Jenazah Donny Fatah dimakamkan, diiringi doa keluarga dan personel God Bless

Posted on

Iring-iringan jenazah musisi legendaris Donny Fatah tiba di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kandang, Sabtu (7/3), sekitar pukul 16.15 WIB.

Begitu ambulans berhenti, suasana hening terasa. Tidak ada keriuhan, hanya langkah kaki yang pelan dan sapaan dari para pelayat yang sudah menunggu.

Di sekitar liang lahat, suasana terasa sangat khusyuk. Di barisan depan, nampak para personel band God Bless yang telah bersama Donny Fatah selama setengah abad.

Ahmad Albar, Ian Antono, hingga Fajar Satritama duduk mematung, memberikan penghormatan terakhir bagi Donny Fatah.

Ahmad Albar terlihat terpukul. Mengenakan baju berkerah abu-abu, vokalis yang akrab disapa Iyek itu beberapa kali menarik napas panjang.

Matanya tertuju lurus pada pusara sang pemain bass yang telah menemaninya di atas panggung selama 50 tahun. Untaian doa terlihat mengalir dari mulutnya, begitu juga dari Ian Antono dan Fajar Satritama.

Prosesi pemakaman berlangsung dengan tenang. Tanpa kumandang azan, sesuai permintaan atau tradisi keluarga, jenazah langsung ditimbun dengan tanah.

Tak ada tangisan. Hanya iringan doa keluarga, para personel God Bless, dan kerabat dekat.

“Ini bentuk kasih sayang dan penghormatan terakhir kita kepada almarhum. Almarhum meninggal dunia, tentu membawa kesedihan bagi keluarganya. Namun bagi kita orang beriman, kematian adalah keindahan,” ujar perwakilan keluarga Donny Fatah.

Ia berharap, momen kepergian almarhum di bulan yang baik ini bisa memperlancar jalan Donny Fatah ke sisi Tuhan.

“Insya Allah di bulan yang penuh berkah ini, diberikan lapang bagi kuburnya. Atas nama keluarga mohon maaf sekali lagi apabila ada kesalahan tingkah laku almarhum selama hidup. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT,” tutupnya.

Kenangan Setengah Abad

Ditemui usai sesi foto, Ian Antono sang gitaris God Bless, mengaku kehilangan rekan duet mautnya. Bagi Ian, Donny Fatah bukan sekadar rekan kerja, melainkan bagian dari suka dan dukanya.

“Kalau suka dan duka banyak banget, semuanya berkesan,” kenang Ian Antono singkat saat meninggalkan area makam.

Sambil mengusap wajah, Ian merangkum perjalanan panjang mereka yang tak mungkin diceritakan dalam satu hari.

“Pokoknya, banyak. Bayangin, 50 tahun. Kenangannya banyak banget. Sulit untuk disebut satu-satu,” tutup Ian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *