
caristyle.co.id – JAKARTA. PT Asuransi Jasindo Syariah menilai potensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada tahun ini dapat memberikan dampak yang beragam terhadap investasi di instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 125 basis poin (bps) menjadi 4,75%.
Kebijakan ini dinilai berpotensi memengaruhi kinerja instrumen pendapatan tetap, termasuk SBSN.
Investasi EBT Rp 1.682 Triliun, ACA Bidik Peluang Asuransi Energi Hijau
Sekretaris Perusahaan PT Asuransi Jasindo Syariah Wahyudi mengatakan, penurunan suku bunga dapat mendukung stabilitas nilai sekaligus menjaga daya tarik instrumen pendapatan tetap.
“Namun, di sisi lain, penurunan suku bunga juga berpotensi berdampak pada penyesuaian tingkat imbal hasil investasi yang diperoleh,” ujar Wahyudi kepada Kontan.co.id, Jumat (6/2).
Untuk mengantisipasi berbagai dampak tersebut, Jasindo Syariah terus melakukan pengelolaan portofolio investasi secara aktif dan selektif.
Langkah ini ditempuh agar peluang yang muncul dapat dimanfaatkan secara optimal, sekaligus memastikan risiko tetap terkendali.
Marak Kelompok Gagal Bayar di Fintech Lending, Ini Upaya yang Ditempuh AFPI
Wahyudi mengungkapkan, pada 2025 porsi investasi Jasindo Syariah di instrumen SBSN mencapai 35% dari total portofolio investasi.
Angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat mencapai 50% pada 2024.
“Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh jatuh tempo SBSN,” jelasnya.
Lebih lanjut, Wahyudi menegaskan bahwa penempatan investasi perusahaan, termasuk pada instrumen SBSN, merupakan bagian dari strategi pengelolaan investasi aktif dengan risiko terukur, patuh terhadap regulasi, dan berkelanjutan, sesuai dengan pendekatan Risk Based Investment (RBI).
Ke depan, strategi penempatan portofolio investasi akan disesuaikan dengan prinsip Asset Liability Management (ALM) dan Liability Driven Investment (LDI).
Bisnis Paylater Perusahaan Pembiayaan Tumbuh 75,05% hingga Akhir 2025
“Artinya, penyesuaian aset investasi dilakukan dengan memperhatikan kewajiban perusahaan, agar mampu memberikan proteksi dan memenuhi pembayaran klaim,” tuturnya.
Wahyudi menambahkan, SBSN diproyeksikan tetap menjadi instrumen dominan dalam portofolio investasi Jasindo Syariah pada 2026.
Hal ini didukung oleh karakteristik SBSN yang relatif aman, menawarkan imbal hasil yang menarik, serta fleksibilitas pemilihan tenor yang dapat disesuaikan dengan durasi liabilitas perusahaan.



