
caristyle.co.id – JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlanjut di tengah tingginya volatilitas geopolitik global, meskipun kinerja perdagangan Indonesia dinilai masih solid.
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai, pelemahan rupiah ke depan lebih banyak dipengaruhi oleh lemahnya arus masuk modal, bukan dari faktor perdagangan.
Rupiah Makin Melemah ke Rp 16.860 per Dolar AS di Tengah Hari Ini (12/1)
Pranjul menjelaskan, ketahanan eksternal suatu negara umumnya ditopang oleh dua komponen utama, yakni sektor perdagangan dan arus keuangan. Dari sisi perdagangan, Indonesia dinilai berada dalam kondisi yang relatif baik.
“Surplus perdagangan Indonesia tercatat cukup kuat sepanjang 2025, dan neraca transaksi berjalan juga berada di posisi positif,” ujar Pranjul dalam agenda HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026, Senin (12/1/2026).
Namun, tantangan utama Indonesia justru berasal dari sisi arus modal.
Menurutnya, arus masuk modal portofolio ke pasar saham dan obligasi, maupun investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) jangka panjang, masih belum menunjukkan penguatan yang berarti.
IHSG Menguat ke 8.947.9 di Akhir Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: ADMR, MDKA, INKP
Dengan kondisi tersebut, Pranjul memperkirakan tekanan depresiasi terhadap rupiah masih akan berlanjut seiring dinamika neraca pembayaran.
Lemahnya arus modal dinilai berpotensi menahan penguatan rupiah, meskipun kinerja ekspor tetap solid.
“Kami memperkirakan hingga akhir 2026, nilai tukar rupiah berpotensi berada di kisaran Rp 17.000 per dolar AS,” pungkas Pranjul.



