
Sosok mirip Ujang Busthomi, pemuka agama Islam asal Cirebon, Jawa Barat, berseliweran di media sosial Tiktok. Dalam video-video tersebut, sosok tersebut menawarkan jasa ritual uang gaib dan menjanjikan bantuan terhadap siapa pun yang mengalami kesulitan dana atau terlilit utang.
Dalam beberapa video, sosok itu didampingi selebritas dan pejabat, seperti Raffi Ahmad, Dedi Mulyadi, Listyo Sigit Prabowo, hingga Inul Darasista. Bahkan dalam sebuah video, ada yang mengaku berhasil mendapat uang gaib setelah menjalani ritual bersama “Ujang Busthomi.”
Semua sosok dalam video-video itu palsu. Sosok mereka merupakan rekayasa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) atau yang dikenal dengan istilah Deepfake. Deepfake adalah teknologi AI yang digunakan untuk meniru wajah, suara, dan gerakan seseorang.
Banyak orang yang terkecoh dan tertipu hingga ratusan juta rupiah. Sebagian besar korban penipuan berkedok uang gaib itu merupakan warga lanjut usia.
Mala, korban banjir Sumatra
Perempuan berkerudung pink itu duduk di pelataran Padepokan Anti Galau Kabupaten Cirebon, Kamis (22/01). Wajahnya tampak kalut. Sudah tiga hari, Mala, nama perempuan tersebut, menumpang tidur di padepokan yang didirikan Ustaz Ujang Busthomi. Mala ingin pulang, tapi tak sepeser pun uang di tangan.
“Buat makan pun tak ada. Saya mau pulang, entah ke mana saya nyari ongkos. Tak tahu apa yang kujalani,” ucapnya kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Perempuan 51 tahun itu adalah korban longsor dan banjir bandang Sumatra. Rumahnya di Solok, Sumatra Barat, hancur tertimbun longsor yang juga mengubur suami, satu orang anaknya, dan seluruh harta bendanya.
Di tengah keruwetan pikiran, Mala menyaksikan video “Ujang Busthomi” yang menawarkan ritual uang gaib di Tiktok. Video serupa juga sempat dilihatnya di Facebook.
Tanpa keraguan, Mala percaya sosok yang dilihatnya itu adalah Ujang Busthomi, tokoh agama di Cirebon. Mala tambah yakin ketika muncul video keberhasilan seseorang mendapatkan uang miliaran rupiah dari ritual uang gaib tersebut.
Mala yang sedang mengalami kesulitan ekonomi terpikat tawaran itu. Ia lalu menghubungi nomor yang tertera di video.
Orang yang dihubungi Mala, mengaku sebagai Ujang Busthomi. Pria itu meminta Mala mengirim Rp7 juta sebagai persyaratan. Permintaan itu dipenuhi Mala.
“Katanya, 2 M apa 3 M la (sudah) di bank. Setelah itu [berhubungan] dengan bank. Harus ada masuk duit duluan. Terus diminta Rp7 juta, masuk duit saya. Setelah itu (minta) Rp3 juta, katanya untuk banknya enggak cukup. Besok tuh lagi orang bank perlu duit. Kalau enggak kirim duit, enggak akan terima Rp3 M, kata dia,” ungkap Mala.
Selama November hingga awal Desember 2025, Mala mengirim uang beberapa kali dengan nominal sesuai permintaan si penipu. Total uang yang ditansfernya mencapai Rp19 juta. Uang itu dikumpulkan Mala dari usaha warung dan menjual perhiasan. Hingga 2026, uang Rp3 miliar yang dijanjikan tidak kunjung didapat.
Demi menagih janji, perempuan paruh baya itu nekad mendatangi Ujang Busthomi di Padepokan Anti Galau demi memastikan nasib uangnya. Setelah tiba di lokasi, Mala baru menyadari dirinya menjadi korban penipuan.
“Sekarang sudah tertipu. Rumah sudah enggak ada, kena tanah longsor. Emas, apa-apa sudah habis semua. Suami meninggal, anak meninggal. Hancur hati. Ternyata di sini [Padepokan Anti Galau], saya [dapat kabar] macam ini,” keluh Mala.
