Pertamina imbau masyarakat tak panic buying, jangan percaya hoaks BBM langka

Posted on

Subholding Downstream PT Pertamina Patra Niaga meminta masyarakat tidak mempercayai informasi tidak benar alias hoaks agar tidak terdorong melakukan panic buying bahan bakar minyak (BBM).

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, membenarkan fenomena panic buying terindikasi di wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Jawa Timur.

Untuk memitigasi hal tersebut, kata Roberth, perusahaan telah melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah setempat.

“Untuk daerah yang terpapar panic buying seperti di wilayah Sumut/Aceh, sudah bekerja sama dengan pimpinan daerah untuk menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu panic buying. Di Jawa Timur juga demikian,” ungkapnya saat dihubungi kumparan, Sabtu (7/3).

Selain itu, Roberth juga meminta masyarakat tidak memercayai hoaks yang beredar terkait kelangkaan pasokan BBM, meskipun di tengah eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran. Hal ini dinilai akan mengakibatkan risiko moral.

“Masyarakat jangan terpengaruh hoaks atau informasi yang berlalu-lalang yang tidak dapat dijamin kebenarannya. Justru kalau masyarakat tidak cek and ricek dan terpengaruh, ini malah akan menjadi moral hazard yang berdampak negatif,” tegas Roberth.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia juga mengimbau masyarakat agar tenang karena pemerintah telah mengusahakan ketersediaan pasokan energi, apalagi menjelang hari raya Idul Fitri.

“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak melakukan panic buying, tidak melakukan penimbunan yang nantinya justru bisa menyebabkan kelangkaan,” tegasnya.

Anggia juga menegaskan pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM bersubsidi, baik itu Pertalite atau Bio Solar di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia. Ia menyatakan masyarakat tidak perlu melakukan panic buying dan penimbunan.

“Selain memastikan stok BBM, pemerintah juga memastikan agar distribusi BBM ke daerah berjalan dengan lancar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia merespons isu panic buying BBM yang ramai di media sosial, menyusul kekhawatiran pasokan energi terganggu akibat perang Israel-Amerika Serikat dengan Iran dan ditutupnya Selat Hormuz.

“Kepada saudara-saudara saya sebangsa dan setanah air, dari Aceh sampai Papua. Saya ingin, ini sudah berkali-kali saya menjelaskan, bahwa kemampuan storage tempat penampung minyak kita sejak dahulu kala memang kapasitas tampungnya itu hanya 25 hari,” kata Bahlil di DPP Golkar, Jakarta, Jumat (6/3).

Ia menjelaskan, kapasitas penyimpanan minyak Indonesia memang sejak lama berada di kisaran tersebut dan bukan kondisi baru. Menurutnya, standar minimal cadangan nasional berada di atas 20 hari.

“Nah, standar minimal ketersediaan kita itu untuk standar nasional minimal harus di atas 20 hari. Sekarang minyak kita 23 hari. Jadi itu artinya bahwa standar kepemilikan kita, minyak kita itu aman. Jadi nggak perlu ada panik, nggak perlu. Suplai lancar,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *