
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek kinerja emiten di sektor konsumer. Tekanan kurs dinilai berpotensi meningkatkan beban biaya, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Walau rupiah sudah kembali ke bawah Rp 16.900 per dolar Amerika Serikat (AS) di akhir pekan, namun rupiah sempat berada di level Rp 16.956 per dolar AS pada Selasa (20/1/2026) dan jadi level terburuk sepanjang masa.
Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas Cindy Alicia Ramadhania mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap emiten konsumer pada umumnya berdampak pada meningkatnya biaya impor bahan baku. Hal ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan sejumlah emiten konsumer terhadap bahan baku impor, seperti gandum, jagung, bahan baku makanan dan minuman, serta material kemasan.
“Ketika rupiah melemah, biaya produksi cenderung meningkat, yang pada akhirnya berpotensi menekan margin dan membebani kinerja keuangan perusahaan,” kata Cindy kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).
Yen Jepang Tiba-Tiba Perkasa Dihadapan Dolar AS, Ini Penyebabnya
Cindy menambahkan, emiten yang paling terdampak negatif dari sentimen ini ialah perusahaan dengan porsi bahan baku impor yang besar atau memiliki kewajiban utang dalam valuta asing yang signifikan, karena lebih rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
Sebaliknya, emiten dengan basis pasar domestik yang kuat dan fokus pada penjualan kebutuhan pokok cenderung lebih resilien terhadap pelemahan rupiah.
Selain itu, perusahaan yang memiliki kontribusi penjualan ekspor juga berpotensi diuntungkan, mengingat pendapatan dalam dolar Amerika Serikat akan meningkat nilainya saat dikonversi ke rupiah.
Meski demikian, Cindy berpandangan pelemahan rupiah tidak serta-merta berdampak negatif terhadap seluruh saham konsumer. Faktor lain yang turut memengaruhi ialah kondisi daya beli masyarakat.
“Emiten konsumer kebutuhan pokok relatif lebih stabil, sementara sektor konsumer non-esensial memiliki risiko yang lebih tinggi,” tambah Cindy.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyampaikan pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi di sektor konsumer. Kenaikan tersebut terutama berasal dari bahan baku berbasis impor, seperti gandum, susu dan minyak.
“Dengan adanya pelemahan rupiah otomatis biaya produksi akan mengalami kenaikan,” ujar Nico kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).
Kondisi ini juga membuat perusahaan berpeluang menyesuaikan harga jual ke level yang lebih tinggi. Dampaknya, beban konsumsi masyarakat berpotensi meningkat, terlebih sektor konsumer dikenal memiliki tingkat persaingan harga yang ketat.
IHSG Anjlok 1,37% di Pekan Ini: Cek Sektor yang Paling Terpukul!
Dari sisi peluang, emiten konsumer dengan eksposur ekspor dinilai masih berpeluang diuntungkan oleh pelemahan rupiah. Nico mencontohkan emiten seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memiliki porsi penjualan ekspor relatif besar.
Sebaliknya, emiten yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor berisiko terdampak negatif. Kenaikan biaya produksi dapat mendorong harga jual meningkat, yang pada akhirnya menekan volume penjualan.
Meski begitu, Nico menilai sektor konsumer masih memiliki prospek yang cukup positif. Terjaganya daya beli dan konsumsi masyarakat, ditambah dengan tren penurunan suku bunga serta meningkatnya optimisme terhadap perekonomian nasional membuat masyarakat dinilai semakin berani untuk berbelanja.
“Faktor harga jual tetap menjadi aspek krusial yang perlu diperhatikan,” tutup Nico.
JPFA Chart by TradingView
Nico merekomendasikan sejumlah saham konsumer antara lain INDF, ICBP, AMRT dan JPFA di masing-masing target harga Rp 9.460, Rp 11.920, Rp 2.635 dan Rp 2.900.
Adapun Cindy menyarankan investor untuk mencermati saham JPFA di target harga Rp 3.100 per saham.



