
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) terus mempercepat transformasi bisnis dari batubara menuju energi bersih. Langkah ini dinilai membuka peluang pertumbuhan baru sekaligus menjadi katalis positif bagi kinerja perseroan ke depan.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Juan Harahap dan Ahnaf Yassar mengatakan masuknya investor baru menjadi pendorong penting dalam mendukung ekspansi BIPI ke sektor non-batubara.
Bakrie Capital Indonesia diketahui mengakuisisi 6% saham BIPI senilai Rp 948 miliar pada 24 Februari 2026 di harga Rp 248 per saham. Investasi ini dinilai memperkuat langkah transformasi perseroan ke energi bersih.
“Masuknya investor baru membuka peluang tambahan pendanaan untuk mendukung ekspansi agresif BIPI ke energi bersih,” tulis Juan dan Ahnaf dalam risetnya yang dikutip Kontan, Selasa (17/3/2026).
Prospek Kinerja BSDE di 2026 Solid, Marketing Sales Rp 10 Triliun Berpotensi Tercapai
Ke depan, BIPI juga berpotensi kembali melakukan aksi penggalangan dana melalui penerbitan saham baru. Tambahan modal ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan bisnis non-batubara sekaligus mengurangi kekhawatiran pasar terkait kebutuhan pendanaan ekspansi.
Di tengah proses transformasi tersebut, kinerja BIPI saat ini masih ditopang oleh bisnis batu bara. Segmen ini diperkirakan tetap memberikan kontribusi signifikan, terutama seiring harga energi global yang masih berada di level tinggi.
“Kondisi harga energi yang kuat serta potensi peningkatan volume produksi akan mendorong pemulihan kinerja BIPI ke arah positif pada 2026,” tulis Juan dan Ahnaf.
Manajemen menargetkan pertumbuhan produksi batu bara sekitar 1 juta ton per tahun hingga mencapai sekitar 8 juta ton dalam jangka menengah. Peningkatan volume ini diharapkan mampu memperkuat arus kas operasional perusahaan.
“Peningkatan produksi akan memperkuat arus kas operasional yang dapat digunakan untuk mendanai ekspansi ke bisnis non-batu bara,” lanjutnya.
Seiring itu, BIPI mulai mengembangkan sejumlah proyek energi bersih. Pada segmen liquefied natural gas (LNG), yakni gas alam yang dicairkan agar lebih mudah disimpan dan didistribusikan, perseroan menargetkan kapasitas awal sekitar 2,5 mmscfd pada paruh kedua 2026.
Sebagai gambaran, mmscfd (million standard cubic feet per day) adalah satuan yang digunakan untuk mengukur volume gas, yang berarti juta kaki kubik gas per hari.
IHSG Rebound ke 7.100-an, Analis Sarankan Sikap Defensif Jelang Libur Panjang
Kapasitas ini ditargetkan meningkat hingga 20 mmscfd pada 2027–2028. Selain itu, BIPI juga berencana mengembangkan dua fasilitas LNG berkapasitas masing-masing 50 mmscfd di Batam dan Aceh dalam jangka panjang.
Di sektor waste to energy (WTE), yakni teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik, BIPI menjajaki peluang melalui partisipasi dalam tender proyek pemerintah, termasuk proyek di Yogyakarta. Sementara pada energi panas bumi (geothermal), perseroan menargetkan pengembangan proyek berkapasitas 150 megawatt (MW) di Ponorogo dengan target produksi mulai 2031.
Diversifikasi ini diharapkan dapat membuka sumber pendapatan baru sekaligus meningkatkan valuasi perusahaan dalam jangka panjang.
Kinerja saham BIPI juga mencerminkan optimisme pasar terhadap transformasi tersebut. Sepanjang tahun berjalan, saham BIPI telah mencatat kenaikan signifikan, yaitu naik 111,96% secara year to date, per Selasa (17/3/2026).
“Penguatan saham BIPI didorong oleh optimisme investor terhadap transformasi bisnis non-batubara serta potensi nilai tambah dari masuknya investor baru,” tulis Juan dan Ahnaf.
Ke depan, permintaan energi bersih diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan kebutuhan listrik, termasuk dari perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI), yakni teknologi yang memungkinkan mesin meniru kecerdasan manusia, serta data center yang membutuhkan pasokan listrik besar.
“Kami melihat dorongan permintaan listrik jangka menengah, termasuk dari perkembangan AI dan data center, akan menjadi katalis tambahan bagi bisnis energi terbarukan BIPI,” tutupnya.



