Gempa Bumi Bekasi: Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat dan Ancamannya
Rangkaian gempa bumi yang mengguncang wilayah Bekasi sejak Rabu malam, 20 Agustus 2024 hingga Kamis pagi, menyisakan kekhawatiran akan potensi ancaman di masa mendatang. Getaran gempa pertama, yang terjadi pukul 19.54 WIB, terasa hingga Jakarta, Depok, dan Bogor. BMKG menyatakan gempa berkekuatan M 4,7 ini dipicu oleh Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat (West Java Back-arc Thrust), sebuah sesar aktif yang membentang di wilayah padat penduduk dan pusat ekonomi. Kejadian ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan mitigasi bencana guna meminimalisir kerusakan dan korban jiwa. Meskipun otoritas menyatakan tidak ada korban jiwa, satu musala di Kabupaten Bekasi roboh dan 46 bangunan di Kabupaten Karawang mengalami kerusakan. Hingga Kamis pagi, BMKG mencatat 13 gempa susulan, dengan yang terbesar berkekuatan M 3,9.
Mengenal Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat (West Java Back-arc Thrust)
Pertanyaan besar muncul: apa sebenarnya West Java Back-arc Thrust, dan bagaimana hubungannya dengan Sesar Baribis yang sebelumnya dikaitkan dengan gempa di Jabodetabek? Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sonny Aribowo, menjelaskan bahwa West Java Back-arc Thrust merupakan patahan aktif yang membentang di sisi utara Pulau Jawa bagian barat, dari Kuningan hingga ke timur, melewati Cirebon, Majalengka, Subang, Purwakarta, Karawang, dan Bekasi, serta bercabang menuju Bogor dan menyentuh sisi selatan Jakarta. Nama “Back-arc Thrust” diberikan karena posisi sesar ini berada “di belakang” busur vulkanik Jawa Barat, seperti Gunung Ciremai, Gunung Cakrabuana, Gunung Tampomas, dan Tangkuban Parahu, jika dilihat dari sisi selatan. Sesar ini bersifat naik (“thrust”), di mana satu blok batuan terdorong ke atas blok lainnya.
Meskipun tampak membentang lebih dari 200 kilometer, sesar ini sebenarnya terbagi dalam beberapa segmen yang terputus-putus. Gempa di Bekasi diduga berasal dari segmen Citarum (41 km), sementara segmen lain meliputi segmen Citarum Front (50-60 km) dan segmen Baribis. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, meluruskan persepsi sebelumnya, menyatakan bahwa Sesar Baribis merupakan salah satu segmen dari West Java Back-arc Thrust yang lebih luas. Sebelumnya, zona ini dikenal sebagai zona patahan Baribis-Kendeng.
Mekanisme Gempa dan Potensi Magnitudo
Gempa di sepanjang West Java Back-arc Thrust terjadi akibat interaksi antara Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke atas dan Lempeng Eurasia (Sunda) yang relatif diam. Tekanan dari pergerakan lempeng menyebabkan energi terakumulasi di kerak bumi, yang kemudian dilepaskan sebagai gempa. Pola patahannya berbeda dengan Sesar Lembang yang bersifat mendatar. Penelitian Sonny Aribowo dan tim pada Juli 2022 menunjukkan aktivitas West Java Back-arc Thrust telah berlangsung sejak era Pleistosen akhir (2,58 juta tahun sampai 11.700 tahun lalu).
Berdasarkan catatan sejarah dan analisis geologi, termasuk metode seismik refleksi dan pengukuran resistivitas listrik, para peneliti memperkirakan magnitudo gempa maksimum yang berpotensi terjadi di zona patahan ini adalah M 6,9. Meskipun gempa dengan magnitudo lebih dari M 7 belum pernah tercatat sejak alat pencatat gempa modern dipasang di Jawa pada 1928, potensi kerusakan tetap perlu diwaspadai karena gempa darat, terutama yang dangkal, dapat mengakibatkan kerusakan parah di daerah pemukiman padat penduduk. Gempa besar di Bogor pada 5 Januari 1699, yang diperkirakan berkekuatan M 7-7,7 berdasarkan penelitian Arthur Wichman, menjadi bukti potensi ancaman tersebut.
Mitigasi Bencana: Peran Pemerintah dan Kesiapsiagaan Masyarakat
Mengingat jumlah penduduk yang tinggal di sepanjang jalur West Java Back-arc Thrust mencapai lebih dari 11 juta jiwa (tidak termasuk Jakarta), mitigasi bencana menjadi krusial. Sonny Aribowo telah berkoordinasi dengan BPBD di berbagai daerah dan BMKG untuk sistem peringatan dini. Pemprov DKI Jakarta telah membentuk Satgas Penilaian Gedung dan Nongedung dan menerapkan standar ketahanan gempa dalam pembangunan sekolah baru. Namun, BNPB menekankan pentingnya kesiapsiagaan sosial masyarakat, di samping penerapan teknologi konstruksi tahan gempa dan sosialisasi yang intensif. Kurangnya kesadaran masyarakat akan potensi gempa dan jalur evakuasi, seperti yang diungkapkan oleh warga Jakarta, Husni, menjadi catatan penting. Kejadian terhentinya operasional kereta commuter line dan penundaan perjalanan kereta cepat Jakarta-Bandung Whoosh pasca gempa Bekasi menunjukkan dampak yang luas dari peristiwa ini.
Kesimpulan
Gempa bumi Bekasi merupakan pengingat akan pentingnya pemahaman dan mitigasi terhadap ancaman gempa bumi di wilayah padat penduduk seperti Jawa Barat. Penelitian dan pemantauan terus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman kita tentang sesar aktif di Indonesia, termasuk West Java Back-arc Thrust, demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.