Ibu & Putri Raih Mimpi: Lolos Kedokteran India!

Posted on

“Ibu saya ingin saya menjadi dokter. Putri saya membantu saya mewujudkan impian itu,” kata Amuthavalli Manivannan, menggambarkan perjalanan hidupnya yang luar biasa. Kisah ini bermula di sebuah kota kecil di Tamil Nadu, India selatan, tempat Amuthavalli berjuang melawan berbagai rintangan sejak usia dini.

Lahir dalam kasta Dalit, kelompok masyarakat yang terpinggirkan di India, Amuthavalli menghadapi diskriminasi sejak kecil. Ia juga mengidap polio saat bayi dan kehilangan ayahnya di usia 11 tahun. Meskipun demikian, cita-citanya untuk menjadi dokter tetap membara sejak masa kanak-kanak.

Namun, takdir berkata lain. Nilai ujian akhir sekolahnya tak cukup tinggi untuk masuk fakultas kedokteran. Ia pun memilih jurusan fisioterapi. Ironisnya, jalan menuju impiannya justru terbuka berkat putrinya, Samyuktha, yang tahun lalu mempersiapkan diri untuk ujian masuk kedokteran. Melihat perjuangan putrinya, Amuthavalli tergerak untuk mencoba lagi.

Termotivasi oleh ambisi masa lalunya, Amuthavalli bertekad bulat. Kegigihannya membuahkan hasil yang menakjubkan: ia lulus ujian masuk kedokteran bersama putrinya. Keduanya kini bersiap untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.

Persaingan yang Sengit


Amuthavalli mengaku terkejut dengan keberhasilannya. “Saya mempersiapkan diri dengan keras selama enam bulan terakhir,” ujarnya, mengungkapkan rasa syukur atas penerimaan di universitas negeri. Ia menyadari betapa ketat persaingan masuk fakultas kedokteran di India. Sekitar 2,4 juta mahasiswa bersaing memperebutkan sekitar 120.000 tempat, dan hanya setengahnya berada di universitas negeri yang menawarkan biaya kuliah minimal.

Samyuktha, seperti calon mahasiswa kedokteran lainnya, menghabiskan satu tahun mempersiapkan ujian nasional pasca sekolah menengah. “Dia sering meminta saya untuk memeriksa jawabannya. Tiba-tiba, saya terpikir untuk mencoba juga,” kenang Amuthavalli kepada BBC News Tamil. Proses belajar bersama ini menjadi kunci keberhasilan mereka berdua.

Persiapan Ujian yang Menantang
Lebih dari tiga dekade telah berlalu sejak Amuthavalli menyelesaikan sekolah. Sebagai lulusan fisioterapi, silabus kedokteran terasa sangat berbeda. “Saya merasa fisika sangat menantang. Banyak persamaan dan rumus yang sulit saya pahami,” akunya. Namun, ia berhasil mengatasi tantangan tersebut, terutama berkat bimbingan Samyuktha. “Saya berhasil di biologi,” katanya lega. Sistem ujian pilihan ganda dengan pengurangan poin untuk jawaban salah juga menjadi tantangan tersendiri. Samyuktha membantu ibunya memahami strategi menjawab yang tepat.

Samyuktha berbagi pengalamannya mengajar ibunya. “Biasanya, Ibu akan menjawab tiga dari lima pertanyaan saya dengan salah. Itu membuat saya marah!” Meskipun demikian, ia mengakui bahwa proses tersebut juga membantunya memahami materi dengan lebih baik. “Ibu saya sangat menyukai biologi, tetapi kesulitan dalam fisika dan kimia. Kalau beliau belajar lebih giat, mungkin nilainya bisa lebih tinggi,” tambah Samyuktha.

Patah Hati Tahun 1994 dan Impian yang Terwujud
Profesi dokter sangat dihormati di India. Oleh karena itu, Amuthavalli dan Samyuktha menerima banyak ucapan selamat. Amuthavalli mengenang kekecewaannya yang mendalam saat gagal masuk kedokteran pada tahun 1994. “Saya menjalani proses masuk kuliah kedokteran bersama ibu saya. Nilai saya tidak cukup tinggi untuk diterima di jurusan kedokteran dan saya ditugaskan di fisioterapi,” kenangnya. Ia menggambarkan betapa hancurnya ibunya saat itu, hingga Amuthavalli harus menghiburnya. Bahkan, keluarga mereka kesulitan membayar biaya kuliah fisioterapi yang saat itu sekitar US$200.

Ibunya, yang bekerja sebagai guru sekolah dasar, berjuang keras membesarkan keempat anaknya. Kini, Amuthavalli telah mencapai mimpinya, meskipun ibunya telah tiada dan tak dapat menyaksikannya. “Sekarang saya telah berhasil, tetapi ibu saya sudah tiada dan tidak dapat melihat kesuksesan saya,” katanya dengan haru.

Kampus yang Berbeda, Harapan yang Sama
Suami Amuthavalli, Manivannan, seorang pengacara, sangat bangga dengan istri dan putrinya. Ia mengakui bahwa Amuthavalli selalu menyimpan sedikit penyesalan karena tak pernah menjadi dokter. Amuthavalli diterima di kampus negeri di negara bagiannya. Ia merasa nyaman dengan prospek belajar bersama teman-teman seusianya, meskipun jauh lebih muda darinya. Samyuktha, di sisi lain, berharap kuliah di kampus yang berbeda dari ibunya, meskipun ia tak keberatan jika mereka berada di kampus yang sama.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *