Bahlil: Pasokan minyak RI 25 persen lewat Selat Hormuz, bakal dialihkan dari AS

Posted on

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan sebanyak 20-25 persen pasokan minyak mentah Indonesia diimpor dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.

Penutupan jalur distribusi tersebut merupakan langkah retaliasi Iran atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Bahlil mengatakan, Selat Hormuz membawa pasokan minyak mentah global sebanyak 20,1 juta barel per hari, termasuk untuk Indonesia.

“Total impor kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brasil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude 20-25 persen dari Selat Hormuz,” ungkap Bahlil saat konferensi pers, Selasa (3/3).

Imbas dari dinamika tersebut, lanjut Bahlil, maka Indonesia perlu mengambil alternatif pasokan dari negara lain. Dia menyebutkan, untuk minyak mentah, seluruh pasokan akan dialihkan dari AS.

Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, pemerintah saat ini mengambil skenario terburuk dari keterangan di Timur Tengah tersebut, meskipun banyak analisis yang mengatakan bahwa perang ini akan berakhir dalam beberapa minggu.

“Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East sebagian kita alihkan untuk diambil di Amerika. Supaya apa, ada kepastian ketersediaan crude kita,” jelas Bahlil.

Di sisi lain, Bahlil menyebutkan bahwa Indonesia tidak mengimpor BBM bensin dari wilayah Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz. Dengan begitu, tidak ada kekhawatiran terkait pengadaan komoditas tersebut. Sementara untuk Solar, dia memastikan Indonesia tidak lagi butuh impor.

“Secara kebetulan untuk mengimpor jenis bahan BBM seperti ini tidak kita lakukan dari Middle East. Tapi kita lakukan dari negara-negara di luar Middle East termasuk dalamnya adalah Asia Tenggara. Jadi ini relatif gak ada masalah,” tegasnya.

Bahlil melanjutkan, khusus untuk LPG, Indonesia masih mengandalkan pasokan dari Saudi Aramco sebanyak 30 persen dari alokasi impor, sementara sisanya dipasok dari AS. Adapun total impor LPG Indonesia pada tahun ini sebesar 7,8 juta ton.

Hanya saja, saat ini perusahaan Arab Saudi itu tengah menutup kilang terbesarnya karena serangan drone dari Iran. Dengan begitu, selama dinamika berlangsung, Bahlil menyebutkan alokasi impor LPG dari Arab Saudi akan dialihkan ke negara lain.

“Kita tahu bahwa dari informasi dinamika ketegangan di Timur Tengah juga terkait dengan Saudi Aramco, itu juga kena kemarin dinamika di sana. Alternatifnya adalah kita switch lagi supaya kita tidak mau ambil risiko, sebagiannya kita switch lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz,” tutur Bahlil.

Berkaitan dengan Deal Dagang

Bahlil menyebutkan, keputusan pengalihan impor minyak mentah dari Timur Tengah ke AS ini juga sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara pemerintah Indonesia dan AS.

Kendati ada keputusan Mahkamah Agung AS yang menganulir kebijakan Presiden AS Donald Trump terkait tarif impor resiprokal, dia memastikan rencana pembelian komoditas energi dari AS tidak batal.

“Dokumen ART yang kita tekan itu kan salah satu komitmen kita adalah kita membeli BBM, crude, dan LPG di Amerika kurang lebih sekitar USD 15 miliar, dan ini merupakan bagian yang sekalipun sudah diputuskan untuk di pengadilan mereka untuk dianulir, tapi kan kita harus punya komitmen,” ungkap Bahlil.

“Dan apalagi kalau harganya itu ekonomis dan win-win, ya kenapa tidak. Dan ini sudah kita lakukan komunikasi,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *