
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengeluarkan pernyataan keras menanggapi eskalasi militer yang kian memanas di Timur Tengah.
Dalam pernyataan terbarunya, Badr menyebut aksi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai tindakan yang amoral dan ilegal.
“Tindakan yang diambil oleh Israel dan AS terhadap Iran adalah amoral dan ilegal,” tegas Badr dalam pernyataan di X, Minggu (9/3).

Namun, Badr tidak hanya mengecam satu pihak. Dia juga menyatakan penyesalan mendalam atas serangan balasan Iran yang justru berdampak pada negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
“Retaliasi oleh Iran terhadap tetangganya juga sangat disesalkan dan tidak dapat diterima,” ujarnya.

Badr menyerukan tiga poin utama sebagai jalan keluar, yaitu meminta semua pihak menahan diri, gencatan senjata, dan kembali ke meja perundingan.
“Saya menyerukan penahanan diri dari semua pihak, gencatan senjata, dan segera kembali ke jalur diplomasi,” ujarnya.
Badr juga mengunggah foto pertemuan daring dengan para menlu dari Liga Arab yang membahas perkembangan terbaru krisis di Teluk.
Badr selama ini berperan sentral dalam perundingan antara AS dan Iran terkait nuklir.
Badr yang bekerja diam-diam, menerapkan shuttle diplomacy, yaitu meneruskan proposal dan perspektif dari satu pihak ke pihak lain, karena perundingan bersifat tidak langsung (tidak tatap muka langsung AS-Iran).

Pada putaran ketiga perundingan pada 26 Februari di Jenewa, Badr menyebut ada kemajuan signifikan dan perundingan akan berlanjut pada putaran selanjutnya di Wina.
Namun, di tengah periode perundingan itu, AS-Israel memborbardir Iran pada 28 Februari pagi.
Sekarang Badr mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan.



