Bahaya Roblox untuk Anak: Blokir atau Ada Cara Lain?

Posted on

Rencana Pemblokiran Roblox: Antara Kreativitas dan Kekhawatiran Kekerasan

Wacana pemerintah untuk memblokir gim online populer Roblox tengah menjadi perbincangan hangat. Perdebatan ini memunculkan pro dan kontra, terutama di kalangan orang tua yang prihatin terhadap potensi dampak negatifnya terhadap anak-anak. Namun, di sisi lain, banyak yang melihat Roblox sebagai platform kreativitas dan interaksi sosial. Lalu, bagaimana menemukan jalan tengah dalam polemik ini?

Sejumlah pejabat pemerintah mengungkapkan kekhawatiran tentang konten kekerasan dan bahasa kasar yang ada di Roblox, mengatakan gim ini dapat merusak mental dan perilaku anak. Mereka berpendapat bahwa anak-anak mungkin meniru kekerasan yang mereka lihat di dalam gim dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Sebaliknya, pendapat lain beranggapan Roblox justru bisa menjadi wadah untuk mengembangkan kreativitas anak melalui fitur Roblox Studio, yang memungkinkan pengguna menciptakan gim sendiri tanpa harus menguasai pemrograman.

Wacana Pemblokiran dari Pemerintah

Pada 4 Agustus lalu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan keprihatinannya terkait banyaknya konten kekerasan dalam Roblox setelah beberapa siswa mengungkapkan kecintaan mereka terhadap gim tersebut. Hal senada juga disampaikan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, yang menyatakan Roblox berpotensi diblokir jika konten kekerasannya dinilai berlebihan. Pemblokiran ini, menurutnya, juga dapat diterapkan pada gim daring lain yang mengandung unsur kekerasan serupa.

Namun, pandangan berbeda datang dari Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian, yang menolak rencana pemblokiran. Ia menekankan potensi Roblox sebagai media interaksi antar anak dan sarana mengasah kreativitas. Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, mengusulkan alternatif berupa pembatasan usia akses untuk mengurangi risiko paparan konten negatif.

Pandangan Orang Tua: Antara Kekhawatiran dan Dukungan

Pendapat orang tua pun terbagi. Aryani (37 tahun), misalnya, mendukung pemblokiran karena khawatir putrinya yang berusia 14 tahun kecanduan Roblox dan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bermain. Ia berupaya mengatur waktu bermain dan pengeluaran putrinya untuk pembelian item di dalam gim.

Berbeda dengan Aryani, Fadly Rahman (40 tahun) juga merasa lega jika Roblox diblokir. Ia bahkan sudah melarang anaknya yang masih duduk di kelas 5 SD bermain Roblox karena khawatir terhadap dampak negatifnya terhadap perilaku dan prestasi belajar anaknya. Ia juga mengaku pernah melihat konten asusila di dalam gim tersebut.

Namun, tidak semua orang tua memiliki pandangan negatif. Komedian Sule, misalnya, menyatakan bahwa anaknya yang berusia 18 tahun memang menghabiskan banyak uang untuk Roblox (Rp50 juta), tetapi ia menilai gim tersebut mampu mengasah kreativitas dan membantu anaknya belajar bahasa Inggris. Senada dengan Sule, sutradara Ernest Prakasa juga melihat manfaat positif Roblox bagi anaknya yang berusia 11 tahun, bahkan anaknya mampu menghasilkan uang dari gim yang dibuatnya sendiri. Ernest tetap menerapkan aturan ketat, melarang anaknya berinteraksi dengan orang asing di platform tersebut.

Pendapat Pakar Pengasuhan dan Psikolog Anak

Pakar pengasuhan, Damar Wahyu Wijayanti, menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengontrol penggunaan gawai anak, termasuk memahami mekanisme dan pedoman keamanan Roblox. Ia menyarankan orang tua untuk mempelajari sistem rating konten Roblox (minimal, mild, moderate, dan restricted) dan menyesuaikan akses anak berdasarkan usia dan perkembangan mentalnya. Damar juga menyoroti pentingnya kesepakatan terkait pengeluaran uang untuk pembelian item dalam gim.

Psikolog anak, Roslina Verauli, menyarankan pendekatan edukasi dan pendampingan aktif daripada pelarangan total. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang hangat dan terbuka antara orang tua dan anak untuk membantu anak mengembangkan kemampuan melindungi diri di dunia digital.

Apakah Pemblokiran Roblox Solusi Efektif?

Roslina Verauli berpendapat bahwa pemblokiran hanya solusi jangka pendek yang tidak mengatasi akar masalah, yaitu kurangnya literasi digital di kalangan orang tua dan anak. Regulasi pemerintah yang lebih komprehensif, seperti verifikasi usia, standar keamanan digital, dan kampanye literasi digital, diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

Hasil Studi Mengenai Roblox

CEO Roblox, Dave Baszucki, dalam wawancara dengan BBC News, mengungkapkan upaya perusahaan untuk melindungi penggunanya. Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas anak-anak mereka di platform tersebut.

Studi dari Pew Research Center tahun 2024 menunjukkan tingginya angka remaja Amerika Serikat yang bermain gim, termasuk Roblox, untuk berbagai tujuan, mulai dari relaksasi hingga mengekspresikan diri. Namun, studi ini juga menyoroti masalah cyberbullying yang terjadi di Roblox.

Penelitian lain menunjukkan potensi Roblox dalam pembelajaran, terutama jika dikombinasikan dengan metode pembelajaran interaktif dan kolaboratif. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait perundungan siber dan kekerasan. Penelitian oleh Revealing Reality bahkan menemukan celah keamanan yang memungkinkan anak-anak di bawah umur berinteraksi dengan orang dewasa tanpa verifikasi usia yang efektif, serta paparan konten seksual.

Mencegah Dampak Buruk Roblox

Meskipun sulit mencegah dampak buruk sepenuhnya, Roslina Verauli menekankan pentingnya relasi orang tua dan anak yang hangat, terbuka, dan komunikatif untuk meminimalisir risiko. Membekali anak dengan kemampuan melindungi diri di dunia digital jauh lebih efektif daripada sekadar melarang akses.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *