
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah seharian pada perdagangan Rabu (28/1). Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat memberlakukan trading halt imbas indeks saham turun 8 persen.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Irvan Susandy, mengungkapkan investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 3 triliun pada sesi I perdagangan.
“Di sesi I net outflow dari asing Rp 3 triliun. Which is menurut kita Rp 3 triliun dari Rp 30 triliun, karena posisinya sebenarnya asing juga masih ada beli gitu loh dan cukup banyak belinya. Jadi kalau impact margin kemungkinan besar begitu,” kata Irvan kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1).
Meski terjadi arus keluar dana asing, Irvan menilai pelemahan IHSG tidak menjadi persoalan besar bagi investor ritel domestik. Ia menyebut hingga saat ini tidak ada indikasi masalah serius terkait transaksi margin atau margin call di kalangan investor ritel.
“Tapi sejauh ini sih saya pikir harusnya sih gak ada isu problem dari transaksi margin ya. Tapi memang suka-tidak suka kemungkinan besar ada for sale, karena kan ya beberapa saham yang masuk saham margin kan ada yang juga udah lebih dari 7%. Ya kan ada yang 10, ada yang 15 gitu ya. Nah suka tidak suka pasti ada kemungkinan besar juga ada for sale,” tutur dia.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyebut tingginya nilai transaksi menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia tetap terjaga, meski dihadapkan pada sentimen global.
“Hari ini tanpa adanya MSCI bikin report announcement Rp 31 triliun. Pak Irvan bilang tadi, hari ini yang keluar berapa Rp 3,6 triliun dari Rp 30 triliun. Jadi 90% masih percaya market kita,” kata Iman.
IHSG berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan saham sore ini, Rabu (28/1). Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt) setelah sesi II dibuka anjlok 8 persen ke 8.261,7.
IHSG ditutup turun 7,35 persen ke posisi 8.320,5. Indeks LQ45 ditutup turun 7,26 persen ke 812,539. Sebanyak 37 saham naik, 753 saham turun, dan 16 saham stagnan.
Frekuensi saham ditransaksikan sebanyak 3,9 juta kali dengan total volume perdagangan sebanyak 60,2 miliar saham senilai Rp 44,9 triliun.



