
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah menetapkan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 335 triliun pada tahun 2026. Nilai ini melonjak signifikan dibandingkan alokasi tahun 2025 yang sebesar Rp 171 triliun. Dari sisi sasaran, program andalan pemerintah tersebut ditargetkan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat sepanjang 2026.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengatakan kenaikan anggaran MBG yang signifikan menegaskan komitmen pemerintah menjadikan program ini sebagai salah satu prioritas utama. Kenaikan anggaran ini berpotensi memberikan dampak berantai ke sektor pangan primer, khususnya poultry.
Sejalan dengan hal tersebut, Danantara berinvestasi pada sektor poultry mulai Januari 2026. Peran Danantara diperkirakan sebagai penyedia modal maupun offtaker, dengan alokasi dana hingga Rp 20 triliun yang dapat dimanfaatkan untuk skema pembiayaan peternak mitra. Skema ini berpotensi mendorong permintaan DOC dan pakan ternak, karena peternak binaan pada akhirnya akan bergantung pada pasokan dari emiten poultry besar.
Emiten Unggas Berpotensi Diuntungkan Program MBG Tahun 2026, Ini Analisanya
“Dari sisi emiten, JPFA dan CPIN menjadi pihak terdampak positif,” kata Ratih kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).
JPFA mencatat kontribusi pendapatan sebesar 40% dari segmen pakan ternak dan 32% dari penjualan DOC, sehingga peningkatan volume permintaan dari program MBG dan sinergi dengan Danantara berpotensi mendorong pertumbuhan top line.
Di sisi lain, secara pangsa pasar, CPIN masih memimpin dengan produksi pakan ternak dan DOC masing-masing sebesar 32% dan 38%, dibandingkan JPFA yang berada di level 21% dan 25%, namun keduanya berada pada posisi strategis untuk menangkap kenaikan permintaan.
“Selain poultry, sektor pangan primer lainnya seperti produk dairy juga berpotensi memperoleh sentimen positif, mengingat kebutuhan MBG diperkirakan dapat meningkatkan permintaan susu hingga sekitar 8 ton per tahun,” tambah Ratih.
Namun, potensi ini belum tercermin pada pergerakan harga saham sektor terkait, yang masih menunjukkan volume transaksi relatif terbatas. Pada akhirnya, realisasi belanja MBG oleh pemerintah dan kejelasan skema investasi Danantara diperlukan untuk menjadi katalis lanjutan bagi sektor primer.
Di sisi risiko, fluktuasi nilai tukar rupiah menjadi faktor penting yang perlu dicermati, terutama dengan kondisi rupiah JISDOR yang menyentuh Rp16.800/USD (8/1). Ketergantungan industri poultry pada bahan baku impor seperti soybean meal dan corn dapat meningkatkan biaya produksi (biaya input) yang bisa menekan margin kotor (gross margin) emiten.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menilai program ini akan mendorong peningkatan permintaan bahan pangan, distribusi logistik, hingga jasa pendukung, sehingga emiten di rantai pasok terkait berpeluang mencatat pertumbuhan pendapatan yang lebih stabil.
Dampaknya cenderung positif, terutama bagi emiten yang memiliki eksposur langsung ke konsumsi massal berbasis kebutuhan pokok atau MBG.
Sejumlah emiten di sektor consumer staples dan pengolahan makanan seperti produsen beras, protein, dan makanan olahan serta sektor peternakan, perikanan, hingga logistik dan distribusi dinilai berpotensi menjadi penerima manfaat utama.
Ini didorong oleh volume permintaan yang besar dan bersifat berkelanjutan. Beberapa contoh saham yang disebut berpotensi ketiban untung antara lain PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF).
Bagi investor, Hari mengingatkan untuk bersikap selektif dengan fokus pada emiten yang memiliki eksposur langsung, kapasitas produksi memadai, dan margin yang tetap terjaga, bukan sekadar terdorong sentimen.
“Perlu dicermati juga risiko keterlambatan realisasi anggaran, tekanan margin akibat kenaikan biaya bahan baku, serta potensi price-in di saham-saham terkait,” jelas Hari kepada Kontan, Kamis (9/1/2026).
Rekomendasi Saham
Ratih merekomendasikan buy on weakness saham JPFA dengan target harga pada resistance Rp 2.750-Rp 2.850 serta mempertimbangkan support di posisi Rp 2.300. Selain itu, ia juga menyarankan akumulasi beli ULTJ di target harga resistance Rp 1.600 dan support Rp 1.370 per saham.
Penghimpunan Dana di Pasar Modal Tembus Target, Intip Pipeline IPO Terbaru OJK



