Ekonomi RI mandek, calon deputi gubernur BI beberkan biang keroknya

Posted on

Jakarta, IDN Times – Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan di kisaran 5 persen selama 12 tahun terakhir menjadi sinyal serius adanya ancaman middle income trap. Padahal, pada periode awal pembangunan ekonomi nasional, Indonesia pernah mencatat pertumbuhan tinggi.

Pada 1968 dan tahun-tahun sesudahnya, ekonomi nasional mampu tumbuh di kisaran 7–8 persen, bahkan sempat mencapai 10,92 persen pada 1968.

“Kenapa 12 tahun terakhir ini ekonomi kita, bahasanya, letoy masih di 5 persen terus? Ini memang identik dengan ancaman middle income trap,” ujarnya saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur BI di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (23/1/2026).

1. Perlu tingkatkan level pertumbuhan ekonomi

Menurut Solikin, stagnansi pertumbuhan ekonomi selama lebih dari satu dekade menunjukkan perekonomian Indonesia belum cukup kuat untuk naik ke level pertumbuhan yang lebih tinggi. Meski demikian, Indonesia masih berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah dan belum terperosok ke jebakan pendapatan menengah bawah.

“Kita masih bersyukur berada di kategori middle income. Namun tentu kita tidak boleh puas diri,” kata Solikin.

2. Terbatasnya peningkatan produktivitas dan nilai tambah ekonomi nasional

Solikin menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang tidak mampu menembus level lebih tinggi mencerminkan terbatasnya peningkatan produktivitas dan nilai tambah ekonomi nasional. Kondisi tersebut berpotensi menghambat Indonesia untuk naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi.

Menurutnya, diperlukan reformasi struktural yang lebih agresif, termasuk penguatan sektor industri bernilai tambah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pendalaman sektor keuangan agar pertumbuhan ekonomi dapat berakselerasi secara berkelanjutan.

3. Struktur industri nasional kehilangan daya saing

Di sisi lain, Solikin menilai stagnasi pertumbuhan juga dipengaruhi oleh struktur industri nasional yang kian kehilangan daya saing. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan era Orde Baru, ketika industri domestik masih aktif mendorong ekspor.

“Sekarang industri kita sudah obsolet. Itu sebabnya jarum saja kita impor,” ujarnya.

Selain lemahnya industri, pola konsumsi masyarakat juga dinilai tidak sejalan dengan kapasitas produksi domestik. Solikin menyebut masyarakat Indonesia cenderung berperilaku layaknya negara berpendapatan tinggi, dengan konsumsi produk impor dan jasa luar negeri yang besar.

“Kita berperilaku seperti orang high income, sedikit-sedikit ke Starbucks. Itu semua kan impor jasa,” ucapnya.

4. Perlunya penguatan struktur industri

Oleh karena itu, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi dan keluar dari ancaman middle income trap, Solikin menekankan pentingnya percepatan hilirisasi industri. Penguatan struktur industri diyakini dapat meningkatkan nilai tambah, memperluas ekspor, dan memperbaiki kinerja ekonomi secara berkelanjutan.

Selain itu, pendalaman pasar keuangan juga dinilai krusial, termasuk penguatan instrumen keuangan serta pemanfaatan instrumen lindung nilai (hedging).

“Kita perlu mempercepat hilirisasi, menggerakkan struktur industri, serta memperdalam pasar keuangan beserta instrumen-instrumennya, termasuk dalam praktik hedging,” tuturnya.

Prabowo Sebut Indonesia Jadi Bright Spot di Tengah Ekonomi Global Calon Deputi Gubernur Solkin Juhro: BI Tetap Komit Jaga Independensi Calon Deputi Gubernur BI Solikin Juhro Ungkap Alasan Kredit Masih Loyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *