Anatomi market BEI 6 Februari 2026: Jejak serok bawah asing

Posted on

caristyle.co.id  Pasar modal Indonesia pada perdagangan 06 Februari 2026 menunjukkan dinamika psikologi yang kontras. 

Tekanan jual pada raksasa perbankan swasta dan akumulasi agresif pada sektor komoditas serta perbankan pelat merah.

Total likuiditas yang mengalir ke sistem mencapai Rp 17,21 triliun di pasar reguler, dengan tambahan transfusi di pasar negosiasi sebesar Rp 2,44 triliun.

Asing Net Sell Rp 3,61 Triliun, Intip Saham yang Banyak Dijual Asing dalam Sepekan

Cermati Saham Net Buy Terbesar Asing Saat IHSG Ambruk 4,73% Sepekan Terakhir Perang Domestik vs Asing di Saham Big Caps

Di barisan big caps, terjadi pergeseran kekuatan yang signifikan. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) muncul sebagai pemimpin momentum dengan skor Closing Strength Index (CSI) sempurna di level 1.

Artinya, BMRI berhasil ditutup pada harga tertingginya hari ini di Rp 5.050, didorong oleh foreign net flow yang masif sebesar 135,8 juta saham.

Hal serupa terjadi pada Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang mencatat CSI 0,91 dengan akumulasi asing sebesar 47 juta saham, menandakan dominasi Smart Money di akhir sesi.

Sebaliknya, dua penguasa market cap terbesar, Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan Bank Central Asia Tbk. (BBCA), mengalami tekanan.

BBCA mencatat aksi lepas asing sebanyak 14,2 juta saham dengan CSI rendah (0,42), mengindikasikan adanya tekanan jual yang belum sepenuhnya mereda hingga penutupan.

Sementara itu, Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menunjukkan ketangguhan luar biasa dengan CSI 1, meski volatilitas pasar sedang tinggi.

Perbaki Kinerja, Bank Tabungan Negara (BBTN) Memperkuat Manajemen Risiko

Valas Utama Berisiko Rentan Koreksi di Tengah Ketidakpastian Global Perburuan Smart Money dalam Senyap

Di segmen mid-to-small caps, terdeteksi pergerakan anomali pada beberapa emiten dengan ticket size jauh di atas median pasar (Rp 482.000).

Singaraja Putra Tbk. (SINI) mencatatkan nilai transaksi per frekuensi mencapai Rp 46,3 juta, angka yang sangat tinggi untuk saham di kelasnya.

Dengan CSI 1 dan nilai transaksi Rp 9,3 miliar, SINI mengindikasikan adanya jejak kaki smart money yang melakukan akumulasi tanpa menimbulkan kegaduhan volume yang ekstrem.

Emiten lain seperti Transcoal Pacific Tbk. (TCPI) dan Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) juga menunjukkan pola serupa; CSI maksimal di 1.00 dengan ticket size masing-masing sebesar Rp 18,6 juta dan Rp 15,0 juta.

Fenomena ini sering kali menjadi penanda strategi “pembelian rapi” oleh pengelola dana besar di saham-saham dengan likuiditas menengah.

Saham BREN, CUAN, dan HRTA Masuk IDX80, Cermati Rekomendasi Analis

Serok Bawah Saham Sektor Energi

Data hari ini mengungkap anomali menarik pada saham-saham grup Bakrie.

Bumi Resources Tbk. (BUMI) mengalami penurunan harga (selisih Rp 14), namun justru mencatatkan foreign net flow paling monster di bursa hari ini dengan volume beli bersih asing mencapai 761,3 juta saham.

Pola serok bawah ini juga menjalar ke Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) dan Darma Henwa Tbk (DEWA).

Meski harganya terkoreksi, arus modal asing terus mengalir masuk dengan volume masing-masing 59,5 juta dan 66,9 juta saham.

Ini menunjukkan bahwa di tengah kepanikan ritel, institusi asing justru memanfaatkan penurunan harga untuk mempertebal posisi mereka.

IHSG Diproyeksi Melemah Terbatas, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Senin (9/2) Penjelasan Istilah

Ticket Size: Jejak Kaki Siapa di Pasar?

  • Ticket Size adalah rata-rata nilai uang yang dikeluarkan dalam setiap satu kali transaksi.
  • Cara Hitung: Total Nilai Transaksi dibagi Total Frekuensi.
  • Ticket size Kecil: Biasanya didominasi oleh investor ritel yang bertransaksi dalam jumlah sedikit-sedikit.
  • Ticket size Besar: Menandakan adanya “Smart Money” atau investor dengan dana besar yang masuk. Mereka tidak mungkin membeli saham hanya Rp 1-2 juta sekali klik; mereka biasanya masuk dengan “tiket” bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per transaksi.

Masuk IDX80, Saham BREN, CUAN, dan HRTA, Begini Proyeksi Analis

CSI (Closing Strength Index): Siapa yang Menang di Menit Terakhir?

CSI mengukur seberapa kuat harga penutupan sebuah saham dibandingkan dengan rentang harganya sepanjang hari itu.

  • Logika Angka: Rentang angkanya adalah 0.0 sampai 1.0.
  • CSI 1 (Sangat Kuat): Artinya saham tersebut ditutup di harga tertingginya hari itu (Closed at High). Ini menandakan pembeli sangat agresif sampai akhir sesi, tidak memberi ruang harga untuk turun.
  • CSI 0.0 (Sangat Lemah): Artinya saham ditutup di harga terendahnya hari itu (Closed at Low). Penjual sangat dominan menekan harga hingga pasar tutup.
  • CSI 0,5: Harga ditutup tepat di tengah-tengah antara harga tertinggi dan terendah.
  • Kenapa Penting? CSI membantu kita melihat psikologi pasar. Jika sebuah saham punya CSI tinggi (misal di atas 0.8), berarti ada kepercayaan diri tinggi dari pelaku pasar untuk “menginapkan” saham tersebut karena ekspektasi harga masih akan naik besok.

Volatilitas IHSG Diproyeksi Masih Tinggi Pekan Depan, Begini Penjelasan Analis

Disclaimer:

Artikel ini ditulis berdasarkan Data Pasar Ringkasan Saham (5 Februari 2026), diunduh langsung dari laman resmi BEI yang diolah dan dianalisis dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Prompt AI dikendalikan secara ketat dan output-nya dikurasi oleh penulis. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan bahasa, perhitungan, maupun analisis. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Pembaca diharapkan bijak sebelum mengambil keputusan investasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *