
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan psikolog klinis di Puskesmas se-Indonesia untuk menangani persoalan kesehatan mental anak.
Hal itu dikatakan Budi sebagai respons atas meninggalnya YBS (10), siswa laki-laki kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (29/1) siang. Ia ditemukan tewas gantung diri.
Korban mengakhiri hidup di pohon cengkeh dekat pondok sederhana tempat dia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
Menurut Budi, Kementerian Kesehatan kini telah mulai melakukan skrining kesehatan mental pada anak-anak dan menemukan jumlah yang cukup besar.
“Kesehatan mental anak memang kita sudah skrining, kita nemu ada 10 juta,” ujar dia usai menghadiri peringatan Hari Kanker Sedunia di South Quarter Dome, Jakarta Selatan pada Rabu (4/2).
Ia menyebutkan, keberadaan psikolog klinis di Puskesmas menjadi langkah untuk menangani masalah yang sebelumnya tidak tertangani secara memadai.
“Nah itu yang sekarang saya mau siapkan ada psikolog klinis di masing-masing Puskesmas, supaya penyakit yang sebelumnya enggak pernah terlayani ini, bisa dilayani,” sambung Budi.
Selain itu, Budi menekankan bahwa Puskesmas juga memiliki tanggung jawab untuk bekerja sama dengan sekolah-sekolah dalam menangani kesehatan mental anak.
“Dan Puskesmas itu tanggung jawab juga ke sekolah-sekolah. Karena ini penting sekali kita kerja sama-sama,” ucapnya.
Ketika ditanya apakah tren kesehatan mental anak ada di taraf mengkhawatirkan, Budi mengatakan temuan tersebut baru terlihat setelah skrining dilakukan.
“Kita kan baru mulai skrining. Sebelumnya kan enggak, kita enggak tahu ada masalah kejiwaan di anak. Sekarang udah tahu ada 10 juta. Nah itu yang harus kita perbaiki dengan naruh psikolog klinis di puskesmas, bekerja sama dengan sekolah supaya bisa diobati,” pungkas dia.
Buku dan Pena Jadi Permintaan Terakhir
Gregorius Kodo, saksi mata, menuturkan kondisi keluarga korban banyak tantangan. Itu yang membuat korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Ketika kejadian berlangsung, nenek korban yang berusia sekitar 80 tahun itu tengah berada di rumah tetangga.
Menurutnya, korban kurang kasih sayang orang tua. Ayah korban meninggal dunia pada saat korban masih dalam kandungan. Ayah korban merupakan suami ketiga dari ibunya. Ibunya menafkahi lima anak, termasuk korban.
Sebelum bunuh diri, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan karena ibunya tidak punya uang.