Sunayah, terlilit utang hingga terjebak penipuan AI
Mala bukan satu-satunya korban penipuan yang datang ke padepokan Ujang Busthomi.
Di tempat itu, ada Sunayah yang bernasib sama. Sunayah datang dari Malang, Jawa Timur, guna mengadukan nasibnya ke tokoh spiritual itu.
“Saya lihat Tiktok, tergiur supaya bisa bayar utang. Akhirnya saya kena tipu. Pertama, bilangnya bayar biaya ritual Rp750 ribu, terus biaya bank Rp3,5 juta, terus Rp11 juta. Habis itu, saya tunggu di depan bank uangnya, ndak datang. Sudah minta rekening saya. Saya sampai urus rekening Rp200 ribu kehabisan uang,” ungkap Sunayah kepada Ujang Busthomi sungguhan di Padepokan Anti Galau, Kamis (22/01) malam.
Sunayah tertipu hingga lebih dari Rp15 juta. Penipuan itu dialami setelah usahanya bangkrut dan terlilit utang. Di tengah kesulitannya itu, Sunayah yang sedang mengakses Tiktok mendapati video ritual uang gaib yang muncul di telepon genggamnya. Video itu menampilkan sosok yang mirip Ujang Busthomi.
“Saya main Tiktok, ada Pak Ujang Busthomi keluar. Terus bilangnya, aku dibantu supaya bisa bayar utang. Di situ, diritualkan uang, keluar Rp1 M. Saya senang. Tiba-tiba saya disuruh bayar Rp750 ribu,” tutur Sunayah.
Walaupun belum pernah bertemu langsung, tapi Sunayah meyakini orang yang muncul di video tersebut adalah Ujang Busthomi. Ia juga mempercayai nomor telepon yang terpampang di video merupakan nomor Ujang.
Sunayah makin yakin ketika melihat video yang menampilkan Ujang Busthomi memberi uang kepada orang-orang yang terlilit utang.
“Pokoknya namanya Ujang Busthomi. Ya enggak tahu orangnya mirip atau tidak. Mukanya mirp Pak Ujang sorbanan putih. Saya belum pernah ketemu Pak Ujang, baru ini,” ujar perempuan berusia 60-an tahun itu.
Ujang Busthomi juga korban Deepfake
Entah sudah berapa kali, Ujang Busthomi memberi tahu khalayak umum untuk tidak percaya tawaran ritual uang gaib yang beredar di berbagai platform media sosial, terutama yang mengatasnamakan dirinya.
Dalam setiap kesempatan, baik secara daring ataupun luring, Ujang selalu mengingatkan bahwa video-video itu hoaks dan merupakan modus penipuan.
“Banyak orang yang mengatasnamakan saya, terutama di Tiktok masif sekali. Banyak orang yang mengatasnamakan saya, saya ini bisa menggandakan uang, itu semua hoaks. Itu pakai AI,” kata Ujang di hadapan ratusan orang di Padepokan Anti Galau Kabupaten Cirebon, 22 Januari lalu.
Bantahan dan peringatan terhadap penipuan juga diumumkan melalui spanduk yang terpasang di halaman padepokan. Spanduk itu bertuliskan, “Hati-hati penipuan! Kang Ujang Busthomi tidak pernah memberikan unag ghoib/penggandaan uang dll. Cari uang, kerja yang halal. Hati-hati banyak pihak yang tidak bertanggung jawab mengatasnamakan Kang Ujang Busthomi di media sosial/platform media online lainnya.”
Namun korban terus berjatuhan. Ujang pun terkena imbasnya karena harus menghadapi ratusan korban penipuan yang mendatangi kediamannya. Situasi itu terjadi hampir setiap hari sepanjang modus penipuan ini marak di media sosial.
Menurut Ujang, dirinya dan sejumlah tokoh agama menjadi korban deepfake.
“Lebih masifnya nama saya yang dipakai. Mereka [penipu] memakai siapa saja yang mungkin alirannya spiritual karena mereka [penipu] gampang untuk membodohi,” ujar Ujang, saat ditemui di Padepokan Anti Galau, Kabupaten Cirebon, 22 Januari lalu.
