
Israel mengumumkan gelombang serangan besar terbaru ke ibu kota Iran, Teheran, pada Sabtu (7/3). Pada saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Iran menyerah tanpa syarat jika ingin perang usai.
Perang yang pecah di kawasan Timur Tengah bermula saat Israel, dibantu AS, menyerbu Teheran pada Sabtu (28/2) pekan lalu. Iran lalu merespons dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Serangan gabungan Israel-AS menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Perang yang kini menyebar di beberapa negara di Timur Tengah menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak. Sebab, jalur distribusi global terganggu.
Pada Sabtu pagi ini, militer Israel mengumumkan gelombang serangan terbaru akan menyasar berbagai target milik pemerintah Iran di Teheran.
Laporan lembaga penyiaran Iran menyebut serangkaian ledakan terdengar di sebelah barat Teheran. Sampai sekarang, detail seberapa masif ledakan tersebut dan apakah ada korban jiwa belum diungkap secara rinci.
Adapun Komando Pusat AS, yang bertanggung jawab atas operasi militer di Timur Tengah, mengatakan sebanyak 3.000 target di Iran telah mereka hancurkan dalam sepekan terakhir.
Target-target itu termasuk markas besar Garda Revolusi Iran, sejumlah pusat kendali dan komando, sistem pertahanan udara, rudal, kapal perang, hingga kapal selam.
Lewat media sosial Truth, Trump menegaskan penolakan atas dorongan untuk memulai negosiasi dengan Iran demi mengakhiri perang.
“Tak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali menyerah tanpa syarat,” kata Trump seperti dikutip dari AFP.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut, menyerah tanpa syarat yang dimaksud Trump termasuk ketika AS memandang Iran sudah tidak lagi menjadi ancaman.



