
Di ujung Pulau Madura, di Kota Sumenep, berdiri sebuah masjid tua yang ratusan tahun lalu pembangunannya diarsiteki seorang Tionghoa. Para ahli menilai arsitektur masjid itu menggambarkan simbol harmonisasi antara masyarakat etnis Tionghoa dan warga Madura.
Perawakan Fandi, 41 tahun, tidak seperti warga Desa Dungkek pada umumnya, kulitnya lebih cerah. Namun, saat berbicara, logat Maduranya cukup kental.
Fandi adalah warga Indonesia peranakan Tionghoa yang lahir dan menetap di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Dia dilahirkan dari ayah beretnis Tionghoa dari Pulau Sapudi dan ibunya yang warga Dungkek.
Rumah Fandi berhadapan langsung dengan gerbang Pelabuhan Dungkek.
Di depan rumahnya, ada sebuah konter dengan beberapa sepeda listrik berjejer rapi menutupi muka toko.
Fandi tak menonjolkan identitasnya sebagai etnis Tionghoa. Dia agaknya tidak ingin dipandang berbeda.
“Saya merasa sama kayak warga sini, tidak ada perbedaan,” kata Fandi saat ditemui wartawan Ahmad Mustofa yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (12/02).
Secara perlahan, Fandi dan beberapa keturunan Tionghoa yang berada di Dungkek juga mulai “meninggalkan” tradisi nenek moyangnya.
Perayaan hari besar seperti Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh diakuinya perlahan luntur.
“Soalnya generasi-generasi di atas saya sudah banyak yang meninggal. Terus yang muda-muda ini enggak bisa melanjutkan,” jelas pria bermarga Tjoa ini.
Sebenarnya ada upaya untuk merawat tradisi tersebut, namun menurutnya keturunan Tionghoa di generasinya banyak yang tidak paham.
Bahkan, sebagai bagian dari Komunitas Tionghoa Muslim di Desa Dungkek, ia lebih condong menyambut Ramadan dibanding Tahun Baru Imlek.
“Kalau saya pribadi lebih condong nyambut ke bulan Ramadan ya. Soalnya di sini tradisi Imlek sudah enggak terlalu kuat kayak dulu,” kata Fandi.
“Kalau waktu masih kecil itu ya, sama keluarga besar saya ya ikut merayakan juga, main ke saudara-saudara ya kayak pas Lebaran gitu lah,” kenangnya.
Fandi juga cukup aktif dalam beberapa kegiatan keagamaan di Desa Dungkek seperti pengajian dan salawatan.
Senada, warga keturunan Tionghoa lainnya, Herman Susanto, 37 tahun, mengakui bahwa ia dan keluarganya mulai menanggalkan tradisi nenek moyangnya.
Kalaupun merayakan, semata-mata dilakukan untuk menghormati keluarganya yang berbeda keyakinan.
“Sebenarnya untuk keluarga saya sendiri ini sudah hampir [tidak merayakan],” kata pria yang menjalankan bisnis jual beli bahan bangunan di kompleks Pasar Dungkek ini.
“Biarpun menjalankan tapi artinya sebatas menghargai saja. Saudara-saudara kan banyak juga yang non-muslim itu, saudara sepupu,” jelas Herman yang bermarga Teng ini.
Lahir dan tumbuh besar di Desa Dungkek, Fandi maupun Herman merasa sudah menyatu dengan masyarakat setempat.
Mereka merasa tidak pernah mendapat perlakuan berbeda, bahkan.
Herman lalu menyebut satu kata sebagai perekatnya: “Kita tetap menghargai sesama [tanpa melihat latar agama atau etnisnya],” kata Herman.
Warisan Toleransi Masa Lalu
Jauh sebelum Fandi dan Herman Susanto lahir, sejarah mencatat bahwa harmoni antara warga Madura dan etnis Tionghoa sudah berjalan cukup kuat.
Salah satunya tergambar dari bangunan Masjid Jamik sebagai jantung religiusitas masyarakat muslim di Sumenep.
Masjid yang dibangun pada 1779-1787 tersebut dirancang oleh arsitek keturunan Tionghoa Lauw Piango.
