
caristyle.co.id JAKARTA. Kinerja saham emiten multifinance masih bergerak bervariasi sejak awal tahun 2026, mencerminkan belum solidnya prospek sektor tersebut di tengah pemulihan permintaan yang belum sepenuhnya pulih dan ketatnya persaingan industri.
Sejumlah saham multifinance memang mencatatkan penguatan harian, namun secara kinerja tahun berjalan atau year to date (ytd) pergerakannya cenderung terbatas dan belum menunjukkan tren kenaikan yang kuat.
Sebagai contoh, pada penutupan perdagangan Kamis (8/1/26) saham PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) menguat 0,29% ke level Rp 8.625 per saham. Meski demikian, secara ytd kinerja saham ADMF masih cenderung stagnan dengan kenaikan terbatas 0,29%.
Kemudian, saham PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) naik 0.70% ke level Rp 715 per saham dan menguat 0,71% secara ytd.
Lalu ada saham PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) yang juga naik 0,59% ke level Rp 340 dan menguat 4,32% secara ytd.
Rotasi Sektoral Saham Diprediksi Terjadi pada 2026, Ini Pilihannya
Sementara itu, PT Buana Finance Indonesia Tbk (BBLD) naik ke level 2,92% ke level Rp 880, tetapi secara ytb melorot 3,09%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai belum solidnya kinerja saham multifinance mencerminkan kondisi fundamental dan prospek bisnis sektor tersebut yang masih menghadapi tekanan.
Tantangan juga datang dari permintaan pembiayaan masyarakat juga dinilai belum sepenuhnya pulih, sementara persaingan di industri multifinance masih ketat.
Di sisi lain, penurunan suku bunga yang terjadi sejauh ini belum cukup besar untuk memberikan dorongan signifikan terhadap kinerja emiten.
“Di sini biasanya permintaan masyarakat masih belum kembali ke level penuh. Di sisi lain, persaingan di industri multifinance juga sangat ketat. Selain itu, tingkat suku bunga acuan juga mengalami perubahan, penurunan suku bunga pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu,” ungkapnya kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).
Prospek Emiten Data Center Masih Terbatas, Begini Rekomendasi Analis
Dengan kondisi tersebut, analis menilai belum ada saham multifinance yang layak direkomendasikan untuk dibeli saat ini.
“Rata-rata rekomendasinya adalah not rated,” katanya.
Meski begitu, investor disarankan untuk tetap selektif dengan mencermati fundamental, prospek bisnis, serta pergerakan teknikal harga saham.
Saham yang masih berada dalam tren penurunan sebaiknya dihindari sementara, sedangkan saham yang telah mengalami kenaikan dan mulai menunjukkan pelemahan dapat dipertimbangkan untuk realisasi keuntungan.
“Kalau yang downtrend, baik dihindari sementara. Kalau yang sudah uptrend tapi sudah berubah, baik bisa dipertimbangkan untuk realisasi profit,” pungkas Nafan.
Ada BBRI & BBCA, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing di Hari Perdana Perdagangan 2026



