Pemangkasan biaya transaksi bursa bisa tekan capital outflow kripto

Posted on

caristyle.co.id JAKARTA. Tokocrypto menilai penurunan biaya transaksi di bursa kripto domestik sebagai upaya memperkuat likuiditas dan menjaga transaksi kripto tetap berlangsung di dalam negeri.

Perlu diketahui, atensi publik terhadap kripto semakin tinggi di sepanjang tahun 2025. Namun, peningkatan tersebut tidak sejalan dengan kinerja transaksi, di mana nominal perdagangan kripto justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Merespons hal ini, CEO Tokocrypto Calvin Kizana menyebut langkah ini penting untuk menjaga daya saing pasar domestik sekaligus menekan risiko arus modal keluar.

“Ketika biaya transaksi dan pengalaman perdagangan di dalam negeri belum cukup kompetitif, pengguna bisa memilih bertransaksi di exchange luar negeri. Ini berpotensi menyebabkan capital outflow dan mengurangi likuiditas di pasar domestik,” ujar Calvin dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).

COIN Dukung CFX Turunkan Biaya Transaksi Bursa Kripto

Diketahui CFX sebagai bursa berjangka aset kripto berencana memberikan keringanan biaya bagi anggotanya, yakni Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD). 

CFX menyatakan akan menurunkan biaya transaksi bursa dari 0,04% menjadi 0,02%, yang direncanakan berlaku mulai 1 Maret 2026. Kemudian akan diikuti penurunan selanjutnya menjadi 0,01% pada 1 Oktober 2026.

Menurut Calvin, kebijakan keringanan biaya dari bursa dapat memberi ruang bagi anggota PAKD untuk menghadirkan biaya yang lebih efisien bagi pengguna akhir. 

“Penurunan fee oleh CFX merupakan sinyal positif. Dengan biaya transaksi yang lebih rendah di level bursa, PAKD punya ruang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat likuiditas, dan mendorong transaksi tetap terjadi di Indonesia,” katanya.

Dengan rencana penurunan biaya transaksi bursa serta penguatan peran anggota PAKD dalam melayani masyarakat, Calvin berharap antusiasme publik terhadap kripto dapat kembali selaras dengan peningkatan nilai transaksi, sekaligus memperkuat posisi industri aset kripto Indonesia di kawasan.

Berdasarkan hasil riset Dataxet Sonar dalam laporan Indonesia’s Crypto Outlook 2026, volume percakapan kripto di media sosial meningkat sekitar 29,8% pada 2025 dibandingkan 2024.

Total engagement percakapan kripto mencapai 217,7 juta, sementara percakapan terkait blockchain mencatat 3,2 juta engagement dan Web3 sebesar 1,5 juta engagement.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat mayoritas pelaku usaha kripto di Indonesia masih belum mencetak keuntungan.

IHSG dan Rupiah Tertekan Usai Moody’s Pangkas Outlook Kredit Indonesia

Hingga akhir 2025, sekitar 72% Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) tercatat mengalami kerugian, meski jumlah pengguna kripto nasional terus meningkat.

Nilai transaksi aset kripto pada 2025 tercatat sebesar Rp 482,23 triliun, turun 25,9 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp 650,61 triliun. 

Penurunan ini terjadi meskipun jumlah investor kripto nasional tercatat mencapai 20,19 juta.

OJK menilai kondisi ini dipicu oleh belum optimalnya aktivitas transaksi di dalam negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *