caristyle.co.id

caristyle.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan awal pekan ini setelah dibuka di zona hijau. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG melemah 0,58% atau terpangkas 52,03 poin ke level 8.884,72 pada penutupan perdagangan, Senin (12/1/2026). IHSG tertekan penurunan enam indeks sektoral dari total 11 sektor di BEI. Sektor yang turun paling dalam adalah infrastruktur 2,37%, teknologi…

caristyle.co.id – JAKARTA. Kinerja saham emiten perbankan besar (big banks) bergerak bervariasi pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (12/1) hingga pukul 16.00 WIB. Tiga saham bank pelat merah tercatat menguat, sementara saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup melemah. Berdasarkan data perdagangan, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan kenaikan tertinggi di antara saham big banks. Sebaliknya, kenaikan…

caristyle.co.id JAKARTA. Pasar modal Indonesia dinilai membutuhkan dorongan lebih besar untuk menghadirkan emiten-emiten baru. Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, menilai jumlah dan variasi penawaran umum perdana (IPO) di Indonesia masih tertinggal dibanding pasar Asia lainnya. Kondisi ini berpotensi membuat kapitalisasi pasar Indonesia semakin mengecil dalam peta investasi regional. “Di tahun 2025 dan…

caristyle.co.id JAKARTA. Pasar saham Indonesia kembali masuk radar investor global pada 2026. Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, menilai, pasar saham Indonesia menawarkan kombinasi menarik berupa valuasi rendah, eksposur asing yang masih minim, serta potensi pemulihan kinerja emiten. Dengan kondisi tersebut, Herald memperkirakan, IHSG bisa tembus level 9.700 di tahun ini, atau naik dari posisi saat…

caristyle.co.id – JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlanjut di tengah tingginya volatilitas geopolitik global, meskipun kinerja perdagangan Indonesia dinilai masih solid. Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai, pelemahan rupiah ke depan lebih banyak dipengaruhi oleh lemahnya arus masuk modal, bukan dari faktor perdagangan. Baca Juga: Rupiah Makin Melemah ke Rp 16.860 per…