Menurut guru besar sosiologi politik Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Mohammad Ali Humaidi, masjid Jamik Sumenep merupakan simbol bahwa akulturasi etnis Tionghoa dan warga Madura sudah terjalin dengan baik.
“Sehingga ketika Raja [Sumenep] menerima konsep Masjid Jamik itu menunjukkan bahwa antara Tionghoa dengan etnis muslim di Sumenep itu enggak ada masalah,” jelas guru besar yang akrab disapa Prof Malhum tersebut.
Sementara pengamat arsitektur, Freddy Istanto menilai arsitektur Masjid Jamik Sumenep menjadi simbol keseimbangan. Sebab, tidak ada corak yang benar-benar menonjol baik dari unsur Tionghoa maupun Madura.
“Unsur-unsurnya saling mengisi bagaimana arsitektur lokal menerima arsitektur luar dan arsitektur luar kemudian menyeimbangi kekayaan arsitektur lokal,” jelasnya ketika dihubungi via telepon.
Kapan etnis Tionghoa datang ke Madura?
Menurut Budayawan D. Zawawi Imron, etnis Tionghoa datang ke Kabupaten Sumenep sekitar tahun 1740 saat terjadi Geger Pecinan di pesisir utara Pulau Jawa. Mereka datang ke Pulau Madura untuk mencari perlindungan.
Salah satu pintu masuknya adalah Pelabuhan Dungkek yang saat ini masih banyak dihuni beberapa keturunan etnis Tionghoa.
Mereka kemudian menyebar ke sejumlah tempat seperti ke Desa Tamidung Kecamatan Batang-Batang, Desa Baban Kecamatan Gapura hingga ke wilayah Kecamatan Pasongsongan Sumenep.
“Mereka datang ke sini baik-baik, tidak mengganggu dan minta perlindungan malah kepada orang Sumenep,” jelas D Zawawi Imron.
Tidak hanya masyarakat biasa, Raja Sumenep kala itu yakni R. Asiruddin atau yang dikenal dengan Panembahan Sumolo juga sangat terbuka dengan kedatangan etnis Tionghoa—termasuk mempercayakan arsitek Tionghoa Lauw Piango untuk membangun Masjid Jamik Sumenep.
“Itu bisa dilihat buktinya pintu gerbang Masjid Sumenep itu arsitek Cinanya dan ornamen-ornamennya sangat tampak sekali,” jelas penyair yang juga memiliki darah Tionghoa tersebut.
Senada, hasil penelitian Mohammad Ali Humaidi, etnis Tionghoa dapat diterima dengan baik di Madura karena mereka datang dengan cara yang baik, salah satunya lewat strategi dagang.
“Sama dengan para wali ataupun para penyebar Islam yang menggunakan perdagangan,” jelas Prof Malhum.
Dalam perjalanannya, para etnis Tionghoa juga ikut membantu kebutuhan warga lokal dari sisi ekonomi. Simbiosis mutualisme tersebut semakin menguatkan hubungan mereka.
Mengapa Orang Tionghoa dipercaya membangun Masjid?
Budayawan D. Zawawi Imron mengatakan bahwa kepercayaan didapatkan arsitek Lauw Piango tidak dibangun dalam semalam.
Zawawi meyakini terjadi dialog antara Raja Sumenep dan Lauw Piango.
Selain itu, Lauw Piango sebelumnya sudah membuktikan dengan membangun Keraton Sumenep yang juga berdiri kokoh hingga saat ini.
“Raja Sumenep itu menjadi percayalah bahwa ini bukan arsitek yang yang murahan, dari bahan-bahan yang diperlukan itu dan ternyata setelah membangun jadinya bagus dan bertahan sampai sekarang,” jelas Zawawi.
Pembangunan masjid Jamik, kata Zawawi juga semakin mempererat hubungan antara etnis Madura dengan Tionghoa. Mereka semakin mendapat dukungan dari kerajaan untuk tinggal di perkampungan Sumenep.
Sementara Prof Malhum mengatakan kepercayaan yang diberikan Raja Sumenep kepada Lauw Piango untuk membangun Masjid Jamik karena ada pertautan nilai yang sama antara Islam dan ajaran Tionghoa.
“Secara substansial antara ajaran etnis Tionghoa dengan ajaran Islam itu enggak ada pertentangan. Hipotesanya, seandainya itu ada pertentangan maka akan muncul konflik,” tegasnya.
Komunitas Tionghoa Muslim Sumenep
Akulturasi etnis Tionghoa dengan budaya lokal Madura juga terlihat dari munculnya komunitas Tionghoa Muslim di Sumenep yang bisa ditemukan di wilayah Dungkek, Batang-Batang, hingga Pasongsongan.
Fandi dan Herman Susanto merupakan generasi Tionghoa Muslim yang saat ini tersisa di Dungkek. Mereka sudah memeluk agama Islam sejak lahir.
Sama seperti warga Madura pada umumnya, keduanya cukup aktif dalam kegiatan keagamaan seperti pengajian hingga acara salawatan. Mereka berbaur dengan warga tanpa merasa dicurigai dengan statusnya sebagai keturunan Tionghoa.
“Jadwal [salawatan setiap] malam Minggu, cuma kan enggak harus, saya kalau ada waktu luang ikut, kalau enggak ya absen,” kata Fandi.
Sementara menurut Herman Susanto, menjadi Tionghoa Muslim justru memberikan kemudahan baginya dan keluarga. Mereka lebih mendapatkan kepercayaan dari masyarakat sekitar.
Prof Malhum mengatakan bahwa komunitas Tionghoa Muslim di Sumenep muncul secara alami. Terutama melalui perkawinan antara etnis Tionghoa dengan warga lokal yang beragama Islam.
Menurut penelitian yang dilakukannya, tidak ada jejak diskriminasi atau paksaan yang membuat keturunan Tionghoa memilih masuk Islam.
Merawat Tradisi Nenek Moyang
Menjadi seorang Muslim tidak lantas membuat keturunan Tionghoa di Sumenep meninggalkan tradisi nenek moyangnya.
Mereka tetap merayakan hari-hari besar Tionghoa, meskipun seiring berjalannya waktu, tradisi itu semakin pudar.
Menurut Herman Susanto, ia dan keluarganya biasanya tetap merayakan Imlek ataupun Cap Go Meh, tapi tidak dilakukan secara besar-besaran.
Biasanya untuk menghargai saudara-saudaranya sesama keturunan Tionghoa yang non muslim.
“Biarpun menjalankan tapi artinya sebatas menghargai saja. Saudara-saudara kan banyak juga yang non-muslim itu, saudara sepupu,” jelasnya.
Sementara Fandi mengatakan bahwa tradisi seperti perayaan Imlek dan Cap Go Meh sudah mulai luntur. Meskipun upaya untuk merawatnya masih terus dilakukan.
“Saat ini sudah mulai luntur. Soalnya generasi-generasi di atas saya sudah banyak yang meninggal. Terus yang muda-muda ini enggak bisa melanjutkan,” katanya.
—
Wartawan Ahmad Mustofa di Madura melakukan reportase dan menuliskannya.
- Kisah warga keturunan Tionghoa yang menetap di luar negeri usai kerusuhan Mei 1998 dan mereka yang memutuskan kembali ke Indonesia – ‘Semoga pemerintah tidak hapus sejarah’
- Tionghoa Indonesia dalam pusaran peristiwa 65: Pengalaman, kenangan dan optimisme generasi muda
- ‘Dicina-cinakan’ di jalan: pengalaman putra ‘tokoh integrasi’ Tionghoa Indonesia pada 1965
- Kaum muda Tionghoa, jejak kungfu di Indonesia, dan kisah percampuran budaya — ‘Leluhur kita saling menghormati, sekarang kita bisa menirunya’
- ‘Imlek di kelenteng, doanya ke Allah SWT’ – Kisah para Muslim Tionghoa mempertahankan jati diri di tengah kontroversi
- ‘Ada pergulatan identitas, apakah saya Tionghoa atau Indonesia?’



