IHSG bergejolak: Emas, SBN ritel, dan reksadana bisa jadi pilihan aset safe haven

Posted on

caristyle.co.id JAKARTA. Di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cukup ekstrem beberapa waktu belakangan, investor dinilai dapat beralih ke aset yang bersifat safe haven atau instrumen berpendapatan tetap yang tidak berkorelasi langsung dengan gejolak indeks saham.

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani mengatakan pilihan instrumen yang paling menarik saat ini adalah emas, Surat Berharga Negara (SBN) ritel, dan reksadana pasar uang.

“Emas menjadi pilihan utama karena fungsinya sebagai pelindung nilai (hedging) di saat ketidakpastian global dan domestik meningkat,” kata Chory kepada Kontan, Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, SBN ritel seperti ORI maupun sukuk ritel (SR) sangat layak dilirik karena menawarkan imbal hasil tetap yang aman dari risiko gagal bayar, terutama ketika volatilitas pasar saham berada di level tinggi.

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas Rabu (4/2), Ini Rekomendasi Analis

Untuk horizon jangka pendek di bawah satu tahun, reksadana pasar uang dan deposito dinilai menjadi pilihan paling bijak berkat tingkat likuiditas yang tinggi serta risiko penurunan nilai yang minimal.

Sementara untuk jangka menengah, antara satu hingga tiga tahun, instrumen obligasi negara atau SBN ritel menjadi pilihan yang tepat.

“Investor bisa mengunci imbal hasil (yield) yang saat ini masih cukup kompetitif di tengah fluktuasi suku bunga,” ujar Chory.

Adapun untuk jangka panjang di atas lima tahun, akumulasi emas secara bertahap dinilai sebagai strategi klasik yang solid. Meskipun pasar saham mengalami guncangan, nilai aset riil seperti emas cenderung bertumbuh melampaui inflasi dalam jangka panjang.

Dari sisi potensi imbal hasil, reksadana pasar uang diperkirakan masih mampu memberikan return stabil di kisaran 4,5% hingga 5,5% per tahun.

Sementara SBN ritel diproyeksikan menawarkan imbal hasil di rentang 6% hingga 6,5% per tahun, yang semakin menarik karena pajak obligasi saat ini lebih rendah dibandingkan bunga deposito.

Sementara itu, emas memiliki potensi kenaikan (capital gain) antara 10% hingga 15% apabila ketidakpastian pasar saham berlanjut hingga pertengahan 2026.

“Instrumen ini bukan sekadar mengejar keuntungan besar, melainkan menjaga agar daya beli modal investor tidak tergerus saat harga saham-saham Blue Chip sedang rontok,” tambahnya.

IHSG Menurun, Bagaimana Prospek Reksadana Saham?

Di sisi lain, bagi investor dengan profil risiko konservatif, prioritas utama adalah keamanan modal. Oleh karena itu, reksadana pasar uang dan deposito menjadi tempat berlindung yang paling sesuai.

Investor dengan profil moderat dapat mulai membagi portofolionya dengan porsi lebih besar pada SBN ritel atau reksadana pendapatan tetap, karena masih mampu menoleransi fluktuasi terbatas demi imbal hasil yang lebih tinggi dari inflasi.

Sementara bagi investor agresif, kondisi pasar saham yang sedang tertekan justru bisa menjadi peluang.

Meski demikian, untuk diversifikasi di luar saham, investor disarankan menempatkan sebagian dana pada emas atau instrumen derivatif dan komoditas yang memiliki volatilitas tinggi namun tetap memiliki nilai intrinsik sebagai pelindung portofolio utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *