Wall Street menguat usai MA AS batalkan tarif global Trump

Posted on

Saham-saham utama Amerika Serikat atau Wall Street ditutup di zona hijau pada perdagangan Jumat (20/2). Penguatan dipimpin oleh lonjakan saham perusahaan teknologi besar seperti Alphabet dan Amazon, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global yang sebelumnya diberlakukan Presiden Donald Trump.

Mengutip Reuters, indeks S&P 500 menguat 0,69 persen dan ditutup di level 6.909,51 poin. Nasdaq naik 0,90 persen ke posisi 22.886,07 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,47 persen menjadi 49.625,97 poin.

Sebanyak sembilan dari 11 sektor dalam S&P 500 mencatat kenaikan. Sektor layanan komunikasi memimpin dengan penguatan 2,65 persen, disusul sektor barang konsumsi non-esensial yang naik 1,27 persen.

Secara mingguan, S&P 500 menguat 1,08 persen. Nasdaq naik 1,51 persen, sementara Dow Jones mencatat kenaikan tipis 0,25 persen.

Mahkamah Agung AS yang didominasi hakim konservatif memutuskan dengan suara 6-3 untuk menolak tarif global yang diterapkan Trump tahun lalu. Kebijakan itu sebelumnya diberlakukan dengan dasar undang-undang federal terkait keadaan darurat nasional.

Menanggapi putusan tersebut, Trump menyebutnya sebagai “aib” dan menyatakan akan tetap mengenakan tarif global 10 persen selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974 sebagai pengganti bea masuk darurat yang dibatalkan pengadilan.

Kepala Riset dan Strategi Kuantitatif Horizon Investments di Charlotte, North Carolina, Mike Dickson, menilai pelaku pasar menyambut positif keputusan tersebut.

“Hari ini menandai berakhirnya beberapa ketidakpastian, dan kita akan memasuki fase selanjutnya,” kata Dickson.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar yang paling banyak dimiliki investor juga ikut terdongkrak. Saham Alphabet, induk Google, melonjak 3,7 persen. Amazon naik 2,6 persen, sementara Apple menguat 1,5 persen.

Kenaikan juga terjadi pada saham perusahaan yang sebelumnya terdampak tarif, seperti Hasbro, Wayfair, Williams-Sonoma, serta RH. Saham-saham tersebut naik di kisaran 0,5 persen hingga 2,3 persen.

Di sisi lain, ribuan perusahaan global telah menggugat kebijakan tarif besar-besaran Trump dan menuntut pengembalian bea masuk yang sudah dibayarkan. Berdasarkan estimasi ekonom Penn-Wharton Budget Model, terdapat potensi lebih dari 175 miliar dolar AS bea masuk yang harus dikembalikan pemerintah AS.

Dari sisi makroekonomi, data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal keempat melambat lebih dalam dari perkiraan. Sementara itu, data terpisah mengindikasikan inflasi meningkat pada Desember.

Mengacu pada FedWatch Tool dari CME, pelaku pasar memperkirakan peluang bank sentral AS memangkas suku bunga pada pertemuan Juni hanya sedikit di atas 50 persen.

Pelaku pasar yang masih mencermati keberlanjutan reli kecerdasan buatan (AI) di Wall Street juga menunggu laporan kinerja kuartalan Nvidia pekan depan. Dalam beberapa bulan terakhir, saham-saham teknologi berbasis AI bergerak fluktuatif seiring kekhawatiran atas valuasi tinggi dan belum kuatnya bukti bahwa investasi besar di sektor tersebut mampu mendorong pertumbuhan pendapatan serta laba.

Sejumlah industri, mulai dari perangkat lunak hingga logistik, turut terdampak sentimen tersebut karena muncul kekhawatiran bahwa perkembangan pesat teknologi AI dapat mengganggu model bisnis lama dan memperketat persaingan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *