
Polisi terus melakukan penyelidikan penyebab pasti kematian siswa SD yang ditemukan tewas gantung diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino, mengatakan penyidik masih melakukan penyelidikan termasuk meminta keterangan guru tempat korban sekolah. Pemeriksaan dilakukan untuk mengungkap ada tidaknya dugaan bullying pada anak tersebut.
“Penyidik juga memeriksa pihak sekolah, termasuk guru korban. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah korban juga jadi korban bullying atau tidak. Ini yang masih diselidiki,” ujarnya, Rabu (4/2).
Sementara dari hasil pemeriksaan sejauh ini, tidak ditemukan kekerasan dari tubuh anak itu. Polisi masih pada temuan awal, anak itu bunuh diri karena putus asa.
“Motif sementara karena putus asa lalu bunuh diri. Ini murni niatan anak. Selama ini korban juga tidak memiliki handphone,” ungkapnya.
Sempat Dinasehati Ibu
Andrey juga sudah memeriksa ibu korban, MGT (47). Dari keterangan MGT, polisi mendapati keterangan bahwa anak itu sempat tidur bersama ibunya di rumah. Saat bersama ibunya, anak itu sempat dinasehati karena tidak masuk sekolah beberapa hari terakhir.

“Korban tidak sekolah dengan alasan sakit karena mandi hujan. Ibunya lalu penasihat supaya harus ke sekolah dan jangan mandi hujan,” jelasnya.
Permintaan Terakhir
Gregorius Kodo, seorang saksi mata, menuturkan kondisi keluarga anak itu banyak tantangan. Itu yang membuat si anak memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Ketika kejadian berlangsung, nenek anak yang berusia sekitar 80 tahun itu tengah berada di rumah tetangga.
Menurutnya, anak itu kekurangan kasih sayang orang tua. Ayahnya meninggal dunia pada saat ia masih dalam kandungan. Ayah korban merupakan suami ketiga dari ibunya. Ibunya menafkahi lima anak, termasuk si anak yang bunuh diri.
Sebelum bunuh diri, anak ini sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan karena ibunya tidak punya uang.



