
caristyle.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (9/2/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,42% secara harian ke Rp 16.805 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,29% secara harian ke Rp 16.838 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah salah satunya dipengaruhi oleh geopolitik global. Washington dan Teheran mengatakan pada akhir pekan bahwa pembicaraan nuklir tidak langsung antara keduanya akan berlanjut setelah apa yang mereka gambarkan sebagai diskusi positif yang diadakan di Oman pada hari Jumat.
Laba Bersih Indosat (ISAT) Sepanjang 2025 Naik 12,2% Ditopang ARPU dan Jaringan 5G
Pesan tersebut membantu meredakan kekhawatiran bahwa konflik militer di Timur Tengah akan segera terjadi, terutama setelah Washington mengerahkan beberapa kapal perang ke wilayah tersebut awal tahun ini. Kekhawatiran akan konflik telah membuat para pedagang memberikan premi risiko yang lebih besar pada minyak, dengan Trump juga mengancam tindakan militer terhadap Teheran.
“Namun, kemungkinan perang habis-habisan di Timur Tengah sekarang tampak lebih kecil, meskipun Teheran memberi sinyal bahwa mereka akan tetap melanjutkan program pengayaan nuklirnya,” kata Ibrahim, Senin (9/2/2026).
Dari dalam negeri, Ibrahim melihat pergerakan rupiah juga dipengaruhi Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). IKK terbaru menunjukkan kenaikan 3,5 poin, dari 123,5 pada Desember 2025 menjadi 127 pada Januari 2026. Level IKK ini menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir atau sejak Januari 2025 (127,2).
IKK merupakan indikator yang dapat digunakan untuk memprediksi perkembangan konsumsi dan tabungan rumah tangga. IKK menggunakan tahun acuan dengan nilai 100. “Artinya indeks kepercayaan konsumen pada Januari 2026 berada di zona optimistis atau di atas nilai acuan,” ucap Ibrahim.
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Selasa (10/2/2026) bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat di rentang Rp 16.760 – Rp 16.800 per dolar AS.



