
caristyle.co.id JAKARTA. Kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk alias sepanjang tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan solid dan menjadi sorotan pelaku pasar.
Bank syariah terbesar di Indonesia ini mencatatkan peningkatan aset 11,64% secara tahunan (yoy). Penopangnya, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 16,2% yoy menjadi Rp 380 triliun. Dana murah mendominasi, tumbuh 19,09% yoy
Penyaluran pembiayaan bank berkode saham BRIS ini juga naik 14,49% yoy menjadi Rp 319 triliun per Desember 2025. Salah satu pendorong utama adalah bisnis emas yang tumbuh pesat. Tercermin dari pembiayaan emas yang melonjak 78,6% yoy menjadi Rp 22,9 triliun. Segmen ini turut mendongkrak fee based income sebesar 25,06% YoY, tertinggi sejak merger.
Analis Bahana Sekuritas, M. Razqi Kurniawan menilai, produk emas memiliki peran strategis. “Produk emas dioptimalkan sebagai pintu masuk untuk akuisisi nasabah baru, memperluas cross-selling, serta memiliki kualitas yang baik apabila dibandingkan dengan produk-produk lainnya,” tulisnya, dalam rilis, pekan lalu,
Analis Citibank bilang, penurunan biaya dana BSI sejalan dengan pertumbuhan nasabah BRIS dan semakin banyaknya nasabah yang memiliki Tabungan haji.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, pencapaian ini ditopang fungsi intermediasi yang berjalan optimal.
“Kinerja solid BSI pada tahun 2025 ditopang berbagai faktor dan berjalannya fungsi intermediasi yang didukung pendanaan yang ample serta penyaluran pembiayaan yang sehat, tepat sasaran, dan juga kontribusi dukungan pembiayaan program,” ujarnya.
Rekomendasi Teknikal Saham ICBP, UNTR, BRIS untuk Rabu (17/9/2025)
Dari sisi profitabilitas, BRIS membukukan laba bersih Rp 7,57 triliun, tumbuh 8,02% yoy. Biaya dana (CoF) terjaga di 2,58% dan biaya kredit (CoC) 0,84%. Pendapatan margin bagi hasil juga meningkat 11,74% yoy berkat strategi ekspansi ke produk berimbal hasil tinggi.
Jumlah nasabah mencapai 23,1 juta, tertinggi sejak merger. Manajemen menilai, bisnis emas akan menjadi motor pertumbuhan baru. Terutama setelah perseroan memperoleh lisensi bullion bank.
Analis menilai prospek BRIS tetap positif seiring ekspansi pembiayaan ritel dan UMKM syariah, digitalisasi layanan, serta potensi pendalaman pasar keuangan syariah. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati potensi tekanan biaya dana dan volatilitas pasar.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menambahkan persepsi investor terhadap BRIS mulai berubah. “Bisa dibilang pergerakan saham BRIS saat ini mulai diposisikan investor sebagai growth story jangka menengah, bukan sekadar saham turunan BUMN,” ujarnya.
Sejumlah analis sekuritas merekomendasikan beli saham BRIS dengan target harga di kisaran Rp 2.800–Rp 4.000, sejalan dengan proyeksi kinerja yang dinilai masih kuat ke depan. Pada penutupan perdagangan Selasa (10/2). harga BRIS tutup di Rp 2.450 alias naik 1,66%.



