Memanas! NATO kirim pasukan ke Greenland, ketegangan memuncak usai ambisi Donald Trump terbentur Denmark

Posted on

caristyle.co.id – Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik memasuki babak baru. Sejumlah negara anggota NATO dikabarkan mulai mengirimkan personel militernya ke Greenland, menyusul kebuntuan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Denmark terkait ambisi Presiden Donald Trump untuk menguasai pulau terbesar di dunia itu.

Mengutip CNN World, pengiriman pasukan dilakukan dalam skala terbatas dan diklaim sebagai bagian dari latihan militer bersama dengan Denmark. Namun, waktu dan konteks kehadiran pasukan NATO tersebut dinilai sarat makna politik, terutama setelah Trump secara terbuka mengancam akan mencaplok Greenland, bahkan dengan kekuatan militer jika diperlukan.

Pernyataan Trump juga dinilai telah mengguncang fondasi aliansi keamanan transatlantik yang selama puluhan tahun dipimpin Amerika Serikat. Ancaman tersebut membuka kemungkinan yang belum pernah terjadi sebelumnya: negara terkuat di NATO berpotensi mencaplok wilayah milik sesama anggota aliansi.

Denmark, yang bertanggung jawab atas pertahanan Greenland, sebelumnya telah memperingatkan bahwa serangan terhadap pulau tersebut hampir pasti akan mengakhiri keanggotaannya di NATO.

Antisipasi Lonjakan Penumpang, KAI Daop 8 Surabaya Tambah 5 KA untuk Libur Isra Miraj 2026

Pemerintah Denmark pun mengumumkan perluasan kehadiran militernya di Greenland ‘dalam kerja sama erat dengan sekutu-sekutu NATO’.

Langkah itu langsung direspons sejumlah negara Eropa. Jerman, Swedia, Prancis, dan Norwegia mengonfirmasi telah atau akan mengirim personel militer ke Greenland pada pekan ini. Sementara itu, Kanada dan Prancis juga menyatakan rencana membuka kantor konsulat di Nuuk, ibu kota Greenland, dalam beberapa minggu ke depan.

Secara resmi, pengerahan pasukan ini merupakan bagian dari latihan dan kerja sama rutin antarnegara NATO. Selama beberapa tahun terakhir, aliansi tersebut memang mendorong peningkatan latihan militer bersama di kawasan Lingkar Arktik, termasuk dengan melibatkan Amerika Serikat yang memiliki sekitar 150 personel di Pangkalan Antariksa Pituffik, Greenland barat laut.

Namun, para pengamat menilai momentum kali ini berbeda. Di tengah ketegangan internal NATO yang belum pernah terjadi sebelumnya, kehadiran pasukan Eropa di Greenland menjadi sinyal kuat solidaritas terhadap Denmark.

Inovasi Kompor Biomassa Dorong Pesantren Jadi Agen Transisi Energi

Trump tetap keras kepala, melontarkan pernyataan tegas. Dalam sebuah konferensi pers bersama para eksekutif industri minyak, ia menyatakan akan ‘melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak suka’, menegaskan kembali obsesinya terhadap pulau strategis tersebut.

Kementerian Pertahanan Jerman dalam pernyataan resminya menyebut akan mengirim tim pengintai berjumlah 13 personel ke Greenland atas undangan Denmark. Misi tersebut disebut sebagai ‘tugas eksplorasi’ yang akan dilakukan bersama negara-negara mitra lainnya.

Swedia juga mengirim sejumlah personel militer atas permintaan Denmark. Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan para perwira Swedia akan bergabung dengan pasukan sekutu lainnya untuk mempersiapkan latihan bertajuk Operation Arctic Endurance.

Prancis di sisi lain juga memastikan partisipasinya dalam latihan tersebut. Presiden Emmanuel Macron menyatakan bahwa unit militer Prancis pertama telah diberangkatkan, dan akan disusul oleh unit-unit berikutnya. Norwegia pun mengonfirmasi pengiriman dua personel pertahanan ke Greenland.

NATO sendiri merupakan aliansi militer yang terdiri dari 30 negara Eropa serta Amerika Serikat dan Kanada, dengan prinsip utama bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.

Prinsip inilah yang membuat ancaman Trump terhadap Greenland, yang merupakan bagian dari NATO melalui Denmark, menjadi sangat luar biasa dan sensitif.

Meski demikian, pejabat Denmark berupaya meredam spekulasi eskalasi konflik. Menteri Pertahanan Denmark menyebut kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Greenland sebagai skenario yang sepenuhnya hipotetis.

“Tidak mungkin sebuah negara NATO menyerang negara NATO lainnya,” kata Troels Lund Poulsen kepada wartawan.

Meski masih dibungkus narasi latihan militer, kehadiran pasukan NATO di Greenland mempertegas bahwa krisis kepercayaan di dalam aliansi kini nyata. Greenland pun berubah dari wilayah es terpencil menjadi episentrum ketegangan baru antara Amerika Serikat, Eropa, dan masa depan NATO itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *