Jakarta, IDN Times – Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menyatakan kapal selam Angkatan Laut AS menenggelamkan fregat Iran IRIS Dena dengan satu atau lebih torpedo. Insiden itu terjadi di perairan internasional dekat pesisir selatan Sri Lanka pada Selasa (3/4/2026) malam.
Hegseth menyebut aksi tersebut sebagai penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo kapal selam AS sejak Perang Dunia II dan menggambarkannya sebagai kematian yang sunyi.
“Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” katanya, dikutip dari The Guardian.
Hegseth juga menjelaskan kapal itu dihantam torpedo dan menjadi penenggelaman pertama kapal musuh dengan metode tersebut sejak Perang Dunia II. Ia menyampaikan bahwa pada masa perang itu, ketika masih bernama Departemen Perang, AS bertempur untuk meraih kemenangan.
1. IRIS Dena membawa 180 awak saat pulang dari India 
IRIS Dena tercatat sebagai fregat terbaru milik angkatan laut Iran dengan persenjataan lengkap, termasuk rudal permukaan-ke-udara, rudal anti-kapal, meriam, senapan mesin, dan peluncur torpedo. Kapal tersebut mengangkut sekitar 180 awak dan sedang kembali setelah menghadiri International Fleet Review 2026 di Vishakapatnam, India, pada pekan sebelumnya.
Pada Rabu (4/3/2026) pukul 05.08 waktu setempat, penjaga pantai Sri Lanka menerima sinyal darurat dari kapal itu setelah awak melaporkan adanya ledakan di dalam lambung. Informasi tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Sri Lanka Vijitha Herath di parlemen, lalu angkatan laut Sri Lanka mengirim kapal pertama pukul 06.00 dan kapal kedua pukul 07.00 sesuai konvensi internasional pencarian dan penyelamatan maritim.
Dilansir dari Al Jazeera, posisi kapal berada 44 mil laut atau sekitar 75 kilometer dari kota Galle, tepat di luar perairan teritorial Sri Lanka namun masih dalam zona ekonomi eksklusifnya. Juru bicara angkatan laut Sri Lanka memastikan tak ada kapal atau pesawat lain yang terdeteksi di sekitar titik kejadian saat insiden berlangsung.
2. Otoritas Sri Lanka menemukan 83 jenazah di lokasi
Tim berwenang Sri Lanka menemukan setidaknya 83 jenazah dan mengevakuasi 32 awak yang mengalami luka-luka dari lokasi kejadian. Seluruh korban luka dibawa ke rumah sakit di Galle untuk mendapatkan penanganan medis, sementara operasi pencarian dan penyelamatan masih berlanjut untuk mencari kemungkinan penyintas lain.
Kedutaan Iran di Kolombo mengirim dua perwira ke Galle guna bertemu langsung dengan para korban selamat. Melalui komunikasi tidak resmi, pihak kedutaan menyampaikan kepada pejabat Sri Lanka bahwa mereka meyakini kapal tersebut menjadi target kapal selam AS, serta menilai sistem pertahanan dan kemampuan serangan balasnya telah dilumpuhkan secara elektromagnetik sebelum torpedo menghantam, sedangkan sumber pertahanan Sri Lanka menyebut dua torpedo diduga mengenai bagian tengah lambung kapal.
3. Serangan terjadi di luar Timur Tengah selama konflik
Aksi kapal selam tersebut menjadi operasi militer pertama AS terhadap pasukan Iran di luar kawasan Timur Tengah sepanjang konflik berlangsung. Peristiwa itu terjadi pada hari kelima serangan udara gabungan AS dan Israel ke Iran, yang dilancarkan setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas bersama banyak pejabat senior dan hampir 800 orang lainnya, termasuk puluhan siswi sekolah, serta merusak sistem rudal balistik dan pertahanan udara Iran.
Sebagai respons, Iran meluncurkan drone dan rudal ke Israel serta target yang terkait dengan AS di sejumlah negara Teluk. Serangan balasan itu menewaskan beberapa orang, termasuk enam personel militer AS dan melukai banyak lainnya. Iran kemudian menutup seluruh jalur pengiriman di Selat Hormuz.
Pangkalan angkatan laut utama AS terdekat di Samudra Hindia berada di Diego Garcia dengan jarak lebih dari 1.000 mil atau sekitar 1.600 kilometer dari Sri Lanka.
Profil Hassan Rouhani, Mantan Presiden Iran yang Kini Kembali Diperhitungkan Kelompok Kurdi di Irak Bersiap Lancarkan Serangan Darat ke Iran Sugiono Ungkap Alasan Prabowo Sampaikan Duka soal Iran Lewat Surat



