Saham BRMS bangkit setelah turun sebulan, saatnya beli / jual?

Posted on

caristyle.co.id Jakarta. Harga saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah mengalami tren pelemahan selama sekitar satu bulan terakhir. Apakah momentum ini menjadi saat yang tepat untuk beli atau jual?

Pada perdagangan Selasa (10/11/2025), harga saham BRMS ditutup di level Rp 855 per saham, melonjak 100 poin atau 13,25% dalam sehari. Kenaikan ini cukup signifikan mengingat dalam sebulan sebelumnya saham BRMS sempat terkoreksi sekitar 190 poin atau turun 18,18%.

Di tengah pemulihan harga tersebut, sejumlah analis menilai investor masih memiliki peluang untuk masuk ke saham BRMS.

Wall Street Dibuka Melemah, Investor Waspadai Eskalasi Konflik AS–Iran

Sentimen Harga Emas Jadi Penopang Utama

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, faktor makro utama yang memengaruhi kinerja BRMS adalah pergerakan harga emas global.

Menurutnya, meningkatnya tensi geopolitik global serta aksi akumulasi cadangan emas oleh bank sentral di berbagai negara menjadi katalis kuat yang menopang harga emas.

“Mengingat operasional BRMS saat ini sangat berfokus pada segmen emas, sentimen makro ini menjadi tailwind bagi perusahaan,” ujar Azis kepada Kontan, Selasa (10/3/2026).

Penguatan harga emas dinilai akan berdampak langsung pada peningkatan profitabilitas BRMS. Sebab, sebagian besar pendapatan perusahaan berasal dari penjualan emas.

Setiap kenaikan harga emas berpotensi memperlebar margin laba kotor maupun margin laba bersih perusahaan.

Azis menilai prospek kinerja BRMS pada awal 2026 masih menarik dan berpotensi melanjutkan tren positif.

Tonton: BREAKING! KPK OTT Bupati Rejang Lebong – Baru Beberapa Hari, Kepala Daerah Kembali Ditangkap

Peningkatan Produksi Tambang Jadi Katalis

Salah satu katalis utama BRMS adalah rencana peningkatan produksi dari tambang Poboya yang dikelola oleh anak usaha PT Citra Palu Minerals (CPM).

Peningkatan volume produksi tersebut berpotensi meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat kinerja keuangan perusahaan.

Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra menyebut BRMS saat ini fokus meningkatkan keunggulan operasional dengan memperbesar produksi guna mencapai target jangka menengah 2025–2029.

Hal ini disampaikan manajemen BRMS dalam acara OneASEAN Summit di Singapura pada 4–5 Maret 2026.

“BRMS menyatakan aktivitas penambangan emas terus berlanjut hingga awal April 2026,” tulis Igor dalam risetnya pada 5 Maret 2026.

Selain itu, BRMS juga berencana meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan dari 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton bijih per hari yang ditargetkan rampung pada Oktober 2026.

Kegiatan pengeboran juga sedang berlangsung pada proyek tembaga Gorontalo Minerals (GM).

Tonton: BREAKING! Iran Tembakkan Gelombang Rudal Pertama di Era Pemimpin Baru ke Israel

Potensi Produksi Emas dan Tembaga

Penambangan emas bawah tanah diproyeksikan selesai pada pertengahan 2027. Proyek ini berpotensi meningkatkan produksi emas pada semester II 2027 dengan kadar emas yang lebih tinggi hingga 4,9 gram per ton dibandingkan sekitar 1,5 gram per ton saat ini.

BRMS juga telah memperoleh sebagian besar izin operasional penting untuk aset-aset utamanya, kecuali izin produksi untuk aset Linge.

Di sisi lain, pengumuman standar cadangan tambang Joint Ore Reserves Committee (JORC) untuk proyek tembaga Gorontalo Minerals dijadwalkan pada pertengahan tahun depan.

Hasil pengeboran awal menunjukkan potensi cadangan tembaga proyek tersebut dapat memiliki ukuran yang sebanding dengan tambang Batu Hijau milik Amman Mineral International.

Proyeksi Produksi dan Kinerja Keuangan

Igor memperkirakan produksi emas BRMS akan meningkat dari sekitar 70.000–75.000 ons troi pada 2025 menjadi sekitar 80.000 ons pada 2026.

Sementara itu, analis OCBC Sekuritas, Devi Harjoto menilai pengembangan tambang Citra Palu Minerals (CPM) Underground dan Gorontalo Minerals (GM) akan menjadi mesin pertumbuhan utama BRMS.

Pendapatan BRMS diperkirakan akan didorong oleh tambang emas CPM, dengan laba bersih CPM diproyeksikan mencapai US$ 102,5 juta pada 2026 atau naik 94,8% secara tahunan.

BRMS juga berencana mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 150 juta pada periode 2026–2027 untuk mendukung optimasi tambang bawah tanah CPM dan pengembangan proyek GM.

Dengan peningkatan produksi serta kadar bijih yang lebih tinggi, efisiensi biaya dan profitabilitas perusahaan diperkirakan akan meningkat.

Devi memproyeksikan produksi emas BRMS dapat mencapai sekitar 161.000 ons pada tahun 2028.

Sementara itu, Igor memperkirakan pendapatan dan laba bersih BRMS pada 2026 masing-masing mencapai US$ 379 juta dan US$ 127 juta.

Sebagai perbandingan, pendapatan BRMS diperkirakan mencapai US$ 238 juta pada 2025 dan US$ 162 juta pada 2024.

Saham Emiten BUMN Masih Menarik di Tengah Koreksi Pasar, Cek Saham Jagoan Analis

Rekomendasi Saham BRMS

Beberapa analis memberikan rekomendasi berbeda untuk saham BRMS:

– UBS Sekuritas: rekomendasi netral dengan target harga Rp 1.200 per saham

– OCBC Sekuritas: rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.300 per saham

– Kiwoom Sekuritas: rekomendasi trading buy dengan target harga Rp 965 per saham

Dengan dukungan harga emas global dan ekspansi produksi tambang, saham BRMS dinilai masih memiliki potensi menarik bagi investor meskipun volatilitas pasar tetap perlu diwaspadai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *