IHSG diproyeksi masih tertekan hari ini (9/3), simak sentimen yang menyeretnya

Posted on

caristyle.co.id – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada awal pekan ini di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. 

Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar global memburu aset safe haven yang turut mengangkat indeks dolar AS.

Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee menilai penguatan dolar AS terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman setelah pecahnya konflik. 

Selain itu, Amerika Serikat dinilai relatif lebih diuntungkan dari kenaikan harga energi karena merupakan salah satu eksportir minyak dan gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.

IHSG Ambruk 7,89% ke 7.585, Cek Saham Net Sell dan Net Buy Terbesar Asing Sepekan

Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik AS juga menunjukkan sinyal perlambatan. Data tenaga kerja terbaru memperlihatkan jumlah nonfarm payrolls bertambah jauh di bawah ekspektasi pasar.

“Pasar tenaga kerja AS terlihat melemah dengan data nonfarm payrolls malah berkurang jauh di bawah perkiraan. Inflasi AS akan naik akibat dampak perang,” ujar Hans kepada Kontan, Minggu (8/3/2026).

Dengan begitu menurutnya bank sentral AS diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan 18 Maret mendatang. 

Sementara peluang pemangkasan suku bunga yang sebelumnya diperkirakan terjadi lebih awal kini mundur, dengan potensi terjadi pada September atau Oktober 2026.

Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan cenderung mempertahankan suku bunga sepanjang tahun ini. 

Bahkan, tidak menutup kemungkinan terjadi kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi di kawasan Eropa tetap tinggi.

Hans menjelaskan, kawasan Uni Eropa dan Asia berpotensi paling terdampak konflik Iran karena ketergantungan yang besar terhadap impor minyak dan LNG, khususnya yang melewati jalur strategis Selat Hormuz.

Jika konflik berlangsung lama, harga energi berpotensi melonjak tajam. Hans memperkirakan harga minyak mentah bisa menembus di atas US$100 per barel, bahkan dalam skenario ekstrem dapat mencapai US$ 120 hingga US$ 150 per barel. Sementara harga LNG berpotensi naik hingga US$ 25 per MMBtu.

Terkoreksi Dalam, Sejumlah Saham Indeks KOMPAS100 Masih Menarik Dicermati

Kondisi tersebut juga memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah yang berpotensi melemah akibat penguatan dolar AS selama periode konflik berlangsung.

Dari sisi pasar saham domestik, Hans menilai IHSG berpeluang bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Pembalikan arah pasar sangat bergantung pada munculnya indikasi kapan konflik akan mereda atau berakhir.

Secara teknikal, IHSG pada Senin (9/3) diperkirakan memiliki area support di kisaran 7.481 hingga 7.000. Sementara area resistance berada di rentang 7.700 hingga 8.098.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *