan itu, lanjutnya, lalu akan membuat harga kopi Gayo meningkat di pasaran.

Sebelum bencana menghantam, Ubaid bilang, kopi Gayo telah mendapatkan ancaman kuat akibat perubahan iklim.
“Ketinggian daerah-daerah lahan pertanian kopi makin ke atas. Awal 1.400 DPL jadi 1.600, dan sekarang 1.700,” ujarnya.
Para saintis memperkirakan kondisi yang optimal untuk pertumbuhan kopi arabika akan semakin sulit dipenuhi akibat perubahan iklim, berujung pada pengurangan produktivitas hingga gagal panen. Dampaknya, volume kopi berkualitas yang bisa didapatkan oleh para pengusaha kopi juga berkurang.
Lembaga riset lingkungan hidup CIFOR (Center for International Forestry Research) menemukan bahwa pada tahun 2050 jumlah lahan untuk tanaman kopi arabika akan berkurang hingga 80%.
Bahkan saintis memprediksi bahwa, dalam skenario terburuk, kopi arabika liar dapat punah pada tahun 2080. Studi lainnya menunjukkan setidaknya 60% spesies kopi di dunia (tidak hanya robusta dan arabika) terancam punah.
Apa keunikan kopi Gayo dan sejarahnya?
Kopi arabika kerap dipasarkan sebagai kopi unggulan dari daerah tertentu — misalnya Kopi Gayo, Kopi Bali Kintamani, Kopi Mandailing, dan Kopi Toraja. Beberapa jenis kopi arabika memiliki cita rasa yang begitu tinggi, sehingga dinobatkan sebagai specialty.
Uzair berkata kopi Gayo memiliki keunikan dibanding kopi-kopi lainnya. Dia bilang kopi Gayo tumbuh secara organik dan menghindari penggunaan unsur-unsur kimiawi.
“Umumnya adalah kebun-kebun rakyat, jadi bukan korporasi besar, jadi secara alami,” katanya.

Hal itu menyebabkan kopi Gayo memiliki kualitas baik dan dan rasa yang unik. “Kopi Gayo kaya dengan rasa. Ada rasa buah, ceri, macam-macam rasanya.”
Dalam buku Kopi dan Kehidupan Masyarakat Gayo yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh pada 2012, kopi jenis arabika masuk ke Indonesia dari Malabar pada 1699, yang dibawa oleh kapitalis Belanda.
Perkembangan kopi di Indonesia begitu pesat tidak bisa dilepaskan dari sistem tanam paksa pada 1830-an. Hampir separuh perkebunan di Jawa berubah jadi kebun kopi arabika.
Kemudian, kopi arabika dibawa oleh Belanda luar Jawa, salah satunya adalah Dataran Tinggi Gayo pada 1904.
Namun versi sejumlah warga lokal menyebut bahwa kopi sudah ada di Gayo sebelum penjajah Belanda. Biji kopi dibawa seorang warga dari Mekkah saat menunaikan ibadah haji.
Dalam perkembangannya, kopi yang disebut sebagai ‘hidup dan matinya urang Gayo’ menjadi sumber utama kehidupan masyarakat Gayo.
Mayoritas petani di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah menanam kopi, baik yang dikerjakan secara tradisional maupun modern.
Semua anggota keluarga dalam tradisi dan budaya Gayo memiliki peran dalam proses produksi kopi, mulai dari membuka lahan, menanam, merawat hingga memanen kopi.
Wartawan Iwan Bahagia di Aceh Tengah berkontribusi dalam artikel ini.
- Mengapa durian membuat harga kopi dunia lebih mahal?
- Banjir dan tanah longsor membuka luka lama penyintas gempa di Aceh Tengah
- Warga di Aceh Tengah masih gunakan jembatan darurat satu bulan pascabencana – Sekali menyebrang Rp30.000
- Demi misa Natal, satu keluarga di Aceh Tengah berjuang menembus titik longsor – Bagaimana para penyintas banjir-longsor Sumatra menjalani Natal?
- Kesaksian kaum muda Kampung Serule di Aceh Tengah menyelamatkan warga dari kelaparan
- Kisah anak-anak yang menjadi yatim piatu akibat petaka di Sumatra, apa tanggung jawab negara?
- Perjuangan perempuan hamil dan pengidap autoimun di tengah kepungan banjir Aceh



