
caristyle.co.id JAKARTA. Kinerja saham-saham di sektor barang material (IDX Materials) berpotensi kembali tumbuh positif pada 2026. Hal ini dipicu mulai dari kenaikan harga komoditas hingga perbaikan ekonomi.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga akhir 2025, IDX Basic Materials mencatatkan pertumbuhan 64,40% year to date (ytd) ke level 2.058,134. Adapun pada perdagangan perdana 2026 atau Jumat (2/1) lalu, IDX Basic Materials menguat 2,73% ke level 2.114,30.
Kinerja IDX Basic Materials kalah dari beberapa indeks saham sektoral lainnya, seperti teknologi, industrial, infrastruktur, serta energi. Padahal, pada awal hingga pertengahan 2025, indeks sektor barang material sempat menjadi salah satu sektor unggulan di pasar saham.
January Effect Membuka Peluang IHSG Bergerak Positif
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memperkirakan, IDX Basic Materials masih berpeluang menjadi indeks sektoral yang populer di mata investor pada 2026. Hal ini dipengaruhi oleh dinamika fundamental makro global seperti pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan pemulihan ekonomi China.
Saham-saham berbasis komoditas seperti emas dan tembaga berpotensi kembali menjadi penopang indeks barang material. Mereka ini masih diuntungkan oleh menguatnya harga komoditas emas, transisi energi, dan mulai turunnya suku bunga acuan.
“Selain itu, saham dari emiten semen juga potensial seiring pulihnya sektor properti dan biaya energi yang stabil, sehingga secara fundamental dapat memperbaiki margin laba,” ujar dia, Jumat (2/1/2026).
Sementara itu, Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, meski kinerjanya tertinggal dibandingkan sejumlah indeks sektoral lainnya, kondisi ini justru membuat saham-saham sektor barang material belum berada pada fase valuasi yang terlalu mahal.
Strategi Investasi 2026: Investor Perlu Perkuat Likuiditas dan Rebalancing Portofolio
IDX Basic Materials pun berpeluang mengulang kembali pola pergerakan seperti 2025 lalu, di mana indeks ini melaju kencang pada awal tahun. Faktor penentunya antara lain arah kebijakan suku bunga acuan global yang cenderung lebih longgar, stabilitas nilai tukar rupiah, serta perbaikan siklus harga komoditas global.
Dari sisi domestik, keberlanjutan program hilirisasi, pembangunan infrastruktur, dan aktivitas industri berbasis sumber daya alam masih menjadi katalis penting bagi saham-saham IDX Basic Materials.
“Dengan kombinasi faktor tersebut, sektor barang material berpeluang kembali menjadi salah satu sektor unggulan, terutama pada fase awal tahun ketika rotasi sektor biasanya terjadi,” ungkap dia, Sabtu (3/1/2026).
Senada dengan Wafi, Hendra juga memprediksi saham-saham subsektor logam dan mineral bakal kembali menjadi kontributor utama pergerakan IDX Basic Materials pada 2026. Emiten yang memiliki eksposur terhadap emas, tembaga, dan nikel berpotensi diuntungkan oleh permintaan global yang tetap solid, baik sebagai aset lindung nilai maupun sebagai bahan baku industri dan transisi energi.
Di samping itu, saham-saham dari subsektor petrokimia juga berpeluang memberikan kontribusi signifikan, seiring dengan potensi perbaikan margin usaha dan stabilnya pasokan bahan baku.
IHSG Diprediksi Menuju 10.000 di Akhir 2026, Analis: Realistis dalam Skenario Bullish
Secara fundamental, sejumlah emiten di sektor barang material menunjukkan perbaikan kinerja operasional, efisiensi biaya, serta struktur keuangan yang lebih sehat. “Hal ini membuat potensi penguatan harga saham tidak semata-mata bergantung pada sentimen komoditas, tetapi juga didukung oleh perbaikan kinerja usaha,” tutur dia.
Dari sekian saham penghuni IDX Basic Materials, Hendra merekomendasikan trading buy saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan target di level Rp 1.335 per saham seiring prospek peningkatan produksi emas dan dukungan tren harga emas dunia yang masih kuat.
Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga dapat dipertimbangkan untuk buy on weakness di area Rp 3.160 per saham dengan target di level Rp 3.800 per saham. BRPT didukung oleh eksposur ke bisnis petrokimia dan energi yang berpotensi mendapat momentum pemulihan industri.
Rekomendasi trading buy turut disematkan ke dua saham Grup Merdeka, yaitu PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan target harga masing-masing di level Rp 2.570 per saham dan Rp 750 per saham.
Di lain pihak, Wafi menyebut saham-saham seperti MDKA, BRMS, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) layak dipertimbangkan oleh investor yang tertarik dengan sektor barang material.
Saham MDKA ditargetkan dapat menyentuh level Rp 3.100 per saham, BRMS di level Rp 1.200 per saham, AMMN di level Rp 6.200 per saham, dan SMGR di level Rp 3.300 per saham.