Ujang sudah melaporkan kasus ini ke Polresta Cirebon dan Polda Jawa Barat. Sejauh ini, Ujang telah melaporkan 2.000 akun serta alamat surelnya. Beberapa akun sudah berhasil diturunkan. Akan tetapi, modus penipuan ini sulit diberantas. Apalagi setelah muncul teknologi kecerdasan buatan.
“Ya susah kan mereka dilacaknya. Susah karena akun mereka selalu berganti dan nomor teleponnya begitu dilacak, hapus, ganti lagi. Jadi susah karena gak hanya satu akun, tapi ribuan akun,” kata Ujang.
“Yang penting sih, saya berharap kepada orang-orang untuk berhati-hati karena saya sampai detik ini pun, tidak pernah iklan-iklan penggandaan duit, uang gaib. Tidak pernah. Menurut saya, yang namanya uang gaib, penggandaan duit itu, semuanya hoaks. Itu adalah penipuan,” tambahnya.
Ujang melihat kasus penipuan ini menimbulkan banyak korban di kelompok lansia, meski ada pula korban usia muda.
“Saya merasa kasihan kepada para korban yang mungkin enggak mengerti tentang media AI ini. Korbannya itu banyaknya ibu-ibu dan bapak-bapak lansia. Sangat meresahkan para penipu-penipu itu,” ucap Ujang.
Sejauh pengamatannya, kata Ujang, video-video yang mencatut personanya itu beredar masif di Tiktok. Belakangan ini, mulai marak juga di Snack Video.
Ujang mengatakan, pemerintah harus menghentikan kejahatan ini lantaran sudah menimbulkan banyak korban.
Mengapa banyak lansia yang jadi korban?
Kecerdasan artifisial yang memungkinkan peniruan wajah atau ekspresi (deepfake) dan suara (voice cloning) meningkatkan angka kasus penipuan digital.
Sejak November 2024 hingga November 2025, Indonesia Anti-Scam Center (IASC) telah menerima 343.402 laporan penipuan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan 563.558 rekening. Sebanyak 106.222 rekening telah diblokir.
Penipuan tersebut, berdasarkan hitungan IASC, menimbulkan kerugian sebesar Rp7,8 triliun. Jumlah itu berdasarkan laporan korban penipuan. Sementara, dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp386,5 miliar.
Kaum lansia banyak yang menjadi korban, kendati belum ditemukan data spesifik mengenai jumlah kasusnya. Namun, menurut Laporan Kejahatan Internet FBI 2022, lansia di Amerika Serikat kehilangan hingga US$3 miliar akibat kejahatan siber, meningkat 11% dari tahun sebelumnya.
Firman Kurniawan, pemerhati budaya dan komunikasi digital, menilai para lansia yang belum melek digital makin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu di media sosial.
“Kalau kita lihat dari sisi kemajuan teknologi, memang kelompok lansia di negara manapun itu, terlambat dalam mengadaptasi perkembangan teknologi yang terbaru. Enggak hanya di Indonesia, walaupun mungkin gapnya berbeda-beda,” papar Firman saat diwawancara secara daring, Rabu (29/01)
Kata Firman, kelompok baby boomers dan Generasi X masih gagap dalam membiasakan diri dari media konvensional ke media digital.
“Ketika mereka sudah terbiasa dengan distribusi informasi atau cara main media sosial Facebook, Instagram, Youtube, ada sistem yang sudah mereka pahami. Ketika mereka pindah lagi ke Tiktok yang tidak cocok untuk demografinya, sebetulnya mereka harus belajar lagi. Di sinilah masuk jawaban, mengapa para lansia ini mudah tertipu di Tiktok karena tidak terbiasa dengan aturan main yang ada di media sosial tersebut,” ujar dosen di Universitas Indonesia ini.
Firman meminta pemerintah turun tangan melalui kebijakan yang melindungi data pribadi, khususnya terhadap penyimpangan atau kejahatan berbasis AI.
Firman mencontohkan Denmark yang sudah menerbitkan undang-undang perlindungan data pribadi. Di negara tersebut, pemerintahnya melarang keras penggunaan foto orang lain yang diambil dari media sosial tanpa izin pemiliknya. Apabila dilanggar, sanksinya berupa denda yang nilainya mencapai ratusan juta.
