Harga minyak global melonjak 9% usai Iran pastikan akan tetap tutup Selat Hormuz

Posted on

Harga minyak mentah dunia ditutup melonjak sekitar 9 persen pada Kamis (12/3), mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. Kenaikan ini terjadi setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di seluruh Timur Tengah, sementara pemimpin tertinggi negara itu bersumpah akan tetap menutup Selat Hormuz yang vital.

Mengutip Reuters, minyak mentah Brent ditutup pada level USD 100,46 per barel, naik USD 8,48 atau 9,2 persen, setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di USD 101,60. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup pada USD 95,70 per barel, juga naik USD 8,48 atau 9,7 persen. Kedua kontrak tersebut mencatatkan penutupan tertinggi sejak Agustus 2022.

“Pasar saat ini sangat tidak seimbang dan kondisi ini akan terus berlangsung hingga Selat Hormuz dibuka kembali serta aktivitas hulu dan hilir kembali normal. Hal itu tidak akan terjadi dengan cepat,” kata Wakil Presiden sekaligus Kepala Global Riset Minyak Mentah di S&P Global Energy, Jim Burkhard.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada CNBC pada Kamis (12/3), Angkatan Laut AS saat ini belum dapat mengawal kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Namun, ia menilai kemungkinan pengawalan tersebut dapat dilakukan pada akhir bulan ini.

Wright juga menyatakan harga minyak global kecil kemungkinan menembus USD 200 per barel, meskipun Iran terus melakukan serangan terhadap kapal-kapal niaga.

Menurut pejabat keamanan Irak pada Kamis (12/3), dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak dilaporkan diserang oleh perahu bermuatan bahan peledak milik Iran. Seorang pejabat Irak juga mengatakan kepada media pemerintah seluruh pelabuhan minyak negara itu telah menghentikan operasinya.

Oman juga memindahkan seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utamanya di Mina Al Fahal, yang berada di luar Selat Hormuz, sebagai langkah pencegahan, menurut laporan Bloomberg News.

Pada Senin (9/3), harga Brent sempat menyentuh USD 119,50 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022, sebelum kemudian turun setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan perang dengan Iran mungkin akan segera berakhir.

Untuk meredam lonjakan harga energi, pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan untuk menangguhkan sementara penerapan Jones Act yang telah berlaku selama lebih dari satu abad. Kebijakan tersebut bertujuan memastikan pengiriman energi dan produk pertanian dapat bergerak lebih bebas antar pelabuhan di AS, seperti yang diungkapkan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.

Gangguan Pasokan

Badan Energi Internasional (IEA) pada Kamis (12/3) menyatakan perang tersebut telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar global. Pernyataan ini disampaikan sehari setelah lembaga tersebut menyetujui pelepasan rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategis.

Namun, rincian mengenai distribusi pelepasan cadangan tersebut belum diberikan. Analis dari Energy Aspects menyatakan, pasar masih meragukan apakah seluruh volume tersebut benar-benar akan dilepas. Mereka menambahkan bahwa total cadangan yang sebagian besar berupa minyak mentah dan sebagian produk olahan itu hanya setara dengan sekitar 25 hari gangguan aliran pasokan saat ini.

Menurut laporan bulanan pasar minyak terbaru dari IEA, negara-negara Teluk Timur Tengah juga telah memangkas total produksi minyak setidaknya sebesar 10 juta barel per hari, atau setara dengan hampir 10 persen dari permintaan minyak global.

Selain itu, kilang minyak di Timur Tengah juga telah menghentikan kapasitas pengolahan minyak mentah dan kondensat sebesar 2,35 juta barel per hari, kata konsultan energi IIR.

Di sisi lain kelompok Hezbollah di Lebanon meluncurkan serangan roket terbesar sejak perang dimulai pada Rabu (11/3), yang memicu serangan balasan Israel hingga mengguncang Beirut. Serangan Hezbollah juga meningkatkan kekhawatiran bahwa kelompok Houthi di Yaman dapat ikut bergabung dalam perang di pihak Iran, yang berpotensi semakin mengganggu pelayaran di Laut Merah.

Arab Saudi dilaporkan meningkatkan ekspor minyak mentah dari pelabuhan Laut Merah di Yanbu dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, China memerintahkan larangan segera terhadap ekspor bahan bakar olahan pada Maret sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kekurangan bahan bakar domestik akibat konflik di Timur Tengah, menurut sejumlah sumber pada Kamis (12/3).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *