
caristyle.co.id JAKARTA — Terdapat sejumlah perusahaan yang akan menjajal penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada 2026. Bagaimana kemudian minat investor seiring dengan potensi kehadiran saham-saham pendatang baru tahun ini?
BEI mencatat telah terdapat 26 emiten baru atau perusahaan yang menjajal aksi IPO pada 2025 dengan dana yang dihimpun sebanyak Rp18,11 triliun. Deretan emiten baru itu pun mencatatkan kinerja saham moncer usai IPO.
Saham PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) misalnya melonjak 574,22% sejak IPO pada Januari 2025 hingga saat ini, Jumat (2/1/2026). Kemudian, harga saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) terbang 569,9% sejak IPO pada 2025. Bahkan, harga saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN) melesat 2.818,52% sejak IPO pada 2025.
: Investor Diminta Tetap Selektif dalam Menikmati Uforia January Effect
Tahun ini, sejumlah perusahaan pun akan menjajal IPO. BEI sendiri menargetkan 50 perusahaan tercatat baru pada 2026. Adapun, mengacu data terakhir dari BEI, terdapat 9 perusahaan yang antre atau dalam pipeline pencatatan saham BEI.
Analis Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer mengatakan seiring dengan peluang lahirnya deretan emiten baru tahun ini, respons pasar akan positif.
“Bisa diekspektasikan kalau tahun ini pun kemungkinan besar demand masih akan sangat tinggi. Terlebih lagi beberapa track record saham IPO terakhir masih bertahan di atas nilai offering-nya yang artinya sahamnya masih positif secara return,” kata Miftahul kepada Bisnis pada Jumat (2/1/2026).
Selain itu, dengan target BEI sekitar 50 perusahaan tercatat baru dan pipeline yang relatif padat, pasar masih terbuka bagi IPO berkualitas, terutama dari sektor yang memiliki visibilitas laba jelas, struktur permodalan sehat, serta cerita ekspansi yang kredibel.
“Namun, investor perlu lebih disiplin karena tidak semua IPO akan mengulang kinerja moncer 2025,” ujar Miftahul.
Aspek yang perlu diperhatikan dalam mengincar saham IPO antara lain valuasi saat penawaran, penggunaan dana IPO, rekam jejak pemegang saham pengendali, free float dan likuiditas, serta ketahanan model bisnis terhadap siklus ekonomi. Dengan begitu, peluang cuan dari saham IPO tetap ada di 2026, tetapi berbasis seleksi fundamental, bukan sekadar euforia pencatatan.
Sebelumnya, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengatakan mengacu lonjakan harga saham emiten baru IPO yang telah terjadi pada 2025, terdapat kecenderungan investor akan menilai kekuatan dari konglomerasi atau pengendali di balik emiten baru IPO.
Sejumlah saham IPO tahun ini memang merupakan bagian dari konglomerasi besar. Saham CDIA misalnya merupakan afiliasi dari konglomerasi taipan Prajogo Pangestu. Lalu, RATU merupakan besutan taipan Happy Hapsoro.
“Jadi orang kembali lagi lihat pemiliknya, karena nanti ketahuan grup-grup yang mempertahankan harga. Lihat siapa di balik perusahaan IPO,” kata Rully pada beberapa waktu lalu.
: BEI Bidik 6 Emiten Lighthouse IPO pada 2026, BUMN Tak Masuk Antrean
Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan lonjakan harga saham COIN, CDIA, hingga RATU setelah penawaran saham perdana ke publik atau IPO didorong oleh narasi yang dibangun oleh emiten kepada pelaku pasar. Lalu, fundamental pun dinilai penting. Pasar akan menilai kinerja bisnis, valuasi, serta kinerja secara sektoral.
“Kemudian, ada ekspetasi terhadap saham baru. Karena kalau bicara narasi yang dibangun kuat, fundamental mendukung, otomatis ekspektasi tinggi. Misal CDIA semuanya kuat,” ujar Nico kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu.
Selain itu, terdapat dukungan dari sosok di belakang emiten tersebut, seperti konglomerat atau entitas induk yang kuat. Namun, menurutnya investor juga akan menilai valuasi di masa mendatang.
“Kalau sektornya bagus, bisnisnya bagus, apalagi unik. Kemudian fundamentalnya mesti dilihat. Kalau jangka pendek saat ini memang sudah mahal. Tapi kalau jangka panjang fundamental masih meyakinkan bisa saja masih ada penguatan,” ujar Nicodemus.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