“Ketika pintu masuk penggunaan data pribadinya dikunci, pakai foto orang itu dilarang dengan undang-undang, itu bisa mengurangi kemungkinan penyalahgunaan data pribadi. Negara perlu hadir di situ,” tutur Firman.
Di satu sisi, pengguna media sosial harus berhati-hati dan menyediakan ruang skeptis terhadap setiap unggahan di media sosial. Tanamkan kecurigaan, apakah unggahan yang dilihat itu asli atau palsu, kata Firman.
“Yang kedua juga, kurangi berelasi dengan media sosial karena dalam kenyataannya media sosial ini informasinya semakin buruk dan juga penuh dengan informasi-informasi sampah,” paparnya.
Sementara itu, lanjut Firman, penyedia platform tidak bisa lepas tangan. Mereka harus ikut bertanggung jawab mengatasi dan mengantisipasi celah-celah penyalahgunaan di aplikasinya.
“Dan juga penting adalah platform ini harus dimintai tanggung jawabnya karena mereka ini yang menyediakan data. Ini harus dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.
Perusahaan teknologi Meta yang merupakan induk dari Facebook, Instagram, Whatsapp, dan Threads, melakukan sejumlah langkah melawan ancaman penipuan berbasis AI.
Dalam Laporan Ancaman Adversarial terbarunya, Meta menerapkan sejumlah langkah, termasuk sistem deteksi perilaku canggih, peringatan percakapan mencurigakan, serta perlindungan berbasis AI, seperti Llama Firewall.
Meta juga mengundang hampir 500.000 tokoh publik untuk bergabung dalam program pengenalan wajah dengan tujuan mencegah penyalahgunaan identitas.
Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, Meta menghapus lebih dari 6.400 akun dan halaman Facebook yang terkait dengan penipuan serta aktivitas kriminal berbahaya. Selain itu, sepanjang 2025, Meta menghapus lebih dari 134 juta iklan penipuan dan menonaktifkan hampir 12 juta akun yang terhubung dengan pusat-pusat penipuan terorganisir.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) telah berkoordinasi dengan para Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk memastikan tersedianya mekanisme pelindungan yang efektif.
Langkah ini dilatari kasus dugaan penyalahgunaan fitur kecerdasan buatan Grok AI pada platform X yang dimanfaatkan untuk memproduksi dan menyebarkan konten asusila, termasuk manipulasi foto pribadi yang bersifat sensitif tanpa persetujuan pemiliknya.
Dalam kesempatan itu, Kemkomdigi meminta setiap PSE melakukan penguatan sistem moderasi konten, pencegahan pembuatan deepfake asusila, serta prosedur penanganan cepat atas laporan pelanggaran privasi dan hak citra diri.
Bagi masyarakat yang menjadi korban manipulasi foto, deepfake asusila, atau pelanggaran hak citra diri dapat menempuh upaya hukum melalui mekanisme yang tersedia dalam peraturan perundang-undangan, termasuk pelaporan kepada aparat penegak hukum dan pengaduan kepada Kemkomdigi.
- Kesaksian guru-guru Korea Selatan yang jadi korban pornografi deepfake – ‘Saya depresi, harus minum lima pil sehari’
- Penipuan deepfake: Identitas perempuan India dicuri untuk konten AI erotis
- PM Thailand hampir kena tipu AI, perempuan Prancis tertipu Rp13,9 miliar oleh Brad Pitt palsu
- Indonesia klaim blokir Grok – ‘Apakah masih ada ruang digital yang aman buat perempuan?’
- Tren gambar ChatGPT ala Studio Ghibli memantik perdebatan di medsos soal hak cipta dan masa depan seni
- Di balik kasus pornografi deepfake yang menyasar siswi di ratusan sekolah Korea Selatan
- Cerita orang-orang yang meminta saran ke AI soal cinta dan hubungan asmara
- Dari chatbot hingga mainan pintar – Mengapa AI berkembang begitu pesat di China?
- ‘Rasanya seperti selingkuh, tapi saya membutuhkannya’ – Perempuan China dan kisah cinta mereka dengan AI
- Bagaimana mengetahui sebuah foto telah dimanipulasi?
- Para pedofil gunakan teknologi AI untuk membuat materi pelecehan seksual anak
- ‘Bapak kecerdasan buatan’ mundur dari Google, peringatkan bahaya chatbot AI



