
caristyle.co.id JAKARTA. Kinerja emiten sawit diproyeksikan masih prospektif di tahun ini meskipun bakal mendapat tantangan dari konflik geopolitik di Timur Tengah.
Salah satu tantangan dari adanya konflik yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran itu bisa membuat harga pupuk menjadi lebih mahal. Meskipun begitu, permintaan diperkirakan masih stabil dan bisa mempertahankan harga jual CPO.
Melansir Trading Economics, harga CPO saat ini ada di level MYR 4.375 per ton. Ini sudah naik 5,35% dalam sebulan terakhir dan 8,02% sejak awal tahun alias year to date (YTD).
Meskipun begitu, tak semua pergerakan saham para emiten sawit sejalan dengan penguatan harga CPO dan juga kinerja keuangan mereka yang mayoritas positif di tahun 2025.
Misalnya, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang berkinerja positif sepanjang 2025 harga sahamnya turun 2,99% dalam sebulan terakhir dan 1,02% YTD. Sementara, saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) terkoreksi 3,13% sebulan terakhir, tetapi naik 13,73% YTD.
Harga CPO Masih Tertekan, Kenaikan Persediaan dan Produksi Batasi Kenaikan Harga
Di sisi lain, saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) masih menguat 13,86% dalam sebulan terakhir dan 15% YTD. Senasib, saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga naik 12,82% sebulan terakhir dan 10,46% YTD.
Research Associate Panin Sekuritas, Luthfi mengatakan, prospek emiten CPO dalam 2026 diperkirakan memiliki ruang pertumbuhan yang relatif terbatas.
Ini didorong penguatan harga CPO hari ini seiring memanasnya eskalasi geopolitik AS-Israel dan Iran. Sehingga, memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan ekspektasi permintaan CPO sebagai bahan baku biodiesel yang menjadi substitusi bahan bakar fosil.
“Namun, penguatan harga CPO dapat menekan permintaan ekspor ke China dan India yang beralih ke alternatif lain, yaitu minyak nabati, seperti minyak kedelai, minyak kanola, dan minyak bunga matahari,” ujarnya kepada Kontan, Senin (9/3/2026).
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan menilai, prospek emiten CPO di 2026 masih cukup menarik, tetapi karakter pergerakannya relatif volatil lantaran sektor ini sangat dipengaruhi dinamika harga komoditas global serta kebijakan domestik.
Dari sisi fundamental, permintaan domestik masih mendapat penopang dari program biodiesel B40 dan rencana B50, sehingga ada permintaan yang relatif stabil.
Selain itu, ketika harga minyak nabati global, seperti minyak kedelai menguat, biasanya margin emiten CPO juga ikut membaik. Namun di sisi lain tetap ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan.
“Seperti, kenaikan levy ekspor yang dapat menekan harga netback produsen, faktor cuaca yang mempengaruhi produksi tandan buah segar (TBS), serta isu regulasi global terkait keberlanjutan yang masih menjadi perhatian pasar,” katanya kepada Kontan, Senin (9/3/2026).
Emiten CPO Grup Salim Catat Kenaikan Kinerja di 2025, Cek Rekomendasi Sahamnya
Kinerja emiten sawit 2026 diperkirakan Luthfi akan didorong oleh penguatan harga CPO, namun volume penjualan ke pasar ekspor berpotensi menurun.
Selain itu, ada kebijakan pungutan ekspor CPO yang naik menjadi 12,5% dari sebelumnya 10%, serta produk turunannya mulai awal Maret 2026. Hal tersebut berpotensi menekan margin dari operasional emiten.
Luthfi bilang, saat ini, valuasi emiten CPO relatif pada level moderat dengan rasio price to earning ratio (PER) yang sebagian besar masih diperdagangkan di bawah 10x.
“Emiten CPO yang relatif defensif di tengah memanasnya geopolitik adalah TAPG dengan katalis historical dividend yield berkisar 10% – 15%,” katanya.
Menurut Ekky, emiten CPO yang berpotensi memiliki kinerja lebih resilien adalah yang memiliki biaya produksi kompetitif, neraca yang kuat, serta disiplin dalam pengelolaan anggaran belanja alias capital expenditure (capex) dan dividen.
Emiten yang lebih defensif, seperti AALI dan LSIP biasanya cenderung lebih stabil kinerjanya di tengah volatilitas global.
“Sementara, TAPG dan DSNG memiliki leverage yang lebih besar terhadap siklus kenaikan harga CPO, sehingga potensi kenaikannya bisa lebih agresif ketika harga komoditas menguat,” ujarnya.
Aditya Prayoga, Research Analyst Phintraco Sekuritas mengatakan, produksi CPO global masih berada dalam fase stagnasi dalam 1–2 tahun ke depan. Hal itu seiring tantangan struktural berupa profil tanaman yang relatif menua dan progres replanting yang belum cukup agresif untuk mendorong kenaikan yield secara signifikan.
Tanpa percepatan peremajaan, ruang untuk peningkatan produksi dalam jangka pendek menjadi terbatas.
”Tekanan ini semakin dipersulit dengan langkah Indonesia yang secara bertahap mengurangi porsi ekspor guna mendukung ambisi peningkatan bauran biodiesel menuju B50 pada 2027, yang pada akhirnya mempersempit suplai yang tersedia di pasar global,” katanya kepada Kontan, Senin (9/3/2026).
Permintaan CPO Masih Tinggi, Emiten Sawit Masih Prospektif di Tahun 2026
Di sisi lain, permintaan domestik menunjukkan fondasi yang semakin kuat melalui implementasi B40 dan potensi peningkatan menjadi B50 pada 2027. Kombinasi antara suplai global yang relatif tertahan dan peningkatan alokasi konsumsi domestik mencerminkan struktur pasar yang lebih ketat, di mana konsumsi cenderung stabil di tengah keterbatasan produksi.
“Oleh karena itu harga CPO ke depan berpotensi bisa bergerak ke arah yang menguat dibandingkan pelemahan, terutama apabila tidak terdapat akselerasi signifikan dari sisi produktivitas maupun ekspansi lahan baru,” katanya.
Selain faktor struktural tersebut, potensi pengetatan suplai juga datang dari dinamika domestik. Khususnya, terkait penyitaan sejumlah lahan kebun kelapa sawit di Sumatera terkait isu legalitas dan tata kelola.
Mengingat Sumatra menyumbang sekitar 40–50% dari total area perkebunan sawit nasional, setiap gangguan operasional atau ketidakpastian transisi pengelolaan berpotensi berdampak langsung terhadap output nasional.
“Dalam hal produksi global yang sudah cenderung stagnan, tekanan tambahan dari wilayah inti ini memperkuat pandangan kami bahwa risiko pasar lebih condong ke arah pengetatan sehingga ruang penurunan terhadap harga CPO relatif terbatas,” ungkapnya.
Prospek Emiten CPO Bisa Positif Imbas Tarif Trump, Ini Rekomendasi Sahamnya
Harga pupuk global, khususnya komponen nitrogen, phosphate, dan potash, masih bergerak dalam tren tinggi seiring ketegangan geopolitik yang berkepanjangan serta pembatasan ekspor dari sejumlah negara produsen utama.
Kondisi ini membuat struktur biaya industri sawit menjadi semakin sensitif terhadap dinamika eksternal. Untuk tahun 2026, terdapat potensi kenaikan biaya pemupukan lebih dari 10% YoY, yang dapat menekan margin terutama bagi emiten dengan produktivitas rendah atau ketergantungan tinggi terhadap pupuk kimia impor.
Ke depan, ketahanan margin akan sangat ditentukan oleh beberapa faktor kunci. Pertama, struktur biaya per ton yang kompetitif. Kedua, disiplin dan presisi dalam aplikasi pupuk. Ketiga, produktivitas kebun yang tercermin dari FFB yield per hektare. Keempat, profil usia tanaman yang lebih muda dan berada pada fase produktif optimal.
Emiten dengan kebun yang relatif muda dan yield yang konsisten tinggi cenderung memiliki leverage operasional yang lebih baik, sehingga mampu menyerap tekanan kenaikan input cost tanpa mengorbankan profitabilitas secara signifikan.
“Dalam konteks ini, efisiensi agronomis menjadi sama pentingnya dengan siklus harga komoditas itu sendiri,” katannya.
Aditya bilang, implementasi kerja sama antara Indonesia dan Uni Eropa berpotensi menjadi katalis positif tambahan, mengingat kerja sama ini membuka akses ekspor CPO dari Indonesia menuju pasar Uni Eropa menjadi lebih terbuka.
Jelang Imlek 2026: Sektor Logam, Energi, AI hingga CPO Diramal Cuan di Tahun Kuda Api
Meskipun Uni Eropa memiliki standar keberlanjutan yang ketat, adanya kesepakatan dagang memberikan kepastian regulasi yang lebih jelas bagi eksportir domestik. Kerja sama ini tidak hanya membuka peluang penetrasi pasar yang lebih luas, tetapi juga berpotensi memperbaiki persepsi terhadap sawit Indonesia di segmen pasar premium.
“Dalam jangka menengah, kondisi tersebut dapat memperluas basis pembeli sekaligus menurunkan risiko hambatan dagang,” tuturnya.
Katalis positif juga diperkuat oleh kebijakan India sebagai importir terbesar CPO yang memangkas tarif impor dari 20% menjadi 10%. Penurunan tarif ini secara langsung meningkatkan daya saing harga CPO dibandingkan minyak nabati lai seperti soybean oil, sehingga mempersempit spread harga dan mendorong pergeseran konsumsi kembali ke palm oil.
“Dengan struktur harga yang lebih kompetitif, kebijakan ini berpotensi meningkatkan permintaan dari India, khususnya terhadap palm oil, baik untuk kebutuhan pangan maupun industri, sekaligus memperkuat volume serapan ekspor Indonesia ke pasar tersebut,” ungkapnya.
Aditya pun merekomendasikan beli untuk TAPG dengan target harga Rp 1.700 per saham.
Permintaan CPO Masih Tinggi, Emiten Sawit Diproyeksi Prospektif pada 2026



