IHSG anjlok nyaris 7% dipicu aksi MSCI bekukan rebalancing indeks saham asal RI

Posted on

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam 6,71 persen ke 8.974,56 pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1). Hingga pukul 9:44 WIB, Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 636 saham melemah, hanya 43 saham yang menguat, dan 32 saham stagnan.

Aktivitas transaksi tercatat cukup tinggi dengan volume perdagangan mencapai 22,25 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 16,27 triliun, dengan frekuensi transaksi mencapai 1,38 juta kali.

Anjloknya IHSG pagi ini dipicu Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang resmi memberlakukan perlakuan sementara terhadap pasar saham Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses rebalancing indeks. Kebijakan ini diumumkan pada Selasa (27/1) dan akan berlaku termasuk pada indeks review Februari 2026.

Dalam kebijakan itu, MSCI membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menghentikan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta membekukan perpindahan naik antar segmen ukuran indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.

“Perlakuan ini bertujuan untuk mengurangi risiko perputaran indeks dan risiko investasi, sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk memberikan peningkatan transparansi yang berarti,” tulis pengumuman resmi MSCI.

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari konsultasi pasar yang dilakukan MSCI sejak Oktober 2025. Saat itu, MSCI meminta masukan pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam perhitungan free float saham emiten Indonesia.

MSCI menilai pasar RI membutuhkan informasi struktur kepemilikan saham yang lebih rinci dan andal, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan yang tinggi, guna mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi yang lebih kuat.

MSCI juga menegaskan apabila peningkatan transparansi yang dibutuhkan tidak tercapai hingga Mei 2026, lembaga tersebut bakal menilai ulang status aksesibilitas pasar Indonesia.

Hasil evaluasi itu, dengan mempertimbangkan konsultasi pasar, berpotensi berdampak pada penurunan bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes hingga kemungkinan reklasifikasi dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

“MSCI akan terus memantau perkembangan di pasar Indonesia dan berinteraksi dengan pelaku pasar dan otoritas, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan IDX. MSCI akan mengkomunikasikan tindakan lebih lanjut jika diperlukan,” tulis MSCI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *