Insentif EV dipangkas, dominasi hybrid berpotensi dongkrak kinerja Astra (ASII)

Posted on

caristyle.co.id – JAKARTA. Prospek kinerja emiten PT Astra International Tbk (ASII) dinilai masih cukup menarik pada tahun 2026. Sejumlah katalis mulai dari penguatan segmen otomotif hingga potensi perbaikan sektor pertambangan diperkirakan dapat menopang kinerja ASII.

Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai, pangsa pasar ASII diperkirakan kembali seiring meningkatnya permintaan kendaraan hybrid di pasar domestik. 

Di sisi lain, penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) diperkirakan melambat setelah sejumlah insentif keuangan atah insentif PPN DTP (Ditanggung Pemerintah) untuk pembelian kendaraan listrik mulai disetop.

Pasalnya, Astra saat ini merupakan pemain besar di segmen kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (ICE) serta kendaraan hybrid di Indonesia.

Kinerja Imbal Hasil Unitlink Berbasis Saham Paling Positif per Februari 2026

“Pengurangan insentif EV tentunya akan berdampak positif bagi ASII sebagai pemain otomotif ICE dan hybrid terbesar,” ujar Harry kepada Kontan, Senin (9/3/2026).

Selain itu, Harry melihat peningkatan daya beli masyarakat juga dapat menjadi pendorong kinerja segmen otomotif Astra sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penjualan kendaraan baru yang sempat tertekan dalam beberapa waktu terakhir.

Katalis lain juga datang dari perbaikan kinerja sejumlah entitas anak Astra, khususnya di sektor komoditas. Menurut Harry, potensi pemulihan di sektor pertambangan dapat mendongkrak kontribusi laba dari lini bisnis terkait, seperti dari PT United Tractors Tbk (UNTR) maupun PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).

Consumer purchasing power akan mendorong kinerja segmen otomotif, ditambah perbaikan di UNTR dan AALI,” jelasnya.

Sebagai informasi, diketahui, ASII membukukan pendapatan sebesar Rp 323,39 triliun pada 2025 atau minus 1,5% YoY. Sejalan dengan itu bersih ASII dibukukan sebesar Rp 32,76 triliun di tahun 2025, menurun 3,33% dari periode tahun 2024 senilai Rp 33,9 triliun.

  ASII Chart by TradingView  

Manajemen menyampaikan bahwa penurunan laba tersebut dipengaruhi oleh melemahnya harga batubara serta perlambatan pasar mobil baru.

Namun demikian, Harry menilai prospek kinerja Astra pada tahun ini berpeluang membaik jika sektor pertambangan kembali pulih. Perbaikan di sektor pertambangan akan memperbaiki kinerja dan margin ke depan.

Dengan mempertimbangkan berbagai katalis tersebut, Harry merekomendasikan buy untuk saham ASII dengan target harga di level Rp 7.200 per saham. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *