
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rasa haru atas hasil survei global yang menempatkan Indonesia di peringkat pertama dunia dalam tingkat kebahagiaan rakyat.
Saat berpidato dalam agenda Perayaan Natal Nasional 2025, Prabowo mengungkapkan survei itu dilakukan oleh Harvard University dan lembaga riset Gallup di hampir 200 negara untuk mengukur tingkat kebahagiaan masyarakat.
“Negara nomor satu di dunia yang mengatakan rakyatnya bahagia adalah bangsa Indonesia,” kata Prabowo dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Senin (5/1).
Hasil survei itu, menurut Prabowo, menjadi hal yang sangat mengharukan. Sebab, sebagian besar rakyat Indonesia masih menjalani kehidupan yang sederhana dan belum sepenuhnya sejahtera secara ekonomi.
“Yang harus kami akui, keadaan yang belum sejahtera. Tetapi kalau ditanya, (tetapi masyarakat) masih mengatakan bahwa dia bahagia, ini membingungkan bangsa-bangsa lain dan mengharukan bagi saya,” kata Prabowo.
Dalam kesempatan itu, dia menekankan pentingnya rasa syukur dan persatuan bangsa di tengah situasi global yang saat ini diwarnai gejolak, konflik, dan perang di berbagai kawasan.
Di tengah situasi itu, dia mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersyukur karena bangsa Indonesia hingga kini tetap berada dalam keadaan damai.
“Sesungguhnya di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, penuh gejolak, perang di mana-mana, kita seharusnya bersyukur bahwa bangsa kita sampai hari ini mengalami keadaan damai,” ujar dia.
Benarkah Survei Harvard Sebut Masyarakat Indonesia Paling Bahagia di Dunia?
Presiden Prabowo tidak memerinci judul laporan yang dimaksud. Namun, riset terbaru The Global Flourishing Study (GFS) diterbitkan Universitas Harvard melalui jurnal Nature Mental Health pada 30 April 2025.
GFS adalah riset kolaboratif antara Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset global Gallup.
Riset itu menunjukkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan psikologis (flourishing) tertinggi di dunia. Indonesia mengungguli sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, hingga Jepang.
Studi berskala global itu menilai kesejahteraan psikologis masyarakat dari beragam latar budaya dan geografis.
Lebih dari 200 ribu responden di 22 negara terlibat dalam penelitian yang dilakukan oleh Human Flourishing Program Harvard bekerja sama dengan Institute for Studies of Religion di Baylor University, Gallup, dan Center for Open Science.
Penelitian GFS merilis dua daftar negara, yakni daftar kesejahteraan psikologis tanpa mempertimbangkan indikator finansial dan daftar kesejahteraan psikologis dengan memasukkan indikator finansial.
Indonesia menempati urutan pertama di kedua kategori ini.
Berikut peringkat lengkap 22 negara untuk kategori tanpa indikator finansial:
- Indonesia: 8,47%
- Meksiko: 8,19%
- Filipina: 8,11%
- Israel: 8,00%
- Nigeria: 7,82%
- Argentina: 7,79%
- Kenya: 7,77%
- Polandia: 7,63%
- Brazil: 7,63%
- Mesir: 7,63%
- Tanzania: 7,48%
- India: 7,43%
- Afrika Selatan: 7,41%
- Spanyol: 7,31%
- Amerika Serikat: 7,18%
- Hong Kong: 7,17%
- Jerman: 7,10%
- Swedia: 7,04%
- Australia: 7,02%
- Britania Raya: 6,88%
- Turki: 6,59%
- Jepang: 5,93%
Indonesia memimpin dengan skor 8,47%, posisi yang lebih unggul dari negara maju lain. Sementara Jepang berada di posisi terbawah dengan 5,93%.
Untuk versi penilaian yang mengikutsertakan faktor finansial pun menunjukkan hasil serupa, sebagai berikut:
- Indonesia: 8,10%
- Israel: 7,87%
- Filipina: 7,71%
- Meksiko: 7,64%
- Polandia: 7,55%
- Nigeria: 7,37%
- Mesir: 7,32%
- Kenya: 7,28%
- Tanzania: 7,19%
- Argentina: 7,14%
- Hong Kong: 7,12%
- Amerika Serikat: 7,11%
- Swedia: 7,10%
- Afrika Selatan: 7,07%
- Brazil: 7,02%
- Australia: 7,01%
- Jerman: 7,01%
- Spanyol: 6,90%
- India: 6,87%
- Britania Raya: 6,79%
- Turki: 6,32%
- Jepang: 5,89%
Pada versi ini, Indonesia memang mengalami sedikit penurunan nilai, namun posisinya tetap berada di peringkat teratas.
Israel naik ke posisi kedua, sementara Amerika Serikat meningkat ke urutan ke-12. Jepang kembali berada di posisi paling akhir.
Menurut tim peneliti, kesejahteraan psikologis tidak hanya diukur dari aspek finansial, tetapi juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, seperti:
- Kebahagiaan dan kepuasan hidup
- Kesehatan mental dan fisik
- Makna dan tujuan hidup
- Relasi sosial yang kuat
- Karakter dan kebajikan
- Stabilitas finansial
Laporan itu mencatat bahwa negara-negara maju umumnya unggul dari sisi finansial, namun cenderung lebih rendah dalam aspek spiritualitas dan hubungan sosial.
Sebaliknya, masyarakat Indonesia dinilai memiliki kekuatan besar pada kualitas hubungan sosial, rasa kebersamaan, serta karakter komunitas yang saling mendukung. Hal ini yang disebut berperan penting dalam meningkatkan rasa bahagia dan kebermaknaan hidup.
The Global Flourishing Study merupakan studi panel longitudinal selama lima tahun, dengan survei yang dilakukan setiap tahun untuk melihat perubahan dan tren kesejahteraan psikologis masyarakat global.
Dalam surveinya, responden tidak hanya diminta menjawab pertanyaan terkait kondisi mereka saat ini, tetapi juga pengalaman masa kecil yang diperkirakan berpengaruh terhadap tingkat kebermaknaan hidup di masa dewasa.
Melalui riset ini, hasilnya bertujuan memperluas pengetahuan masyarakat global mengenai distribusi dan penentu kebermaknaan hidup di seluruh dunia.



