Prospek saham konsumer stabil tapi margin tertekan rupiah dan biaya, ini kata analis

Posted on

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek saham sektor konsumer diperkirakan masih cukup stabil meskipun menghadapi sejumlah tekanan dari kenaikan biaya produksi dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai sektor konsumer masih memiliki fundamental yang relatif kuat karena didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi motor utama perekonomian domestik.

“Secara prospek sektor konsumer masih akan memiliki fundamental yang relatif stabil, namun memang ruang kenaikannya kemungkinan tidak akan sebesar tahun-tahun sebelumnya,” ujar Ekky kepada Kontan, Selasa (10/3/2026).

Ekspansi &Layanan Spesialis Jadi Katalis Pertumbuhan Saham Siloam, Ini Rekomendasinya

Menurutnya, sejumlah tekanan mulai muncul terutama dari pelemahan rupiah dan potensi kenaikan biaya produksi yang dipicu inflasi global.

Banyak emiten konsumer di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor seperti gandum, gula, susu, maupun bahan kimia tertentu. Ketika rupiah melemah dan harga komoditas tersebut meningkat, biaya produksi ikut naik sehingga berpotensi menekan margin perusahaan.

Meski begitu, Ekky menilai permintaan domestik terhadap produk konsumsi relatif stabil karena didukung oleh konsumsi rumah tangga. Bahkan dalam jangka pendek ada potensi peningkatan permintaan menjelang periode musiman seperti Ramadan dan Idulfitri yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat.

Dari sisi saham, beberapa emiten konsumer seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dinilai cukup sensitif terhadap pelemahan rupiah dan kenaikan biaya bahan baku.

Ekky menjelaskan sensitivitas tersebut berbeda pada masing-masing emiten. ICBP dan MYOR, misalnya, cukup terpengaruh oleh fluktuasi harga bahan baku impor seperti gandum dan susu. Sementara itu JPFA lebih dipengaruhi oleh volatilitas harga bahan baku pakan ternak seperti jagung dan soybean meal.

“UNVR dan KLBF juga menghadapi tekanan dari sisi biaya bahan baku dan distribusi, meskipun emiten dengan kekuatan merek yang kuat biasanya masih memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga secara bertahap guna menjaga margin,” jelasnya.

Senada, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai prospek sektor konsumer ke depan cenderung moderat di tengah tekanan biaya dan pelemahan rupiah.

“Kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan rupiah berpotensi menekan margin, sementara daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih. Meski demikian, sektor ini tetap relatif defensif karena didukung konsumsi domestik yang stabil,” ujar Azis.

Fluktuasi Logam Industri Berlanjut, Ini Proyeksi Para Analis

Menurut Azis, pelemahan rupiah dapat meningkatkan cost of goods sold terutama bagi emiten yang masih bergantung pada bahan baku impor seperti gandum, susu, atau bahan kimia.

Jika kondisi tersebut tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual atau efisiensi biaya, maka margin kotor dan profitabilitas perusahaan berpotensi tertekan.

Di sisi lain, beberapa saham dinilai relatif lebih defensif dalam menghadapi tekanan tersebut, seperti PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Azis menilai kedua emiten tersebut memiliki pertumbuhan volume yang kuat serta pricing power yang baik. Selain itu, model bisnis berbasis distribusi dan ritel juga membuat keduanya lebih fleksibel dalam melakukan penyesuaian harga.

Sementara itu, Ekky menilai investor juga dapat mencermati emiten yang memiliki ketergantungan bahan baku impor lebih rendah atau lebih banyak menggunakan bahan baku domestik.

Contohnya sektor poultry seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang sebagian besar rantai produksinya berasal dari domestik. Selain itu, emiten herbal seperti PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) juga dinilai relatif lebih tahan terhadap tekanan pelemahan rupiah.

Adapun Azis merekomendasikan trading buy saham UNVR dengan target harga Rp2.880 serta JPFA dengan target harga Rp2.630.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *