Hujan Meteor Perseid: Jadwal & Lokasi Terbaik Melihatnya di Indonesia!

Posted on

Saksi Langit Bertaburan Bintang: Hujan Meteor Perseid, Tontonan Langit Terindah Tahun Ini

Penampakan hujan meteor Perseid telah memukau dunia. Para pengamat astronomi menyebutnya sebagai pertunjukan langit paling menakjubkan di tahun ini. Fenomena alam ini paling jelas terlihat di belahan bumi utara, meskipun beberapa meteor juga dapat dinikmati dari belahan bumi selatan.

Waktu terbaik untuk menyaksikan hujan meteor Perseid adalah setelah bulan purnama. Namun, kondisi cuaca dan polusi cahaya di lokasi pengamatan turut menentukan kualitas pengalaman menyaksikan fenomena ini.

Hujan Meteor Perseid di Indonesia: Kapan dan di Mana Melihatnya?

Bagi masyarakat Indonesia, Avivah Yamani dari Komunitas Langit Selatan menjelaskan bahwa hujan meteor Perseid dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia mulai tengah malam hingga sebelum fajar. Puncaknya terjadi antara dini hari tanggal 12 Agustus hingga 13 Agustus, meskipun masih dapat dinikmati hingga 24 Agustus, namun dengan intensitas yang semakin berkurang. Perseus, titik radian hujan meteor ini, baru terbit sekitar pukul 00.14 WIB, sehingga pengamatan terbaik dimulai sekitar pukul 02.00 WIB ketika Perseus sudah lebih tinggi di langit.

Lokasi ideal untuk pengamatan adalah area dengan minim polusi cahaya. Meskipun di Jakarta masih memungkinkan untuk melihatnya jika cuaca cerah, polusi cahaya menjadi faktor penghambat. Cuaca cerah merupakan kunci utama untuk menikmati pertunjukan langit ini.

Mengenal Hujan Meteor Perseid: Asal-usul dan Proses Terjadinya

Hujan meteor terjadi ketika Bumi melewati jalur orbit yang dipenuhi sisa debu dan puing-puing komet atau asteroid. Menurut NASA, Perseid berasal dari komet Swift-Tuttle yang mengorbit matahari setiap 133 tahun sekali. Partikel debu komet ini memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 59 kilometer per detik, terbakar, dan menghasilkan kilatan cahaya terang yang kita kenal sebagai meteor.

Perseid telah diamati selama hampir 2000 tahun, dengan catatan terawal berasal dari Tiongkok kuno. Nama Perseid sendiri diambil dari rasi bintang Perseus, tempat meteor-meteor tersebut tampak berasal.

Tips Memaksimalkan Pengamatan Hujan Meteor Perseid

Hujan meteor Perseid terjadi setiap Juli dan Agustus. Namun, tahun ini puncaknya bertepatan dengan bulan purnama Sturgeon (9 Agustus), yang mengurangi jumlah meteor yang terlihat. Finn Burridge dari Royal Observatory Greenwich menjelaskan bahwa meskipun tidak mungkin melihat 100 meteor per jam seperti biasanya, masih ada kesempatan untuk melihat beberapa “bintang jatuh” per jam, bahkan saat bulan purnama.

Meteor Perseid dikenal terang dan cepat. Pengamatan dapat dilakukan dengan mata telanjang, tetapi cuaca tetap menjadi faktor penentu. Periksa prakiraan cuaca sebelum memulai pengamatan. Gunakan senter lampu merah untuk membantu mata beradaptasi dengan kegelapan dan melihat meteor yang lebih redup. Hindari paparan cahaya ponsel untuk menjaga kepekaan mata terhadap cahaya redup.

Meskipun paling jelas terlihat di belahan bumi utara, sebagian meteor masih dapat dinikmati dari belahan bumi selatan. Burridge merekomendasikan untuk mengamati setelah bulan purnama, misalnya pada akhir pekan tanggal 16 dan 17 Agustus, untuk mendapatkan pengalaman yang lebih baik.

Berikut tips dari Burridge untuk memaksimalkan kesempatan melihat hujan meteor:

  • Cari lokasi dengan pemandangan langit yang luas, bebas dari halangan seperti bangunan, pohon, atau bukit.
  • Berbaring telentang dan lihat ke atas, karena meteor dapat muncul di mana saja di langit.
  • Amati dari tempat yang jauh dari lampu kota. Bawa air minum, ponsel yang terisi daya, dan beri tahu seseorang tentang lokasi Anda.
  • Bersabarlah. Butuh sekitar 20 menit bagi mata untuk beradaptasi dengan kegelapan.

Laporan oleh Maddie Molloy, BBC News. Laporan tambahan oleh Andrew Webb, BBC World Service, dan Riana Afifah.

  • Geminid, ‘rajanya hujan meteor’ yang akan menghiasi langit akhir pekan ini
  • Kenapa mamalia bisa hidup lebih lama dari dinosaurus
  • Asteroid bawa elemen penting saat jatuh ke Bumi, kata peneliti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *